
Tidak ingin mengambil resiko, Ander memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit. Meskipun Dokter sudah menjelaskan bagaimana perbedaan kontraksi palsu dan kontraksi asli, tetap saja calon Daddy itu khawatir tidak bisa membedakan.
Akhirnya Cate memesan sebuah kamar VVIP untuk ditempati Ziva selama berada di rumah sakit.
"Kau membuat panik semua orang" gerutu Cate menggeplak kepala anaknya.
"Kenapa Mommy memukulku?"
"Kau tahu tidak aku ini panik saat melihat menantuku seperti itu"
"Aku juga panik Mom dan mana aku tahu kalau itu kontraksi palsu, aku kan belum pernah melahirkan. Harusnya Mommy yang lebih tahu"
"Ah iya, kau benar juga" Cate langsung diam. Benar ucapan Ander seharusnya dia yang lebih tahu, karena dulu saat akan melahirkan Ander dia juga sempat mengalami kontraksi palsu. Akibat panik jadi dia tidak ingat apa-apa.
"Ya sudah, Mommy dan Bibi keluar dulu. Kita belum makan apa-apa dari rumah, kalian mau titip apa?"
"Aku tidak nafsu makan Mom"
"Kau harus makan Zia" tegur Marina.
"Bibi benar Zi, kau harus punya tenaga yang cukup saat melahirkan nanti"
"Ya sudah terserah kalian saja"
Kedua wanita paru baya itu akhirnya keluar. Tapi tak berselang lama pintu kembali didorong dari luar.
"Kenapa balik la..?"
__ADS_1
"Hallo bos!" sapa Rey kikuk.
"Heh, ada apa kau kemari?"
"Aku mendengar kabar dari bi Sumi kalau Ziva mengalami kontraksi,makanya aku langsung kesini tapi kata resepsionis Ziva dipindahkan ke ruangan ini. Jadi aku ada disini"
"Ck, siapa suruh kau datang kesini? Bukannya pergi ke kantor dan kerja"
"Ini weekend bos, makanya aku datang kesini"
"Eh, ya tetap saja. Sana pulang mau apa kau disini hah"
"Astaga, sudah tidak apa An, Rey juga sudah terlanjur disini" celetuk Ziva menengahi perdebatan yang menurutnya tak penting itu.
"Tapi Zi.."
"Sudah An diam. Kemarilah, usap perutku seperti tadi."
"Tidak apa Ziva"
"Awas kau ya" cetus Ander sengit.
Rey hanya tersenyum tanpa dosa. Sungguh menggemaskan disaat seorang Anderson menjadi seposesif itu. Ander memang mengira kalau Rey masih memiliki rasa pada Ziva, padahal rasa itu sudah habis tak tersisa seiring berjalannya waktu. Saat ini Rey hanya menganggap Ziva sebagai adik, tidak lebih.
"Bi Sumi bilang kalian pergi bersama Mommy dan Bibi Marina, lalu dimana mereka?"
"Ke bawah!" sahut Ander judes.
__ADS_1
"Ada apa di bawah?"
"Membeli sarapan!"
"Oh,memangnya kalian belum sarapan? Tahu begitu aku bawa makanan tadi"
"Ck, kau ini banyak bicara. Bisa diam tidak? Lihatlah istriku sedang mencoba untuk tidur!" Ander mulai kesal.
"An, diamlah. Aku baru saja akan terlelap"
"Bukan aku Zi, Rey yang tidak bisa diam"
"Kau yang berbicara keras An"
"Ya sudah baiklah, aku diam"
Rey hanya bisa menahan tawanya saat bos yang selama ini paling disegani banyak orang ternyata bisa kalah juga jika berhadapan dengan seorang wanita.
Sial, aku jadi mengingat seseorang gerutunya dalam hati.
"Aku ingin ke kamar mandi dulu. Jaga Ziva sebentar, awas kau kalau macam-macam" ucap Ander membuyarkan lamunannya.
"Kau bisa mengandalkan aku"
"Ck, menyebalkan sekali"
"Terus saja kau mengumpatku. Dasar orang tak tahu berterima kasih"
__ADS_1
"Siapa suruh kau datang kesini!"
"Ya sudah cepat sana! Kau ini cerewet sekali"