Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Target Utama


__ADS_3

Tok..tok..tok..


Saat fokusnya sedang berada pada gambar di depannya, kali ini fokus Ziva beralih pada pintu yang diketuk.


"Masuk"


Rupanya yang mengetuk pintu itu Marina "Zia, sebentar lagi masuk jam makan siang. Makanan untuk Ander juga sudah siap"


"Benarkah bi? Ah ternyata benar, aku terlalu fokus dengan gambar-gambarku hingga lupa waktu"


"Ya sudah cepatlah bersiap, bibi akan memberitahu Pak Fredi untuk menyiapkan mobil"


"Iya bi"


Ziva membereskan semua gambar yang ia buat. Dia memisahkan gambar yang sudah selesai ke dalam sebuah map untuk disoltir oleh Cate nantinya.


Ya, Cate akan membuka sebuah butik untuk dirinya,Marina dan juga Ziva. Ziva ditugaskan untuk mendesain gaun-gaun di butik tersebut, Marina diberi tugas untuk menjahit, sementara Cate yang akan mengurus sisanya.


Ketiga wanita itu ingin mengisi waktu luang mereka dengan hal yang bermanfaat. Disaat orang kaya menjadi lebih kaya guys🤣


"Aku pamit bi"


"Iya sayang. Pak Fredi tolong hati-hati ya"


"Baik Bu"


Saat mobil melaju mencapai setengah jalan, tiba-tiba saja mobil yang Ziva tumpangi mengalami sedikit guncangan dan mulai tidak stabil. Ziva meringis sakit karena Pak Fredi menginjak rem mendadak.


"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Pak Fredi khawatir.


"Tidak apa Pak. Sebenarnya ada apa?"


"Sepertinya ban mobilnya bocor Nona. Sebentar saya cek dulu" Pak Fredi bergegas turun untuk memastikan. Tapi rupanya dugaannya itu benar.


"Bagaimana pak?"


"Benar Nona, ban mobilnya bocor. Saya harus menggantinya terlebih dahulu"

__ADS_1


Ziva mengecek jam di pergelangan tangannya, 10 menit lagi jam makan siang tiba.


"Tolong panggilkan taksi saja pak"


"Baik Nona"


Saat Pak Fredi kebingungan karena tidak ada satupun taksi yang melintas. Tiba-tiba ada satu mobil yang berhenti.


Ziva mengerutkan keningnya penasaran, dia menajamkan penglihatannya. Tapi bibirnya tersenyum sinis saat melihat siapa yang datang.


"Pak Fredi"


"Non Clara?" jawab Pak Fredi yang memang mengetahui Clara dari bertahun-tahun lalu saat masih bersama Ander.


"Ada masalah pak?"


"Ban mobilnya bocor Nona"


"Bapak sendiri?"


"Clara?"


"Hei, lama tidak berjumpa"


"Iya seminggu ini kita tidak saling bertemu"


"Aku sedikit sibuk. Oh iya kalian sebenarnya mau kemana?"


"Ke kantor An"


"Kebetulan jalur kita sama, kau boleh ikut bersamaku"


"Tidak perlu Clar. Aku tidak mau menyusahkanmu. Lagipula Pak Fredi sedang mencari taksi untukku"


"Tidak perlu sungkan begitu, ayo cepat"


"Baiklah sebentar aku ambil tasku dulu"

__ADS_1


"Aku tunggu di mobil ya"


"Oke" Ziva bergegas mengambil tas beserta kotak makanannya.


"Pak, saya pergi dulu. Bilang pada An kalau aku pergi bersama Clara"


"Kenapa tidak Nona saja yang menghubungi?"


"Tolong pak" Ziva memasang wajahnya serius.


"Ba-baik Nona"


Setelah Ziva masuk ke dalam mobilnya, barulah Clara menginjak pedal gas. Dia menjalankan mobilnya dengan pelan.


"Oh astaga kenapa aku bisa lupa"


"Kenapa?" tanya Ziva heran.


"Barangku tertinggal di apartemen. Kau tidak keberatan kalau kita mampir kesana dulu?"


"Oh baiklah, tidak apa-apa"


Clara membelok arah, bukan arah menuju kantor Ander. Sementara Ziva terus memasang wajah setenang mungkin.


"Apa kau sudah lama dekat dengan Ander?"


"Tidak begitu lama, aku mengenalnya dengan cara yang singkat"


"Benarkah begitu? Tapi setahuku Ander bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta"


"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas dia selalu bilang kalau aku ini adalah cinta pertamanya"


Clara mendelik mendengarnya "Lalu apa kau percaya?"


"Awalnya aku tidak percaya, tapi Ander berhasil membuktikan semuanya. Kau bisa melihatnya sendiri bukan? Dia sangat mencintaiku"


"Ya, tentu aku melihatnya. Maka dari itu kau adalah target utamanya"

__ADS_1


__ADS_2