
Cate menatap anak semata wayangnya dengan penuh intimidasi. Seolah-olah disini adalah dia yang paling terdzolimi.
"Apa nyalimu menciut setelah berhadapan denganku?" ucap Cate galak. Jujur saja dia sangat ingin mencakar wajah anak kesayangannya ini karena tidak sabar menunggunya berucap.
Sudah hampir sepuluh menit mereka berhadapan satu sama lain, tapi Ander belum juga membuka suaranya.
"Ekhem" Ander menetralkan detak jantungnya terlebih dahulu dia sangat gugup setelah ketahuan oleh Cate.
"Maaf, karena aku tidak memberitahumu sejak awal" ucap Ander yang tidak menaruh curiga sedikitpun kalau Cate sebenarnya sudah tahu sejak lama.
"Apa kau benar-benar sudah tidak membutuhkanku? Kau berani menyimpan masalah sebesar ini dibelakangku??!!"
"Kau tau? Aku seakan merasa menjadi ibu yang tidak berguna disaat mengetahui jika anakku telah merusak seorang wanita ditambah dia sama sekali tidak memberitahuku apa-apa. Aku merasa gagal telah melahirkan dan membesarkanmu. Kau seperti seorang pria pengecut! dan itu jauh dari didikanku selama ini!"
Hancur. Hati Cate benar-benar hancur. Semua yang dia pendam selama ini akhirnya bisa dia keluarkan tepat di depan orangnya. Bohong jika dirinya kuat, bohong jika dirinya tidak perduli. Sungguh, dia hanya ingin Ander berubah lebih cepat.
"Maaf mom" sekali lagi kata maaf tersebut keluar dari bibir tegas Ander. Kata maaf yang selama ini tidak pernah terdengar lagi saking dinginnya hatinya.
Cate menghapus tetesan air mata yang menghiasi pipinya "Segera nikahi dia dan mommy akan memaafkanmu"
__ADS_1
"Tapi mom itu bukanlah hal mudah. Dia sangat membenciku, hanya untuk sekedar berdamai denganku saja sangat susah. Apalagi untuk menikah"
"Lalu kau ingin anakmu lahir tanpa status yang jelas? Kau tega Der?"
"Tidak mom"
"Kandungan Ziva sudah menginjak bulan ke 5, ingat itu!"
"Bersikaplah seperti orang yang benar-benar mengakui kesalahannya. Buang semua gengsimu dan terima konsekuensinya. Merendahkan diri tidak akan membuat wibawamu turun. Daripada kau menjadi seorang pengecut!" tekan Cate yang beranjak dari duduknya.
-
-
-
"Mike, cukup!" sentak wanita itu, yang tak lain adalah Tara.
"Pergi lo! Gue gak butuh lo disini, gue butuh Ziva!"
__ADS_1
"Mike, ini sudah 5 bulan Ziva pergi. Stop Mike lupain dia!"
Pria itu tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Tara.
"Lo gak pernah tau apa itu cinta, kehilangan, dan sakit hati" ucapnya penuh sesal. "Ah iya, gue lupa kalau lo itu cuma wanita bayaran yang tahunya nga*ngkang terus dapet duit dan beres. Gak ada cinta-cintaan. Hahahaha"
Plak.
"Jaga mulut lo ya Mike. Gue disini buat ngerawat lo yang kacau ini bukan ngedengerin hinaan lo!"
Mike memegangi sebelah pipinya yang terasa sangat panas. Persis seperti tamparan Ziva tempo hari. Pandangan pria itu mendadak gelap, dia mengira orang yang menamparnya itu adalah Ziva.
Dengan sekali tarikan Mike berhasil membuat Tara yang dianggapnya adalah Ziva menjadi berada di bawah kungkungannya.
"Diamlah sayang, aku tidak akan menyakitimu" ucapnya karena Tara yang terus memberontak.
"Lepas Mike, aku Tara bukan Ziva!" sentak Tara, tapi ternyata Mike sepertinya menulikan pendengarannya.
"Kenapa menyangkal? Kau tau? Aku selalu hafal dengan wangi tubuhmu"
__ADS_1
Mike mendekatkan wajahnya, pria itu memagut bibir Tara dengan penuh tuntutan. Sementara dibawah sana Tara sedang menahan air matanya.
Jujur, dia memang sangat menginginkan hal ini. Apalagi dengan pria yang sangat dia sukai. Tapi dengan keadaan pria itu sadar akan dirinya bukan pada wanita lain yang telah pergi entah kemana.