
"Tuan" sapa Rey yang baru saja sampai.
"Rey?"
"Iya Tuan"
"Panggil aku seperti biasa, aku sedang ingin berbicara denganmu sebagai sahabat bukan sebagai atasan dan bawahan"
"Baiklah" Rey menurut saja.
"Sepertinya kau membutuhkan liburan" komentar Ander seraya melangkahkan kakinya keluar karena lift sudah berhenti di lantai yang dituju.
Rey tertawa mendengarnya "Darimana kau tahu?"
"Jelas aku tahu, bukankah selama ini kau selalu bekerja untukku?"
"Kau memang bos yang menyebalkan , kau bahkan tidak membiarkanku libur walau satu hari saja"
"Oh begitu? Tadinya aku ingin memberimu cuti selama satu minggu. Tapi karena kau mengumpatku maka keputusanku berubah"
"Eh mana boleh seperti itu. Jika kau mengijinkan aku untuk cuti maka aku akan langsung cuti hari ini juga"
"Cih, setelah mengumpatku kau juga ingin cuti lebih cepat?"
"Ayolah Der, kau pasti sangat tahu kalau hidupku ini sangat sulit" Rey mulai merengek.
"Baru saja kau menunjukkan kewibawaanmu sebagai sekretaris GG dan sekarang kau merengek seperti anak kecil?"
"Sudah aku sangka kalau semua ini adalah prank" Rey tak lagi ingin mengobrol, pria itu langsung membalik badan menuju ke ruangannya.
"Cepatlah, minta surat cutinya sekarang sebelum aku berubah pikiran!"
"Yes!!"
__ADS_1
Ander menggeleng melihat tingkah kekanakan salah satu sahabatnya itu, yang selama ini tidak pernah jauh darinya meski dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Ander benar-benar mengijinkan Rey untuk cuti, semua pekerjaan dia handle seorang diri. Tibalah sore hari, jam pulang kerja tersisa beberapa menit lagi. Ander segera meraih benda pipih berlayar enam koma tujuh inci itu untuk menghubungi sang istri tercinta.
Panggilan pertama tidak ada yang menjawab.
Panggilan kedua juga tidak ada yang menjawab.
Ander akhirnya berpindah kontak, dia akan menghubungi ponsel Marina saja. Beruntung panggilannya langsung dijawab.
"Hallo Der"
"Hallo Bi, apa Zi bersama bibi?"
"Iya dia ada disini, tunggu sebentar"
"Hallo An"
"Hallo Sayang, apa yang sedang kau lakukan hm?"
"Baiklah. Oh iya aku hanya ingin mengabari kalau hari ini aku akan pulang terlambat karena Rey kuberi cuti jadi semua pekerjaan aku handle sendiri"
"Apa sampai larut malam?"
"Tidak sayang, aku usahakan pulang secepatnya ya"
"Baiklah, jaga dirimu"
"Hm, tunggu aku pulang"
Panggilan terputus, Ander mengambil nafasnya dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Ini terakhir kalinya aku membohongimu Zi"
__ADS_1
Ander lantas berdiri dia membereskan semua berkas yang baru saja dia kerjakan. Pria itu harus segera pergi dan menuntaskan semuanya supaya keluarganya tenang dan tentram.
-
-
-
"Der.." panggil seorang wanita.
Ander yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil akhirnya urung, pria itu menoleh untuk melihat siapa orang yang berani memanggilnya seakrab itu.
Deg.
Wanita itu berjalan dengan anggun menghampiri sang mantan kekasih, ah bukan. Sang mantan calon suaminya yang beberapa tahun lalu dia khianati.
"Ada perlu apa kau datang kesini?" suara Ander mulai terdengar berat. Menandakan pria itu sedang menahan amarahnya.
"Apa ada larangan untukku datang kesini?"
"Jangan berbasa-basi. Cepat ucapkan apa maumu?"
"Hei tenanglah. Kenapa kau terlihat marah sekali? Kurasa kau tidak perlu seperti ini. Bukankah semuanya hanya masa lalu?"
"Baiklah kurasa tidak ada pembahasan penting disini. Kau masih ingat kan gerbang keluarnya di sebelah mana?"
"Tentu aku ingat. Kisah cinta kita juga aku masih mengingatnya tapi sayang saat ini kau sudah dimiliki orang lain"
Ander menggeram kesal. Pria itu sudah berusaha meredam amarahnya tapi sepertinya wanita itu semakin menguras kesabarannya.
"Kau pergi sendiri atau ku seret kau keluar!"
"Hei, kau galak sekali. Dimana Anderku yang dulu sangat lemah lembut?"
__ADS_1
"Clara!!"
Wanita itu terkekeh "Baiklah. Aku kesini hanya untuk memberikan ini, ini adalah kado pernikahan dariku" ucapnya dengan menyodorkan sebuah paperbag yang sedari tadi dia genggam.