
"Tunggu disini, aku akan segera kembali"
Ziva mengangguk, wanita itu menatap kepergian mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Satu tangannya mengusap perutnya yang buncit "Maafkan mommy karena kau harus terlibat" gumamnya lirih.
Setengah jam berlalu Clara tak menampakkan batang hidungnya. Ziva berinisiatif untuk turun dari mobil dan menunggu diluar mobil. Pengap juga menunggu lama-lama.
Saat Ziva lengah tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang, Ziva memberontak tapi hanya sebentar karena obat bius itu kini bekerja hingga membuat Ziva lemas dan tidak sadarkan diri.
Seseorang berbaju hitam dengan topeng berwarna hitam itu memanggil rekannya untuk membantu mengangkat wanita itu karena berat. Padahal Ander saja masih kuat menggendong tubuh Ziva.
Saat mereka akan memasukkan Ziva ke dalam mobil tiba-tiba Clara datang, wanita itu memberi perlawanan tapi tetap saja kalah tenaga sampai membuatnya tersungkur di tanah.
Clara panik saat mobil yang membawa Ziva pergi, wanita itu berlari menuju mobilnya untuk turut mengejar mobil itu. Sialnya, saat sampai di persimpangan jalan, Clara kehilangan jejak.
Dia memutar arah menuju kantor GG, dia akan melaporkan kejadian ini pada Ander. Wanita itu berjalan tergesa-gesa menuju lobby. Tapi langkahnya terhenti saat security menghadangnya untuk tidak masuk.
"Maaf Nona, anda tidak diperbolehkan masuk"
"Apa-apaan ini? Menyingkir dari jalanku!"
"Maaf Nona, tapi Presdir melarang anda untuk masuk"
"Ini masalah penting aku harus bertemu dengannya"
__ADS_1
"Maaf tidak bisa Nona, silahkan pergi"
"Baiklah, panggilkan Presdirmu itu kemari sekarang juga"
"Ada apa ini kenapa kau membuat keributan di kantorku?" suara bariton itu menyahut.
"Der, Ziva diculik Der. Ayo cepat cari dia"
"Ck, kenapa aku harus mencarinya kalau dalangnya sudah ada disini?"
"Dalang? Maksudmu?"
Ander mengeratkan giginya, tangannya mencengkram pipi Clara sampai kulit putih itu terlihat memerah "Bukankah kau sendiri yang merekayasa semua ini hah?"
"Oh iya? Sayangnya aku tidak percaya" Ander melepaskan cengkramannya dengan kuat sampai membuat wanita itu tersungkur ke belakang. Dan betapa memalukannya dia karena saat ini sedang menjadi bahan tontonan.
"Bawa dia ke kantor polisi!"
"Der, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku tidak tahu apa-apa tentang penculikan ini Der!"
Ander menulikan pendengarannya seakan tidak ada belas kasih untuk wanita yang pernah ia cintai di masa lalu.
"Dimana istriku?" tanya Ander pada seseorang diseberang telepon.
__ADS_1
"Kami masih mengikuti mereka Tuan, sepertinya tujuannya adalah luar kota"
"Jangan sampai kehilangan jejak, aku akan segera menyusul"
"Baik Tuan"
"Zi, kumohon bertahanlah"
Ander meminta Rey untuk menemaninya. Pria itu sadar diri kalau dia tidak bisa fokus menyetir. Rey sebenarnya ingin marah tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Aku tidak ingin semua orang tahu tentang ini apalagi Mommy dan Daddy sebelum Ziva kembali dengan selamat"
"Jadi dimana wanita itu sekarang?"
"Sudah ku kirim ke kantor polisi"
"Kau yakin kalau dia adalah pelakunya?"
Tiba-tiba Ander bimbang "Aku tidak tahu tapi yang jelas satu-satunya orang yang bermasalah dengan aku apalagi dengan Ziva akhir-akhir ini adalah dia"
"Kau terlalu gegabah mengambil keputusan Der" Entah kenapa Rey sangat yakin kalau Clara bukanlah dalang dibalik kejadian ini.
...--...
__ADS_1
Lah trus siapa dong?