Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
An dan Zi


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hubungan antara Ander dan Ziva semakin baik. Ziva tak lagi sedingin dulu, begitupun dengan Ander pria itu sudah banyak berubah. Dia selalu mencurahkan perhatiannya padah Ziva dan anaknya.


Hari ini adalah jadwal Ziva untuk kembali mengecek kandungannya, wanita itu akan diantar oleh Ander langsung. Untuk yang pertama kalinya.


Pria yang sebentar lagi akan nenjadi ayah itu sangat antusias, dia bahkan rela membatalkan salah satu pertemuan pentingnya hanyq untuk mengantar Ziva ke dokter.


"Rey, kau urus sisanya. Aku harus cepat pulang karena Ziva pasti sudah menungguku" ucap Ander seraya menyerahkan beberapa berkas penting pada Rey.


"Baiklah, hati-hati di jalan Tuan"


"Ya"


Rey menatap punggung kekar Ander yang kian menghilang dibalik pintu lift. Pria itu tersenyum tipis, dia merasa senang melihat sahabatnya yang sepertinya akan segera menemukan kebahagiaannya.


"Dulu aku selalu menaruh harapanku pada Ziva, tapi sepertinya aku salah memilih lawan. Kaulah pemenangnya Der" gumam Rey.


-


-


-


Ander melajukan mobilnya dengan cepat. Karena Ziva sudah mengabarinya kalau sebentar lagi dia akan siap. Ander tak ingin membuat wanitanya menunggu.

__ADS_1


"Cepat sekali kau datang" ucap Ziva yang baru saja keluar dari lift. Wanita hamil itu menggunakan dress hamil selutut bermodel kimono dengan sebuah pita di perut buncitnya. Tak lupa Ziva juga mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut pita juga berwarna senada. Wanita hamil itu terlihat menggemaskan.


"Hei, kau melamun?"


"Ah..tidak tidak. Kau sudah siap? Ayo kita pergi"


"Sebentar, kau yakin akan mengantarku? Sepertinya kau kelelahan"


"Tentu saja aku akan mengantarmu, ayo cepat. Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu Zi"


"Kau yakin?" tanya Ziva sekali lagi.


"Kau terlalu banyak bicara, ayo cepat. Mommy sudah mendaftarkanmu tadi pagi jangan sampai kita terlewat nomor antrian"


"Apa kabar dengan Rey? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya" tanya Ziva memecah keheningan.


"Dia baik" sahut Ander datar. Entah kenapa dia paling tidak suka jika Ziva membahas tentang pria itu.


"Biasanya dia akan datang dan membawakanku makanan. Tapi sudah lama sekali dia tidak mengunjungiku"


"Memangnya kau ingin makanan apa? Kau boleh memintanya padaku"


Ziva tertawa mendengarnya. Membuat dahi Ander berkerut.

__ADS_1


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Jelas aku tertawa, karena jika aku meminta sesuatu padamu kau juga tetap akan mengandalkan Rey"


"Siapa bilang? Aku bisa membelinya sendiri. Kau bilang saja padaku, aku akan mengabulkannya dengan tenagaku sendiri" ucap Ander sombong


"Baiklah, lain kali aku akan meminta sesuatu padamu. Junior, cepatlah meminta sesuatu. Untuk kali ini katanya Daddy yang akan menurutinya" ucap Ziva seraya mengelus perut buncitnya.


"Kau dengan juniornya daddy? Jadi cepatlah meminta sesuatu"


"Kau aneh, diluar sana justru banyak sekali suami yang paling malas jika harus berurusan dengan masalah ngidam, apalagi ngidamnya yang aneh-aneh"


"Tapi sayangnya aku bukan seorang suami" celetuk Ander yang membuat Ziva bungkam.


"Maaf aku tidak bermaksud.."


"Diamlah dan cepat, jika kau mengemudi mobilnya seperti ini kita bisa habis waktu seharian untuk sampai disana"


"Aku takut kau kesakitan jika aku mengemudi dengan kencang"


"Kau berlebihan An, yang ada aku akan mual-mual jika harus berlama-lama di dalam mobil"


"Astaga, baiklah"

__ADS_1


__ADS_2