Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Berdamai


__ADS_3

Ziva hanya diam. Sungguh dia tidak percaya seorang Anderson Gif yang terkenal arogan dan sombong saat ini sedang meminta maaf padanya.


"I'm sorry" ucap Ander lagi dengan tulus.


Ziva langsung memalingkan wajahnya ketika tatapan mereka bertemu, entah kenapa dia seperti melihat ketulusan disana. Tapi tentu Ziva tak ingin terlena begitu saja.


Dan sebenarnya saat ini Ander sedang mengumpati dirinya sendiri karena dia sudah merendahkan harga dirinya sebagai pria di depan orang lain. Tapi entah kenapa dia merasa lega setelah mengucap kata maaf.


"Aku sudah memaafkanmu" ucap Ziva setengah hati.


"Benarkah?" tanya Ander lagi.


"Ya."


"Lalu, kenapa bunganya tidak kau terima?"


"Apa setelah aku terima bunganya kau akan pergi?" usir Ziva secara halus.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji akan berdamai denganku"


Sumpah demi apapun, Ziva sangat ingin mengutuk Ander saat itu juga. Di dalam hatinya Ziva tak berhenti mengumpat karena merasa jengah dengan kelakuan pria itu.


Jujur, dia lebih menyukai Ander yang garang dan cuek daripada yang so manis seperti ini. Sungguh menjijikan.


Ander kembali menyodorkan buket bunga yang dibawanya "Terima ini kalau kau setuju untuk berdamai denganku"


Ziva menarik nafasnya dalam, dengan sedikit terpaksa akhirnya Ziva menerima buket itu.


"Thanks"


"Karena aku sudah berjanji akan pergi setelah kau setuju untuk berdamai. Jadi aku akan pergi sekarang"

__ADS_1


"Ya, cepatlah pergi" ucap Ziva terang-terangan.


"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu dan anak kita dengan baik" pesannya. Pria itu akhirnya berbalik dan pergi.


Sukses. Ucapan Ander sukses membuat jantung Ziva berdegub dengan kencang "Astaga ada apa dengan jantungku"


-


-


-


Tiga hari berlalu, Ander tidak kembali ke mansion. Pria itu kabarnya sedang sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia tetap menyempatkan waktu hanya untuk sekedar mengirim pesan singkat pada Ziva untuk menanyakan keadaan keduanya.


Sedikit perhatian sudah mulai Ander perlihatkan, dan itu membuat Ziva jengah sendiri. Jika bukan karena terlanjur berjanji untuk berdamai, Ziva lebih baik bermusuhan selamanya.


Tok..tok..tok..


Ceklek.


"Ada apa bi?"


"Nona, Tuan dan Nyonya Gif akan datang"


"Ah, benarkah?"


"Mungkin 10 menit lagi mereka sampai"


"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu"


"Iya nona"

__ADS_1


Bi Sumi berbalik untuk kembali ke dapur, dia akan membuat makanan untuk menjamu Bram dan Cate.


Dan benar saja, selang beberapa menit suara deru mobil sudah terdengar di halaman rumah. Bi Sumi bergegas untuk menyambut tak lupa ia mematikan kompor terlebih dahulu.


"Selamat datang Tuan, Nyonya"


"Terima kasih Sum, dimana menantuku?"


"Ah..maksudku calon menantuku" ralat Cate lagi.


"Nona sedang mandi nyonya"


"Oh ya sudah, tolong ambil koperku di mobil ya"


"Koper?" beo Bi Sumi.


"Iya, aku akan menginap disini beberapa hari"


"Ah baik nyonya"


"Ayo dad, kita pilih kamarnya"


"Kau yakin akan menginap disini?" tanya Bram.


"Sepanjang perjalanan kau terus mengulang pertanyaan yang sama dad"


"Tentu, karena ini bukan rencana awal mom. Bagaimana kalau anak menyebalkan itu kemari? Nanti dia akan tahu kalau kita sebenarnya sudah tahu semuanya"


"Itulah alasan mommy. Selain ingin mencairkan kutub yang ada dihati menantu kita, mommy juga ingin cepat memergoki anak itu. Ini sudah hampir satu bulan tapi anak itu justru semakin menghindar"


"Ya karena anakmu itu pengecut"

__ADS_1


"Diamlah dad, kau hanya perlu menonton!"


__ADS_2