Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Mual


__ADS_3

Sebenarnya Ziva mendengar semuanya. Dia terjaga sejak saat Ander mengajak anaknya untuk berbicara. Ziva sengaja tidak membuka kedua matanya agar Ander mengira jika dia tidur nyenyak tak terganggu sedikitpun.


Ander mengajak anaknya berbicara seolah-olah anaknya itu bisa mendengar dan juga menjawabnya. Terdengar suara kebahagiaan disana yang membuat Ziva terharu dibuatnya. Rupanya kasih sayang Ander terhadap darah dagingnya bukan omong kosong belaka.


Ziva baru membuka matanya disaat Ander keluar dari kamarnya setelah hampir setengah jam berceloteh dengan perut buncitnya.


Ziva menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup dengan rapat "Kau senang nak?" kini dia yang mengajak anaknya untuk berbicara.


"Mungkin ini saatnya aku untuk sedikit membuka diri untuknya. Mungkin benar ucapan bi Sumi dan Mommy bahwa dia sudah mulai berubah"


Dia ingat betul disaat Ander berjanji pada anaknya bahwa dia akan mulai menerima Mommynya. Entah kenapa Ziva merasa senang mendengarnya.


-


-


-


"Mom.." panggil Ziva disaat dia melihat Cate yang sedang berkutat di dapur.


"Kau sudah bangun?"


"Ya mom. Mommy sedang apa?"


"Aku akan memasak menu spesial hari ini. Jadi aku bangun lebih awal"


"Kenapa tidak bi Sumi saja?"


"Karena ini adalah satu-satunya masakanku yang Ander sukai. Sudah lama aku tidak memasak untuknya"


"Oh, baiklah. Boleh aku membantu?"


"No, kau diam saja disana. Aku akan memasaknya dengan cepat. Oh iya mommy sampai lupa dengan belanjaan kita kemarin. Bagaimana kalau setelah ini kita menata perlengkapan baby di kamarnya?"

__ADS_1


"Iya mom, lagian aku bosan. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini" keluh Ziva.


"Aku tahu betapa membosankannya disaat kita terbiasa bekerja tapi sekarang justru kita dipaksa untuk berdiam diri apalagi dalam keadaan hamil. Karena aku juga pernah berada di posisimu"


"Benarkah mom?"


"Ya, kau tau? Aku ini juga berasal dari keluarga sederhana sama sepertimu, dulu aku juga bekerja keras sepertimu. Hingga akhirnya aku bertemu Bram, pria yang menerima aku apa adanya. Hingga terjadilah seperti ini, aku menjadi nyonya padahal dulu aku bukanlah siapa-siapa"


"Tapi sayangnya, jalan hidupku tidak seberuntung mommy"


Cate yang mengerti dengan arah pembicaraan Ziva akhirnya mendekat. Ia merangkul bahu calon menantunya dengan sayang.


"Setiap orang mempunyai takdir hidupnya masing-masing. Setiap kejadian pasti ada sisi baiknya"


"Ya mom, aku sedang berusaha untuk itu"


Mereka tenggelam dalam percakapan hangat layaknya ibu dan putri kandung. Hingga setengah jam kemudian barulah masakan Cate matang dan kini bi Sumi sedang menatanya di meja makan.


"Mommy memasak sup ayam makaroni untukmu"


Ander menatap makanan yang tersedia, rupanya benar makanan kesukaannya ada disana.


"Terima kasih mom"


"Heh, ku rasa kau sudah lupa caranya berterima kasih" celetuk Bram yang membuat Cate menatapnya tajam.


"Dad..ini masih pagi. Jangan merusak suasana"


"Aku hanya sedikit kaget"


Cate menggelengkan kepalanya "Sudah ayo cepat dimakan"


Mereka akhirnya sarapan dengan diam. Satu suap Ziva aman. Suapan kedua masih aman. Namun disaat suapan ketiga Ziva malah berhenti. Dan itu tidak luput dari tatapan Ander.

__ADS_1


"Kau mual?" tanya Ander memastikan.


"Sedikit"


"Ya sudah tidak perlu dilanjutkan makannya, kau bisa makan yang lain"


"Tapi aku masih ingin memakannya, sup ayam ini enak sekali" untuk pertama kalinya Ziva berbicara sedikit panjang dan tanpa marah-marah.


"Kau bisa memakannya lain kali"


"Iya sayang, kalau mual tidak perlu dimakan lagi" sahut Cate membenarkan ucapan anaknya.


"Minum dulu" Ander menyodorkan segelas air putih dan Ziva langsung menerimanya.


"Ayo aku antar ke kamar"


"Tidak mau"


"Kenapa?"


"Aku ingin ke belakang saja"


Ander kebingungan kenapa Ziva jadi meminta untuk ke belakang.


"Jika mual di pagi hari, Nona Ziva lebih nyaman di belakang Tuan lebih tepatnya di pinggir kolam renang" terang bi Sumi yang mengerti dengan kebingungan Tuannya.


"Ayo cepat antarkan menantuku ke sana!" perintah Bram karena Ander tak kunjung bergerak.


"Mau aku gendong?" tawarnya.


"Tidak perlu, aku masih kuat berjalan"


Suatu perkembangan yang sangat baik bukan?

__ADS_1


__ADS_2