
"Sudah nyaman?" tanya Dokter Mery.
"Sudah dok" jawab Ziva menahan nyeri.
"Tolong ikuti arahan dari saya, usahakan untuk tidak memejamkan mata saat mengejan dan jangan mengangkat pinggul. Atur nafas dengan baik ya?"
"Iya dok"
"Tarik nafas, keluarkan pelan-pelan dan dorong!" ucap Dokter Mery berkali-kali. Ziva terus mengikuti arahannya dengan baik. Peluh di dahinya mulai bercucuran karena dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong sebuah kehidupan yang akan melihat dunia.
Ander terus menggenggam jemari lentik Ziva dengan erat, bahkan pria itu juga ikut-ikutan mengejan.
"Sedikit lagi, tarik nafas, keluarkan dan dorong!"
Mata Ander mengembun saat mendengar suara tangisan seorang bayi yang merupakan anak pertamanya tapi bersamaan dengan itu, dia juga merasa panik karena Ziva yang tidak sadarkan diri. Mommy baru itu pingsan sesaat setelah berhasil mengeluarkan sang anak.
"Zi, sayang hei. Dokter, ada apa dengan istriku?" tanyanya panik.
"Tenang Der, Ziva pasti kelelahan" ucap Dokter Mery yang sedang menjahit jalan lahir Ziva yang sedikit robek.
"Aku akan memeriksanya"
Ander menyingkir mempersilahkan Dokter Mery untuk memeriksa wanitanya.
"Dokter, bayinya sudah selesai dibersihkan" ucap sang suster yang semula membantu persalinan Ziva.
__ADS_1
"Astaga, Daddy sampai lupa padamu boy saking paniknya melihat Mommy yang tiba-tiba pingsan" celetuk Ander membuat Dokter Mery dan suster itu rasanya ingin tertawa, tapi sebisa mungkin mereka menahannya.
"Dasar Daddy laknat" batin Dokter Mery.
"Berikan padaku sus" pinta Ander kemudian.
"Hati-hati Der, itu bukan boneka"
"Aku tahu Dok"
Suster itu memberikan arahan supaya Ander memposisikan tangannya dengan baik dan si baby juga bisa merasa nyaman. Baru setelah itu ia menyerahkannya pada Ander.
"Hallo boy. Oh astaga kau benar-benar tampan seperti Daddy" ucapnya pede.
Ander mengangguk mengerti, Daddy baru itu mendekatkan sang baby pada Mommynya "Zi, cepatlah sadar. Bukankah kau juga ingin segera bertemu dengan anak kita?"
-
-
Sementara diluar ruang persalinan Cate dan Bram tengah terlibat sebuah debat tentang nama cucu mereka nantinya.
"Aku yang akan memberi nama untuk cucu pertamaku"
"Tidak tidak, aku yang akan memberinya nama"
__ADS_1
"Tidak boleh! Kau nanti saja saat cucu kedua kita"
"Memangnya sebagus apa nama yang kau beri itu heuh?"
"Lihat saja, aku yakin Ander dan Ziva pasti akan sejutu dengan nama pemberianku"
Rey yang sedari tadi diam melihat kedua orang tua itu berdebat akhirnya tak tahan juga ingin menegur.
"Dad, Mom kalian ini pede sekali"
"Apa maksudmu?" Tanya mereka bersamaan membuat Rey berjingkat kaget.
"Ya memang benar, kalian ini pede sekali. Kurasa Ander tidak akan membiarkan kalian memberi nama pada anaknya, dia pasti sudah menyiapkan nama pemberiannya sendiri"
"Pokonya Ander harus setuju denganku!" Ucap mereka berbarengan lagi.
"Astaga, ya sudah kalau begitu kalian buat saja bayinya sendiri. Barulah kalian bisa bebas memberinya nama"
"Nah sepertinya ide Tuan Rey bagus Nyonya" sahut bi Sumi yang baru saja datang bersama dengan Marina.
-
-
Hi Readers. Ide nama yang bagus dong buat baby An dan Zi? Masa namanya Anzi kan gak lucu. Like, komen dan giftnya yupp biar author juga semangat namatinnya 🤣
__ADS_1