Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Kejutan


__ADS_3

"An, kau bercanda?" tegur Ziva.


"Aku serius Zi"


Ziva seakan kehabisan kata-kata, kedua kakinya berjalan beriringan dengan si pemilik langkah lebar itu. Mulutnya masih terkunci tatkala Ander menuntunnya masuk ke dalam lift.


"Kenapa diam saja?" tanya Ander.


"Tentu saja aku diam, sebenarnya kau ini mengajakku berkencan atau bekerja?"


"Kau tidak mempercayaiku?"


"Entahlah, aku bingung" mood ibu hamilnya sudah mulai mendominasi. Tiba-tiba Ziva merasa kesal dengan Ander.


Hingga akhirnya kotak besi itu berhenti bergerak dan pintu liftnya terbuka. Ander memencet sebuah sensor sidik jari di kaca pembatas antara lift dan rooftop. Barulah pintu kaca tersebut terbuka.


"Astaga, apalagi ini" gerutu Ziva saat keluar. Hanya ada kegelapan di atas sana.


"An, kau.."


"An"


"An, jangan bercanda"


Disaat Ziva masih kebingungan karena Ander yang tiba-tiba menghilang, terdapat satu cahaya yang sepertinya memberi petunjuk. Dengan pelan, langkah ibu hamil itu mengikuti lampu demi lampu yang menyala beriringan dengan langkahnya.

__ADS_1


Hingga tibalah Ziva di sebuah rumah kaca, masih dengan kgelapan di dalamnya.


"An.." panggil Ziva lagi. Tapi tetap tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.


Hingga Ziva tiba-tiba dikejutkan dengan sebuket bunga mawar putih yang terlihat sangat indah yang disodorkan Ander dari arah belakang. Bersamaan dengan isi rumah kaca yang bercahaya dengan banyaknya lampu yang berkelap-kelip. Indah sekali.


"Just for you" ucap Ander saat Ziva berbalik menatapnya. Tapi bukannya menerima buket tersebut, Ziva malah melayangkan pukulan di dada bidang pria ini.


"Keterlaluan, kau tiba-tiba menghilang dan kau juga tiba-tiba datang" pekik Ziva diantara pukulannya.


"Aku benci padamu, kau ini menyebalkan!" teriaknya benar-benar kesal karena merasa dikerjai oleh pria itu.


"Zi, aku mohon diam dulu. Zi aku minta maaf aku tidak bermaksud membuatmu kesal aku hanya memberi kejutan untukmu. Zi tolong berhenti"


Nafas Ziva memburu setelah puas memukuli Ander dia akhirnya diam tapi tatapan matanya masih belum bersahabat.


Tapi tiba-tiba Ziva tertawa membuat Ander mengernyit bingung padahal satu menit yang lalu Ziva masih marah-marah padanya "Aku suka kejutannya, semua ini sungguh indah. Ayo kita masuk" ajak Ziva seraya menarik lengan Ander karena dia yakin akan ada kejutan lain di dalam sana.


Oh astaga, mood ibu hamil itu memang ajaib gumam Ander dalam hati.


Ziva menganga disaat melihat rumah kaca itu dari dalam, disana ada banyak bunga-bunga yang tumbuh. Semuanya berjejer dengan rapi dan beragam warna. Ditambah di dalam sana sudah disulap oleh berbagai macam pernak-pernik untuk dinner yang sudah Ander siapkan.


Terdapat sebuah meja makan bundar yang sudah dihias sedemikian rupa dengan lilin yang berada ditengah-tengah meja tersebut, tidak lupa ada beberapa menu makanan yang sudah dihidangkan.


"Kau suka?" tanya Ander membuyarkan lamunan Ziva.

__ADS_1


Ziva mengangguk antusias "Aku tidak tau kalau di kantor menyeramkan ini ada tempat yang seindah ini" komentar Ziva.


"Menyeramkan?"


"Iya, seperti pimpinannya" ucap Ziva apa adanya.


Oh God, beri aku kesabaran untuk menghadapinya Ander mulai frustasi.


"Ayo duduk" ajaknya seraya memundurkan salah satu kursi yang ada di meja makan tersebut.


Karena tidak ingin makanannya dingin, Ander akhirnya mengajak Ziva untuk makan terlebih dahulu.


"Aku tidak tahu kalau kau ternyata se feminim ini" celetuk Ziva saat selesai menyantap hidangannya.


"Kau bicara sembarangan Zi"


"Lalu, tempat ini?"


"Ini adalah rumah kaca milik Mommy. Disaat Daddy memimpin perusahaan, Mommy selalu menghabiskan waktunya disini jika Daddy sibuk bekerja. Selain agar dekat dekat Daddy, Mommy juga sangat menyukai tanaman. Lain kali aku akan mengajakmu ke mansion utama, rumah kaca disana lebih luas dari ini"


"Aku kira rumah kaca ini milikmu, lalu tentang semua ini? Siapa yang menyiapkannya?"


"Aku" jawab Ander jujur.


Ziva tidak menanggapi, wanita malah tertawa dengan jawaban Ander.

__ADS_1


"Sudah kuduga, kau pasti tidak akan mempercayainya" gerutu Ander seraya meneguk minumannya hingga tandas.


__ADS_2