
Tidak terasa, ternyata umur kehamilan Ziva sudah memasuki bulan ke sembilan. Wanita itu kini mulai kesusahan walau hanya sekedar berjalan saja. Ander juga sudah mengambil cuti, dia tidak ingin melewatkan satu momenpun bersama sang istri yang tengah hamil tua.
Begitupun dengan Cate dan Bram, sekarang mereka menempati salah satu kamar kosong yang ada di mansion Ander dan Ziva. Mereka selalu menjaga menantunya dengan sangat baik.
Masalah Mike dan Tara sudah dijatuhi hukuman yang diputuskan oleh pengadilan. Sementara Clara kabarnya wanita itu kembali ke luar negeri untuk meneruskan kembali studinya.
Saat ini Ander sedang mengantar Ziva untuk jalan-jalan pagi di sekitar mansion. Tidak menggunakan buggy car seperti biasa, karena dokter menganjurkannya untuk berjalan kaki saja, dia bilang itu akan mempermudah persalinan Ziva nantinya. Bahkan Ziva sengaja tidak menggunakan alas kaki.
"An"
"Iya sayang?"
"Sebenarnya aku takut"
"Apa yang kau takutkan hm?"
"Ini persalinan pertamaku dan aku.."
"Semuanya akan baik-baik saja Zi, percaya padaku"
"Bagaimanapun kondisiku nanti, kau harus selalu menemaniku An"
__ADS_1
Deg.
Ander menggeleng untuk menghalau semua pikiran buruk yang berada di kepalanya "Tentu saja Zi, aku akan menemanimu saat melahirnya junior nanti. Dan tenanglah, semuanya pasti baik-baik saja. Kau dan junior pasti akan sehat dan selamat"
"Aku harap begitu" Ziva menyenderkan kepalanya di bahu kekar Ander. Ander mengelus surai istrinya dengan lembut.
"Maaf karena aku kau harus mengandung seperti ini bahkan disaat jiwa dan mentalmu belum siap untuk menjadi ibu"
Ziva mengangkat kepalanya, netranya menatap manik abu milik suaminya lalu menggeleng "Mungkin cara pertemuan kita memang salah, tapi yang jelas aku tidak menyesal telah mengandung keturunanmu dan menjadi seorang istri dari Anderson Gif yang terkenal arogan dan seorang cassanova"
"Kenapa kau menjelaskan begitu rinci hm? Itu dulu" Ander merasa gemas karena Ziva seakan sedang mengungkit masa lalunya.
"Memang dulu, siapa bilang sekarang?"
"Bukankah Dokter menganjurkan untuk sering berhubungan juga?" tanya Ziva dengan senyuman menggoda.
"Dasar tidak kenal tempat" gerutu Ander karena adik kecilnya sudah meronta dibalik celana pendek yang ia pakai.
Ziva tertawa terbahak, wanita itu segera berdiri dan sedikit berlari walau terasa kesulitan meninggalkan suaminya yang memasang wajah mupeng. Muka pengen.
"Awas saja kau Zi"
__ADS_1
-
-
-
Setelah menjalani ritual pagi bersama sang istri tercinta, saat ini Ander sedang berada di dalam kamar baby yang sudah Ziva atur sebelumnya. Kamar itu terhubung langsung dengan kamar utama. Ibu hamil ini merengek ingin mengubah posisi di dalamnya.
Ander menuruti semua intruksi dari Ziva "Begini sayang?"
"Iya sudah begitu saja"
Akhirnya Ander bisa bernafas dengan lega, setelah hampir 30 menit lamanya dia mencari posisi yang pas untuk letak ranjang dan lemari.
"Tunggu An, tempatnya dekat sekali dengan jendela. Kasihan nanti junior kedinginan kalau ranjangnya di sebelah situ"
Calon daddy itu kembali dibuat pusing, dia sudah memutar-mutar letak ranjang tapi Ziva masih belum setuju dengan posisinya.
"Sepertinya tidak usah di ubah An, posisi awal kayanya lebih pas deh" komentar Ziva kemudian. Membuat Ander rasanya ingin pingsan saja.
"Astaga Zi" gerutu Ander. Tapi raut wajah ibu hamil itu tak memperlihatkan rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
...---...
Detik-detik terakhir guys, jangan lupa like komen dan vote ❤️