
Dua minggu berlalu, semua orang sudah kembali ke aktifitasnya masing masing.
Ander juga sudah kembali bekerja dan Ziva sudah mulai mengikuti kelas senam untuk ibu hamil, Cate dan Bram juga sibuk dengan travelingnya ke beberapa negara, dan Marina kini sudah dibiarkan tinggal dengan Ziva karena ingin menjaga keponakan satu-satunya itu.
"Bibi, ayo makanlah"
"Zia, kau harus menjaga pola makanmu. Jangan makan berlebihan seperti itu nak"
"Tapi bibi, macaroni ini sangat enak"
"Iya bibi tahu, tapi kelebihan berat badan saat hamil itu tidak baik Zi. Bibi lihat semakin hari porsi makanmu semakin bertambah"
"Satu cup lagi bi, aku janji"
Marina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau seorang anak perempuan yang diamanatkan kakaknya beberapa tahun lalu kini sudah tumbuh besar menjadi seorang wanita cantik dan kuat, dan dalam waktu beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ibu.
Dia sungguh menyesal karena telah membiarkan keponakannya hidup dalam tekanan yang dilakukan oleh mendiang suaminya.
Sebuah obsesi yang membuat mendiang suaminya menjadi gelap mata hingga dengan teganya akan menjadikan keponakan istrinya untuk menebus hutang. Marina tentu tidak berdaya apa-apa, dia tidak berani membantah suaminya yang terkenal dengan ringan tangan itu. Sungguh Marina merasa bersalah dengan kejadian dan kejadian yang Ziva alami setelah itu.
Tapi penyesalan tidak akan mengembalikan semuanya bukan? Maka dari itu dia akan berusaha untuk menebus semua kesalahannya dan juga kesalahan suaminya.
"Miss Deby sebentar lagi sampai, kau harus segera bersiap-siap"
"Rasanya baru kemarin aku senam, kenapa hari ini senam lagi bi?"
"Bilang saja kau malas"
__ADS_1
Ziva hanya menjawab ucapan ucapan Marina dengan rentetan gigi. Mau tidak mau dia akhirnya bangkit dari duduknya untuk berganti pakaian. Karena hari ini adalah jadwal senam hamil.
Sebenarnya dia malas, dia hanya ingin duduk saja lalu mengemil. Tapi demi kesehatannya dan juga babynya Ziva membuang semua rasa malas itu.
Tiga puluh menit berlalu, Miss Deby sudah datang dan saat ini Ziva sedang meniru semua gerakan yang wanita paru baya itu peragakan.
"Honey" suara bariton itu mulai terdengar, Ziva tentu tahu siapa pelakunya.
"Aku disini sayang" balas Ziva berteriak.
Kaki tegas Ander berbelok menuju ke asal suara istrinya. Tanpa melepas jas yang masih melekat di tubuhnya pria itu berjalan kian mendekat setelah melihat istrinya yang sedang mengikuti setiap gerakan Miss Deby.
Cup.
"Kebiasaan" cibir Ziva setengah kaget karena Ander tiba-tiba muncul dan mencium tengkuknya.
Miss Deby menggeleng melihat interaksi keduanya "Selamat Sore Tuan"
"Selamat Sore Miss, apa aku akan ikut serta pada senam kali ini?"
"Tentu saja, tapi sebaiknya anda berganti pakaian dulu"
"Baiklah, tunggu sebentar"
"Aku ke atas sebentar sayang" pamitnya.
Cup.
__ADS_1
"An!!!"
-
-
-
"Welcome to home my princess" sambut seorang pria paru baya yang teramat sangat merindukan putri semata wayangnya.
"Thank you papa. Aku sangat merindukanmu"
"Akhirnya kau kembali ke negara ini sayang. Papa sangat kesepian disini"
"Benarkah? Bukankah aku ini sangat merepotkan?"
"Tentu tidak. Kau ini adalah princess kesayanganku. Maafkan papa, karena lelaki brengsek itu hidupmu menjadi tak tentu arah"
"Sudahlah pa, semuanya sudah berlalu. Apalagi saat ini dia sudah menikah bukan?"
"Ya, kau benar. Dia bahkan terlihat sangat bahagia dengan pasangannya itu. Berbeda denganmu yang justru merasa terpuruk karena kekacauan yang dia lakukan"
"I'm oke pa"
"Tetap saja aku masih belum menerima semua perlakuannya sampai saat ini. Aku tidak rela melihatnya bahagia"
Wanita itu hanya tersenyum tipis dan membatin "Untuk itulah aku kembali pa"
__ADS_1