
"Aku pulang dulu Clara, terima kasih sudah menemaniku berbelanja hari ini. Rupanya kau orangnya asik"
"Ah iya tentu saja Ziva, kalau kau ingin kau boleh menghubungiku kapan saja. Aku pasti akan menemanimu dengan senang hati" balas Clara dengan senyum yang dipaksakan. Bagaimana bisa dia bersikap seramah ini disaat Ziva telah membuatnya kesal habis-habisan.
"Kau benar-benar baik Clara. Baiklah Suamiku, ayo kita pulang. Baby sepertinya sangat lelah"
"Oke sayang, ayo kita pulang"
"Bye Clara, sampai jumpa" pamitnya seraya melambaikan sebelah tangannya.
"Bye"
Saat ini mereka berpisah di basemen. Setelah mobil Ander dan Ziva hilang dari pandangannya barulah Clara dengan mengeluarkan semua kekesalan "Arrrgghhh sebenarnya ada apa dengan wanita kampung itu. Seharusnya aku yang memanas-manasinya bukan sebaliknya. Kau salah besar telah menantangku Ziva!"
Sementara di dalam mobil, Ander sedang tergelak karena merasa puas dengan pembalasan ala Ziva terhadap mantan calon istrinya itu.
"Kenapa kau terlihat senang sekali?" tanya Ziva keheranan.
"Aku suka gayamu sayang. Sesuai dengan rencana, membalas dengan elegan"
"Tentu saja. Tapi sayangnya kau terlalu lembek hingga aku sendiri yang harus turun tangan"
__ADS_1
"Bukan begitu honey aku.."
"Sudah An aku sedang tidak ingin mendengar apapun, aku lelah. Ternyata memberi mantanmu pelajaran sangat menguras tenagaku."
"Baiklah Ibu Ratu" Ander segera membungkam mulutnya rapat-rapat. Membiarkan istrinya untuk istirahat.
Saat sampai di mansion Ander tak membangunkan Ziva sesuai pesan wanita itu, ia mengangkat tubuh buncit istrinya sampai ke dalam kamar.
Dengan telaten Ander membuka flatshoes dan riasan rambut yang Ziva pakai, supaya tidur wanita itu menjadi lebih nyaman. Dipandangnya wajah cantik yang terlihat damai di alam mimpinya.
"Aku bangga padamu Zi. Disaat badai menerpa rumah tangga kita, kau justru maju menjadi yang paling depan untuk menghadangnya. I love you"
Seperti biasa, Ander meninggalkan kecupan lembut di kening. Pria itu bergegas mengganti pakaian dan ikut berbaring di samping istrinya.
-
-
Seminggu kemudian.
"Hello boy, jaga mommymu saat daddy bekerja ya. Jangan nakal okay"
__ADS_1
"Iya daddy, carilah uang yang banyak untukku" balas Ziva menirukan suara anak kecil. Ander tertawa mendengarnya, rasanya tak sabar menunggu Junior lahir.
"Kalau ingin ke kantor, ajak salah satu dari Jack atau Dark untuk mengawalmu"
Ziva mengerutkan kening karena tidak biasanya Ander memintanya untuk membawa bodyguard, lagipun hanya sebatas ke kantor kok.
"Tidak perlu An, kan ada Pak Fredi yang menyupiri sekaligus menjagaku sampai ke kantor. Kenapa memangnya? Tidak biasanya kau memintaku mengajak si botak"
Ander juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba meminta Ziva untuk membawa salah satu dari mereka "Tidak Zi. Baiklah minta Pak Fredi untuk berhati-hati saat di perjalanan"
"Iya sayang"
Saat mobil suaminya berjalan menjauh, barulah Ziva masuk ke dalam mansion. Wanita itu mencari keberadaan bi Sumi untuk memberitahukan menu makan siang Ander hari ini.
Hampir setiap hari dalam satu minggu ini Ziva selalu mengantar makan siang untuk suaminya. Selain karena bosan, juga dia tidak ingin mengambil resiko jika Clara tiba-tiba datang kesana.
Bicara tentang wanita itu, kemana dia ya? Setelah berpisah di mall kala itu Clara tak lagi menampakkan batang hidungnya.
Setelah memberitahu bi Sumi, Ziva memasuki ruang kerja suaminya lalu duduk di salah satu meja yang Ander sediakan khusus untuknya. Wanita itu tersenyum melihat banyaknya kertas yang Ander pajang di dinding.
Tangannya mengeluarkan beberapa kertas kosong dan sebuah pensil dari laci meja lalu mulai mencoret sesuatu disana. Bukan sembarang mencoret, wanita itu sedang membuat beberapa desain baju.
__ADS_1