
Cate dan Bram manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasan dari bi Sumi. Mereka akhirnya tau kalau wanita itu benar-benar sedang mengandung cucu mereka.
Mereka tentu senang bahwa sebentar lagi penerus mereka akan lahir, tapi di sisi lain mereka juga sedih karena Ander yang memiliki pemikiran yang sangat dangkal itu.
Mereka membebaskan Ander bukan untuk merusak kehidupan seseorang.
Wanita paru baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tidak lagi muda itu memijat pelipisnya pelan. Jujur saja dia sudah bingung memikirkan cara untuk meluruskan pola pikir anaknya yang sudah berbelok.
"Dimana gadis itu?" tanya Bram memecah keheningan.
"Nona ada di kamarnya Tuan besar. Tadi pagi setelah sarapan dia kembali mual-mual"
"Ayo mom, kita harus temui dia"
"Dimana kamarnya Sum?"
"Lantai 3 kamar pertama sebelah kiri Nyonya"
Sepasang suami istri itu akhirnya beranjak lalu menuju lantai atas menggunakan lift. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dulu, sang anak mempunyai mimpi yang sangat besar di mansion ini bersama dengan wanita pujaannya.
"Ini kamarnya dad, kita ketuk dulu"
Tok..tok..
__ADS_1
"Masuk!"
Cate meraih handle pintu matanya menangkap seorang gadis yang sedang meringkuk membelakanginya.
"Bi, bisa tolong carikan aku jeruk? Mulutku rasanya pahit"
Cate berbinar mendengarnya, itu pasti permintaan cucunya "Kau menginginkan jeruk sayang?"
Seketika Ziva menoleh ke asal suara dia mendapati sepasang suami istri usia senja yang sama sekali tidak dia kenali.
"Maaf, saya kira bi Sumi"
"Sudah sudah tiduran saja" larang Cate saat Ziva berusaha untuk duduk.
"Dad, kau dengar? Cucuku menginginkan buah jeruk, cepat carikan!"
"Ayolah, sebentar lagi kau akan menjadi granpa dad"
"Ah iya aku lupa, oke biar daddy carikan" pria paru baya itu bergegas keluar meninggalkan kedua wanita berbeda generasi itu.
Ziva melongo, dia mencoba mencerna percakapan keduanya. Cucuku? Granpa? ah iya dia tau siapa mereka ini.
"Apa masih ada yang sakit?"
"Tidak Nyonya, dan maaf saya sudah lancang"
__ADS_1
"Tidak apa" Cate mengelus perut buncit Ziva membuat sang empunya merasakan gelenyar aneh. Hangatnya sentuhan itu membuat hatinya tenang.
"Apa cucuku baik-baik saja?"
Ziva bergeming.
"Ah maaf kau pasti penasaran kan siapa aku. Aku ibunya Ander, calon ibu mertuamu"
"Ibu mertua?" tanya Ziva terkejut.
"Iya, ibu mertua. Kau tidak ingin menikah dengan Ander?" Ziva bergeleng. Sementara Cate mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku akan seperti apa jika menikah dengan pria itu"
"Apa kau takut dengannya?" Ziva diam, dia bingung harus menjawab apa.
"Bicaralah yang jujur padaku. Aku tau apa yang terjadi padamu hingga bisa mengandung cucuku. Untuk itu aku minta maaf atas kelakuan anakku. Aku yakin anak itu tidak pernah mengucapkan kata maaf kan?"
Ziva mengangguk mengiyakan.
"Karena itu jadikan aku sebagai temanmu. Ceritakan semua keluh kesahmu tentang anakku. Aku ibunya, aku kan mencoba mencari jalan keluarnya" ucap Cate bersungguh-sungguh.
Tangis Ziva luruh, pertahanan wanita hamil itu runtuh seketika. Sebagai sesama wanita Cate sangat mengerti dengan perasaan Ziva.
__ADS_1
Wanita itu meraih bahu rapuh calon menantunya. Ya, Cate berharap wanita itu bisa menjadi menantunya. Dia yakin, Ziva tidak seperti wanita mainan Ander yang lain.
Ziva mulai menceritakan semua keluh kesahnya atas Ander, dan Cate mendengarnya dengan sabar. Dengan sesekali memberikan semangat dan nasihat pada wanita hamil itu.