
Kabar bahagia dari keluarga Gif langsung menjadi perbincangan publik. Mereka tidak menyangka jika pria semacam Ander akan menikah.
Banyak juga yang merasa kecewa karena gagal menjerat pangeran Gif itu dengan anak gadis mereka. Pasangan Ander juga menjadi bahan perbincangan, karena selama ini Ander tidak terlihat dekat dengan siapapun.
Mereka mengira mungkin ini adalah pernikahan bisnis atau kata lain adalah perjodohan. Semuanya ramai membahas tentang pewaris tunggal kerajaan Gif ini.
Siapa yang tidak mengenal seorang pria tampan berjuta pesona, segudang prestasi dan satu lagi berlimpah harta. Kriteria menantu idaman.
Bahkan ramainya berita tersebut sampai keluar negeri dan akhirnya sampai ke telinga seorang wanita yang sangat mengenal Ander.
-
-
-
Di tempat lain, di sebuah butik ternama langganan Cate sendiri. Wanita paru baya itu tengah sibuk membantu calon menantunya yang akan fitting gaun pengantin.
"Bagaimana sayang? Apa kau menyukainya modelnya?"
Model seperti itu sengaja dibuatkan agar sedikit menutup perut buncit Ziva.
Ziva yang kurang mengerti fashion hanya mengangguk mengiyakan. Apalagi sudah bisa ia yakini kalau baju yang saat ini sedang ia coba pasti berharga fantastis karena beberapa kelopak mutiara menghiasi corak gaunnya.
"Mom, dimana An? Bukankah dia harus fitting juga?" tanya Ziva yang baru saja mengganti bajunya seperti semula.
__ADS_1
"Mungkin dia masih di perjalanan, tunggu saja ya"
"Iya mom"
Dan benar saja pria yang baru saja dibicarakan akhirnya menampakkan batang hidungnya, pria itu datang dengan sebuah senyum yang terbit dari bibirnya.
"Maafkan aku, tadi ada sedikit kendala di jalan. Untung saja Rey datang cepat" sesal Ander seraya mencium pipi calon istrinya.
"Tidak apa-apa, aku sangat sabar menunggu. Lalu sekarang dimana Rey?"
"Sudah aku suruh pulang"
Ziva seketika cemberut membuat Ander panik "Ke-kenapa sayang? Ada yang salah?"
"Aku ingin bertemu Rey, tapi kau sudah menyuruhnya pergi"
"Tentu aku ingin curhat padanya, aku kan tidak punya teman"
"Kenapa harus ke dia kalau ada aku?"
"Ck, tentu saja An. Aku kan mau curhat tentang kamu, masa sama orangnya"
Cate dan pegawai butik terkekeh pelan melihat Ander yang tidak berkutik dengan jawaban wanita hamil itu.
"Sudahlah, jangan cemberut seperti itu. Bagaimana kalau kita membeli es krim setelah dari sini?" tawar Ander.
"Aku malas, cepatlah aku lelah ingin tidur" Ziva masih merajuk.
__ADS_1
Cate hanya memberi isyarat mata pada Ander supaya pria itu cepat-cepat menyelesaikan urusannya disini.
"Aku ke dalam dulu" Ander melabuhkan kecupan singkat di kening wanitanya lalu berlari ke ruang ganti. Membuat pipi Ziva merona seketika.
"Mom" rengek Ziva.
"Apa sayang? Kau menginginkan sesuatu?"
Ziva mengangguk "Bisakah kita meninggalkan Ander disini? Biarkan saja dia pulang sendiri"
"Loh kenapa?"
Ziva gelagapan "A-aku masih kesal padanya"
"Benar? Kesal atau malu?" goda Cate.
"Oh God, anak dan ibu sama aja"
"Panas mom, aku keluar sekarang ya" pamit Ziva sementara Cate hanya bergeleng melihatnya.
Seperti biasa, diluar akan ada Jack dan Dark yang siap mengikuti nona mereka kemanapun dia pergi.
"Apa kepala kalian tidak panas terkena sorot matahari seperti itu?" tanya Ziva seraya menunjuk kepala plontos milik kedua pengawalnya.
"Tidak Nona" jawab mereka berbarengan.
"Lain kali aku akan membelikan kalian obat menyubur rambut supaya kalian sedikit enak dipandang"
__ADS_1
"Kenapa semakin hari Nona Ziva semakin menyebalkan" jerit keduanya dalam hati.