Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Anak?


__ADS_3

"Kau melamun?" tanya Rey pada Ziva yang saat ini sedang menikmati angin segar di balkon kamar rawatnya.


"Sedikit" jawab Ziva dengan senyum terbaiknya.


"Bagaimana keadaanmu?" padahal Rey sudah menanyakan keadaan Ziva terlebih dahulu ke bi Sumi.


"Aku baik, bahkan kata dokter aku sudah boleh pulang. Tapi aku tidak tau akan pulang kemana" senyum yang semula terbit kini sudah tenggelam lagi.


"Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu"


"Apa itu?"


"Berjanjilah dulu, setelah kau mendengarnya kau tidak akan membenci semua hal yang ada di dalam hidupmu. Kau harus lebih menyayanginya"


"Kau membuatku penasaran saja"


"Ayo, berjanji dulu" ucap Rey memperlihatkan jari kelingkingnya.


"Oke, aku berjanji" ucap Ziva kemudian menyatukan jari kelingkingnnya bersama milik Rey.


Rey menarik nafasnya dalam sebelum berbicara, dia jadi gugup sendiri seolah-olah dialah yang melakukan kesalahan itu pada Ziva.

__ADS_1


"Sebenarnya kau.." ucapannya tergantung karena suara dobrakan pintu dari luar. Rey memang sengaja mengunci pintu agar tidak ada orang yang mengganggu percakapannya dengan Ziva.


Pria yang sangat mengerikan bagi Ziva datang kembali bersama dengan si kembar botak.


Bi Sumi tergopoh-gopoh masuk ke dalam menghampiri Rey "Maafkan bibi, bibi tidak bisa menahan mereka"


Sementara Ziva hanya menatap pria itu dingin seolah-olah dia sedang membentengi dirinya sendiri.


"Der, ini bukan waktu yang tepat" protes Rey.


"Diamlah kau tidak punya urusan dengan masalahku yang satu ini"


"Hei kau, wanita sakit. Mulai hari ini kau akan tinggal di mansionku!"


"Jelas ada, apakah Rey belum memberitahukan masalah yang sebenarnya? "


"Tidak ada, masalah kita ku anggap selesai. Bebaskan aku mulai sekarang!" ketus dan dingin.


"Sebelumnya aku memang akan membebaskanmu, tapi anak yang ada di dalam perutmu membuatku berubah pikiran!"


Terasa sesak di dada, matanya membulat sempura, sementara satu tangannya menyentuh perutnya yang masih terlihat rata tapi keras.

__ADS_1


"A-anak?" lidahnya serasa tercekat.


"Iya, bibit yang tidak sengaja aku keluarkan di dalam rahimmu. Dia sedang berkembang disana" benar-benar tidak berfilter.


"Der, kau ini apa-apaan kenapa kau memberi tahunya seperti itu. Itu bisa membuatnya syok dan berakibat pada kandungannya!"


"Salah kau sendiri yang terlambat memberitahunya. Lagipula kalau anak itu benar anakku, maka dia tidak akan selemah itu"


Benteng pertahannya yang semula dia bangun, akhirnya runtuh sia-sia.


"Tidak!!! Aku tidak mau anak ini aku tidak mau!!" teriak Ziva frustasi tangannya memukul-mukul perutnya.


Bi Sumi segera bertindak, wanita paru baya itu menenangkan Ziva yang pasti sangat terpukul dia mencoba menggapai tangan Ziva agar berhenti memukuli perutnya. Rey juga tidak tinggal diam "Hei, kau sudah berjanji padaku kau tidak akan membenci semua hal di dalam hidupmu"


"Aku tidak menginginkan anak ini. Terlebih dia adalah keturunan pria brengsek sepertinya!" tunjuk Ziva penuh amarah.


Sementara Ander hanya menatapnya tanpa rasa bersalah "Hei kau, panggil dokter untuk memberinya suntikan obat penenang. Aku tidak ingin anakku kenapa-napa"


"Baik Tuan" salah satu dari si botak pun keluar dari ruangan.


Sampai dokter datangpun Ziva masih berteriak histeris dan dokter terpaksa memberinya obat penenang hingga akhirnya tertidur.

__ADS_1


"Saya minta dengan sangat untuk menjaga mental nona Ziva, kalau tidak dia akan mengalami gangguan mental yang sangat fatal" ucap Dokter sebelum meninggalkan ruangan.


Rey rasanya ingin meninju Ander lagi tapi urung "Kau dengar ucapan Dokter tidak? Kurasa pendengaranmu tidak bermasalah. Apa dengan cara seperti ini kau akan bertanggung jawab hah? Kau ingin jika anakmu itu mempunyai ibu yang mentalnya terganggu?"


__ADS_2