
Hari ini Ziva mengajak Ander untuk pergi ke mall. Beralasan ingin jalan-jalan sekalian membeli kebutuhan baby yang belum tersedia.
Ander menurut saja, pria itu mengambil sebuah T-Shirt berwarna putih beserta celana jeans pendek dipadukan dengan jaket kemeja yang bagian tangannya ia gulung sampai ke siku.
Tak lupa ia juga melingkarkan sebuah jam tangan mewah di pergelangan tangannya serta memakai sepatu sneakers mewah untuk menunjang penampilannya hari ini.
Dari sini Ziva sadar kenapa banyak wanita yang begitu mendambakan suaminya.
"Apa penampilanmu tidak terlalu berlebihan Der?" jika saja Ander peka, pria itu pasti akan tahu kalau sebenarnya Ziva tidak ingin penampilannya terlalu sempurna seperti itu.
"Apa ada yang salah?" Benar kan. Cowok itu memang susah peka.
"Tidak ada, ya sudah ayo berangkat" ketus Ziva kemudian. Membuat Ander kebingungan lagi karena merasa tidak ada yang salah.
"Kau terlihat sangat cantik" puji Ander saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobil. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah pipi wanita kesayangannya dan melabuhkan satu kecupan disana yang membuat senyum Ziva kembali mengembang.
"Dasar mood ibu hamil" hela Ander dalam hati.
Saat sampai di mall, Ander segera menggandeng tangan istrinya erat seperti seorang ibu yang takut anaknya hilang dari pengawasan.
"An, tanganku sakit"
"Maafkan aku, baiklah kita seperti ini saja ya" Ander berganti posisi, sekarang dia mendaratkan tangannya di bokong sang istri.
__ADS_1
"An"
"Jangan memprotes sayang, ayo kita berbelanja"
Ziva hanya bisa pasrah. Mereka mulai memasuki sebuah baby store untuk mencari perlengkapan baby yang belum ada. Saat Ziva hanya membelinya satu atau dua, Ander malah menyuruh pelayan untuk memasukkan semua stok yang ada pada belanjaannya.
Pria itu juga membeli banyak baju newborn yang menurutnya lucu. Padahal Cate juga sudah membeli banyak waktu itu.
"Ini pemborosan An" gerutu Ziva saat kasir menyebutkan jumlah total keseluruhan.
"Ini belum seberapa Zi, setelah ini kita akan membeli mainan baby"
Ziva memelototkan matanya saat Ander bilang kalau uang yang ia keluarkan itu bukan seberapa. Dulu, uang sebanyak itu bisa ia gunakan untuk hidup selama satu tahun.
Ziva berjalan malas saat Ander mengajaknya masuk ke toko mainan, pria itu memborong semua mainan baby yang di rekomendasikan pelayan toko. Padahal mana mungkin bayi baru lahir bisa langsung main mainan?
Saat Ander membayar semua belanjaannya, mata Ziva menangkap seseorang yang sangat ia kenali sedang berjalan menuju ke sebuah bag store terkenal di mall ini.
Ziva buru-buru menarik Ander keluar dari sana, dia mengajak Ander untuk masuk ke bag store yang sama.
Saat masuk, Ziva berpura-pura tidak melihat siapa-siapa. Dia mengajak Ander untuk memilih tas yang sebenarnya tidak terlalu ia suka, sampai sapaan seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Ander, Ziva"
__ADS_1
Keduanya serempak menoleh "Eh hai Clara, kita bertemu lagi" balas Ziva tak kalah ramah. Ander hanya meringis melihatnya.
"Wah kebetulan sekali, apa kau sedang mencari tas?"
"Tentu saja, bukankah ini bag store?" jawab Ziva telak membuat Clara sontak kebingungan.
"Em, tas disini sepertinya stok lama. Coba kau lihat etalase yang ada disana, itu barang baru dan mungkin ada salah satu tas yang kau suka"
"Benarkah? Baiklah aku ingin melihatnya. Em ngomong-ngomong cara bicaramu sudah seperti pelayan toko saja" cetus Ziva, membuat Ander yang tadinya diam sekarang berusaha menahan tawa.
Sementara Clara merasa geram mendengarnya, ingin sekali ia menggeplak mulut wanita yang sudah berani mengata-ngatainya ini.
"Haha kau bisa saja, ayo" Clara menarik tangan Ziva seraya mengedipkan matanya pada Ander. Pria itu bergidik jijik. Dia kemudian mengikuti istrinya yang ditarik oleh Clara, takut terjadi apa-apa.
"Kau lihat yang ini, sangat cantik bukan?"
"Iya, dari desain dan warna tas ini terlihat sangat cantik" komentar Ziva.
"Sebenarnya aku juga sedang memilih tas tapi tiba-tiba aku bingung. Apa kau bisa memilihkannya untukku Der? Kau sangat tahu seleraku kan?" tanya Clara memancing Ziva.
Tapi rupanya Ziva malah menanggapinya dengan tersenyum "Tentu suamiku akan lebih mengetahui selera istrinya, benar kan sayang?"
Seolah itu adalah kode, Ander akhirnya mengeluarkan suaranya "Tentu saja sayang, kau kan istriku. Satu-satunya wanita yang sangat aku sayangi" sahut Ander seraya mengendus pundak harum istrinya.
__ADS_1
"Suamiku, ini tempat umum. Malu lah apalagi ada Clara disini"
Clara menggeram kesal, niat hati ingin membuat Ziva panas tapi justru dia sendiri yang merasa kepanasan.