
"Sayang, kau sudah sadar?" panggil Ander saat Ziva mulai mengerjapkan matanya. Saat ini mereka sedang berada di bilik IGD salah satu rumah sakit di kota ini. Dan sudah hampir 2 jam lamanya Ziva tidak sadarkan diri dan itu membuat Ander khawatir.
"An"
"Aku disini Zi"
Ziva mulai mengingat kilas balik disaat dirinya dibekap oleh seseorang"An, tadi aku.."
"Tenanglah. Aku sudah membereskan mereka"
"Apa benar semuanya ulah Clara An?"
Ander sampai lupa pada Clara yang saat ini mungkin masih tertahan di kantor polisi "Apa kau mengenal Mike?"
"Mike? Kenapa kau bertanya tentangnya?"
"Dialah otak dari penculikanmu ini"
"Hah Mike? Bagaimana bisa?"
"Seperti yang aku dengar, dia sangat terobsesi pada istriku ini. Sampai dia nekat menculikmu dan yang paling parahnya lagi dia dibantu oleh teman lamamu, Tara. Kau masih ingat padanya bukan?"
Ziva membulatkan matanya tidak percaya, dia kira Mike sudah melupakannya termasuk juga dengan Tara. Tapi apa ini? Mereka kembali muncul setelah sekian lama.
"Dimana mereka sekarang An?"
"Sepertinya Rey membawa mereka ke kantor polisi"
"Aku akan menemui mereka nanti. Lalu Clara bagaimana? Terakhir kali aku bersamanya"
"Aku gegabah saat mendengar kau pergi dengan Clara lalu mendengar kabar kalau kau diculik, aku meminta polisi untuk menahannya"
__ADS_1
"Astaga An, ayo kita harus kembali"
"Tapi Zi kau baru saja sadar"
"Aku baik-baik saja An, aku akan merasa berdosa jika membiarkan Clara ditahan seperti itu"
"Baiklah sebentar, biar aku bantu kau turun"
"Tidak perlu, aku kuat berjalan sendiri An"
Ander dan Ziva kembali ke kota, begitupun Rey yang meminta Mike dan Tara dibawa ke kantor polisi yang berada di kotanya.
Keduanya saling menghubungi dan akan bertemu saat di kantor polisi nanti. Ziva menanti perjalanan dengan gelisah.
"Apa ada yang sakit?" tanya Ander khawatir, pria itu menurunkan kecepatan mobilnya untuk menepi.
"Tidak Der cepat lanjutkan perjalanannya. Aku hanya tidak sabar untuk segera sampai, aku sudah berburuk sangka padanya An"
"Tenanglah Zi. Kita akan meminta maaf padanya" Ander sangat tahu suasana hati istrinya yang selembut kapas ini.
"Zi, berhati-hatilah!"
Ziva yang ditegur refleks menghentikan langkah kakinya yang akan sampai di pintu masuk "Maafkan Mommy Nak"
"Jangan seperti ini,kau akan membahayakan dirimu sendiri"
"Iya, maafkan aku An"
Ander menggandeng tangan istrinya untuk masuk, saat sampai di dalam netranya bertemu dengan mata tajam Robert yang menatap benci padanya. Tapi sekuat mungkin dia berusaha untuk tidak membuat masalah dengan Ander sesuai permintaan putrinya.
"Tuan Robert"
__ADS_1
"Bebaskan Putri saya" ujar Robert tak ingin berbasa-basi.
"Saya akan.."
"Apa anda ayahnya Clara?" tanya Ziva memotong perkataan suaminya.
"Ya"
"Maafkan saya Tuan, semua ini terjadi karena saya. Maaf sudah membuat Clara berada dalam tahanan seperti ini sa-saya.."
"Sudah Zi, lebih baik kita mempercepat proses keluarnya Clara"
"Sebentar An aku.."
"Tuan Ander benar, putriku sudah ketakutan di dalam sana"
"Benarkah? Baiklah ayo cepat An"
Ander dan Ziva mempercepat proses pencabutan laporannya dan segera membebaskan Clara. Saat Clara keluar dari tahanan, wanita itu langsung ditarik oleh ayahnya untuk dibawa pulang. Tapi Ziva menahannya.
"Clara, aku mohon maafkan aku dan suamiku"
Clara tersenyum tulus, jelas sekali dari raut wajahnya tidak menyimpan dendam lagi "Tidak apa-apa Ziva, semua ini memang salahku. Akhir-akhir ini aku sering berbuat masalah dengan kalian, wajar saja kalian mengira aku akan berbuat jahat padamu"
"Tapi Clara sungguh, aku merasa sangat bersalah padamu. Aku sudah berburuk sangka padamu. Ku mohon maafkan aku"
"Clara ayo cepat" tegur Robert tidak sabaran.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, maafkan aku Ziva. Aku sudah membuat masalah dengan hadir diantara kalian. Aku berjanji mulai saat ini aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Dan maaf aku harus pergi sekarang, berbahagialah"
Ziva menatap Clara yang ditarik oleh ayahnya menuju mobil.
__ADS_1
"An"
"Aku yakin dia sudah memaafkan kita Zi"