
Ander langsung memencet bel dengan tidak sabar. Pria itu tentu tidak tenang.
Dan tampaklah seorang wanita dengan hanya memakai piyama yang terlihat sangat berantakan, kantung mata wanita itu bahkan terlihat menghitam.
"Kau datang?" tanya wanita itu dengan tatapan berbinar.
Tak menunggu waktu lama lagi Ander segera menyeret wanita itu masuk dan menutup pintu. Dia membanting tubuh wanita yang tiga bulan lalu masih menghangatkan ranjangnya.
Dia kemudian melempar paperbag yang ia bawa tepat di depan wajah wanita yang sedang merintih kesakitan itu.
"Jelaskan apa maksudmu!!" ucap Ander berteriak.
Wanita itu tersenyum miring lalu dengan beraninya dia kemudian berdiri dan menatap Ander tajam "Ku tau kau pasti mengerti maksudku Tuan Anderson yang terhormat"
"Omong kosong apa ini hah!! Kau pikir aku percaya dengan drama buatanmu ini!!"
"Kau mungkin tidak percaya, tapi kau terusik! Makanya kau datang padaku. Benar kann?"
Ander membeo, ya dia sangat terusik bahkan pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi pikirannya.
"Kau mengingat malam dimana kita bercinta di Club sayang?"
Deg.
Ya, dia mengingat malam itu.
__ADS_1
Flashback On
"Kau mau kemana?" tanya Rose saat melihat Ander sudah memakai bajunya kembali padahal baru saja 15 menit yang lalu mereka menyelesaikan kegiatan panasnya.
"Club"
"Boleh aku ikut?"
"Kau bisa pergi sendiri"
"Aku hanya menumpang. Setelah disana kita akan terpisah, aku malas mengemudi sendiri"
"Cepatlah!"
Mereka akhirnya berangkat ke club bersama. Sesampainya disana sesuai dengan omongan Rose mereka kemudian terpisah.
"Hei kau, antarkan minuman ini pada pria itu" titah Rose pada salah satu bartender.
"Baik Nona"
Tanpa Ander sadari dia telah meminum minuman yang dicampur obat perangsang oleh Rose. Tak lama kemudian dia merasa tubuhnya sangat panas. Keringat mulai mengucur deras. Dan adik kecilnya meronta-ronta.
"Ah sial!!"
Dua wanita yang semula menemani Ander minum bisa membaca kondisi pelanggannya yang sedang tidak baik-baik saja dan mereka tentu tidak akan menyia-nyiakan hal tersebut.
__ADS_1
"Kami akan membawa anda ke atas Tuan"
Keduanya membopong tubuh kekar itu ke salah satu ruang VIP di lantai tiga. Sementara Rose hanya mengikuti saja dari belakang. Sesampainya di dalam kamar tiba-tiba Rose masuk dan mengusir mereka berdua, hanya dengan melemparkan segepok uang saja mereka langsung mundur.
Sementara Ander yang merasa kepanasan hanya bisa menggeliat di atas ranjang seakan ada sesuatu yang menggelitikinya.
"Kenapa kau malah pergi dariku sayang? Apa kau tidak puas dengan servis yang aku berikan?"
"Persetan Rose, aku menginginkanmu" keluh Ander yang langsung membanting tubuh langsing Rose di ranjang.
"Oh sh*it pengamanku tertinggal di mobil"
Tanpa pikir panjang Ander langsung memasukkan senjatanya, dia sudah menginginkan pelepasan. Namun dikarenakan obat perangsang itu tercampur dengan obat tidur. Pria itu ambruk sebelum mendapatkan pelepasannya.
"Maaf Sayang, aku hanya tidak ingin kau mendapat kepuasan dari wanita lain" ucap Rose seraya mengusap rahang pria itu.
Ketidak sadaran Ander lah yang sedang dia manfaatkan saat ini.
Flashback Off
"Berhenti dengan segala obsesimu itu Rose, aku akan menikah dan aku juga akan segera memiliki anak. Jangan kau harap kau bisa merusak semuanya!"
Rose tercengang mendengarnya, rupanya calon istrinya itu sudah hamil duluan. Ah tidak tidak ini tidak bisa dibiarkan.
Rose kemudian menangis tersedu-sedu guna mendapatkan empati dari Ander "Kau menerimanya atau tidak, yang penting aku sudah memberitahumu tentang kehadirannya disini"
__ADS_1