Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Takluk


__ADS_3

Ziva mendiamkan Ander di sepanjang perjalanan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju arah pulang.


Ander tak henti-hentinya mencuri pandang pada sang calon istri sementara Ziva masih setia dengan posisinya yang hampir saja mencium kaca mobil.


"Sayang, apa kaca mobil itu lebih menarik dariku?" tanya Ander yang merasa gemas dengan kelakuan Ziva. Tapi rupanya Ziva masih memasang mode senyapnya.


Hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi kini sudah berhenti di depan mansion utama. Ya, sejak Ziva menerima lamaran Ander. Cate segera membawa calon menantunya ke mansion utama. Rencananya Cate dan Bram juga akan memberikan mansion lain yang jauh lebih sempurna dari mansion sebelumnya sebagai hadiah dari mereka untuk calon menantunya.


"Kenapa kau mengikutiku" tanya Ziva ketus.


"Bukankah ini mansion Mommy? Dan itu artinya mansionku juga" jawab Ander santai.


"Terserah kau saja"


Grepp.


"Jangan marah-marah terus. Aku minta maaf jika menurutmu aku salah"


Namun Ziva malah terisak "Kau tidak salah, aku yang salah karena terlalu berlebihan"


"Tidak sayang, aku yang salah maafkan aku. Jangan menangis lagi. Aku akan menelepon Rey ya, bukankah kau ingin curhat tentangku padanya?"


Ziva terkekeh karena bisa menangkap suara kecemburuan disana lalu keluarlah sebuah ide di kepalanya "Tidak mau. Aku sudah tidak mau. Sekarang aku ingin.."


"Apa yang kau inginkan hm? Aku berjanji akan memenuhinya"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Apapun untukmu"


Ziva kemudian berbisik, dia sedang mengutarakan keinginannya. Tapi saat itu juga kedua mata Ander membola mendengarnya.


"Zi, lebih baik aku memberimu uang satu miliar untuk dihabiskan dalam waktu 1 jam saja daripada aku harus menuruti keinginanmu itu"


"Ya sudah aku juga tidak memaksa kok" kesal Ziva seraya membalik badannya untuk pergi tapi tangan besar Ander tak membiarkannya segitu saja.


"Baiklah, aku akan menurutinya"


Mata wanita hamil itu berbinar mendengarnya "Benarkah?"


"Iya Nyonya Anderson"


"Sebentar aku akan panggil Pak Roki dulu"


Ziva menjawab dengan rentetan giginya "Iya maaf aku lupa"


Setelah meminta sesuatu pada Pak Roki sekarang Ziva dan Ander sedang berada di kamar tamu.


"Cepat An, aku sudah tidak sabar"


"Kau yakin Zi? Apa kau tidak kasihan padaku?"


"Sedari tadi aku sudah bilang ya sudah aku juga tidak memaksa kok" Ziva memasang mode merajuk.


"Oh God, rasanya aku ingin mati saja" ucap Ander seraya mengamati barang yang diminta Ziva untuk dia pakai.

__ADS_1


Dengan langkah berat Ander berlalu menuju walk in closet, sementara Ziva sedang menunggu dengan sesekali terkikik geli.


Lima belas menit berlalu tapi Ander masih belum keluar dari ruang ganti, membuat Ziva berdecak sebal karena sepertinya Ander tidak akan menuruti keinginannya.


Tapi tiba-tiba pintu walk in closet terbuka dan tampaklah seorang pria tampan perawakan tinggi tegap dengan setelan pelayan yang sudah tentunya sangat kekecilan di tubuh kekarnya.


Tawa Ziva meledak saat itu juga, wanita hamil itu tak henti-hentinya menertawai calon suaminya. Bahkan Ziva sampai memegangi perut karena tak bisa berhenti tertawa.


"Zi, apa sakit?" Ander mulai khawatir. Sementara Ziva menggelengkan kepalanya.


"Hahahahahaha, tidak An aku tidak apa-apa. Hahahahahaha"


"Kau yakin?"


"Ya, aku yakin. Baiklah ayo cepat keluar"


"Keluar?" beo Ander.


"Iya, keluar. Kau harus mengelilingi seisi mansion dengan penampilan seperti ini"


"Tapi Zi, tadi kau hanya menyuruhku untuk memakai baju pelayan di depanmu saja" protes Ander tidak terima.


"No, sekarang permintaannya berubah. Sudahlah ayo cepat An"


"Zi.." panggil Ander dengan tatapan memelas.


Sementara Ziva hanya menatapnya tajam membuat nyali seorang Ander menciut. Entah sihir apa yang Ziva punya, yang jelas saat ini dia benar-benar takluk dengan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2