Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Terima Kasih


__ADS_3

"Tidak perlu bi, aku sudah tidak menginginkannya sekarang" tolak Ziva.


"Kenapa? Bukankah anakku yang menginginkannya, aku tidak ingin kau egois karena terlalu benci kepadaku tapi tidak memperdulikan anakku" sahut Ander tidak suka.


Bi Sumi sampai melongo mendengarnya. Sebelumnya Ander sudah membaca sebuah artikel yang menjelaskan tentang kehamilan. Dari sanalah dia tahu bahwa meski masih berada di dalam perut, anaknya akan menginginkan sesuatu melewati ibunya yang disebut ngidam.


"Kau terlalu so tau" decih Ziva tak suka.


Tapi Ander tetaplah Ander sifat pemaksa seakan sudah mendarah daging.


"Kau hanya perlu berdiri dan bergaya sesukamu, biar bi Sumi yang memotret"


Tidak ingin memperpanjang perdebatan Ander akhirnya pergi dari sana meninggalkan ponsel mahalnya di tangan bi Sumi.


Ziva yang memang dasarnya sangat ingin berswafoto akhirnya bergaya dengan bebas setelah Ander pergi. Sedari kecil dia belum pernah berlibur seperti ini.


"Di penginapan nanti langsung pindahkan fotonya ke ponselku bi, pastikan fotoku terhapus di ponsel pria itu"


"Ander nona, pria yang nona maksud memiliki nama"


"Ya, ya terserah bibi saja"


-


-


-


Setelah sampai di penginapan Ziva segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, tidak lupa dia memberikan ponselnya terlebih dahulu ke bi Sumi.

__ADS_1


Bi Sumi yang kurang mengerti tentang ponsel akhirnya meminta bantuan Ander, apalagi keadaan ponsel itu terkunci setelah layarnya mati.


"Terima Kasih Tuan" ucap bi Sumi setelah Ander membantunya memindahkan foto tersebut.


"Hm"


Sepeninggal bi Sumi, Ander segera membuka sebuah aplikasi penyimpan data atau media yang sebelumnya dia hapus di depan bi Sumi. Kemudian memulihkannya kembali.


Sementara di pusat kota di salah satu mansion megah sepasang suami istri sedang fokus memperhatikan sebuah potret yang dikirim anak buahnya.


"Apa anak itu sedang jatuh cinta lagi?"


"Kurasa begitu. Dia tidak mungkin rela pergi kesana tanpa alasan"


"Benar sekali, aku harap begitu"


"Aku salut pada calon menantuku, dia tidak mudah terlena dengan pesona anakku yang jauh diatas rata-rata"


"Ya, dan aku harus memadamkan api kebencian itu di dalam dirinya. Aku ingin mereka menikah sebelum cucuku lahir ke dunia"


"Kau hanya mempunyai waktu sekitar 4 bulan lagi honey"


"Aku akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin"


-


-


-

__ADS_1


"Bibi yakin fotoku sudah terhapus di ponselnya?"


"Yakin non, malahan tadi bibi lihat sendiri waktu Tuan Ander menghapusnya"


"Baiklah, terima kasih bi"


"Sama-sama non, bibi ijin ke kamar dulu"


"Iya bi"


Wanita hamil itu terlalu asik dengan layar ponsel di depannya sehingga tidak melihat keadaan disekitarnya.


Sreek.


"Ahh.."


Hap.


Refleks. Ziva menutup kedua matanya karena terkejut. Hampir saja dia terjatuh saat melewati tangga kecil yang menjadi penghubung ruangan ke ruangan lain.


"Kenapa kau ceroboh sekali?" kesal seseorang yang berhasil menangkapmya sebelum terjatuh. Yang tak lain adalah Ander.


Sadar bahwa dia sedang berada di dalam pelukan Ander akhirnya berdiri dan menghindar. Wanita itu hanya memandang datar lalu pergi.


"Apa tidak bisa kau mengucap terima kasih?"


Ziva berhenti sejenak. Lalu membalik badan menghadap Ander.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Karena aku sudah membantumu"


Ziva tersenyum remeh "Lalu, apa kabar dengan seseorang yang sudah menghancurkan hidupku tapi tidak pernah mengucap kata maaf padaku?"


__ADS_2