
Ander memukul setir kemudi dengan keras, pria itu sedang meluapkan semua kekesalannya.
Sungguh tidak habis pikir dengan mantan calon istrinya yang tiba-tiba datang setelah sekian lama menghilang. Dan bertingkah seolah-olah dialah yang paling tersakiti oleh masa lalu.
Tapi sudahlah. Tak ingin mengulur waktu, pria itu menghiraukan semua kekesalannya. Dia harus mengurus masalah lain terlebih dahulu. Mobil yang ia tumpangi kini mulai membelah jalanan kota di malam hari ini.
Tujuannya adalah cafe yang dia kunjungi kemarin malam.
Ander memarkir mobilnya sedikit jauh dari area cafe, sebelum turun dia mengecek ponsel terlebih dahulu. Lalu membuka salah satu pesan yang masuk.
Sementara di tempat lain tepatnya di dalam sebuah mobil Rose dan Fani sedang berada di perjalanan menuju ke cafe yang sama.
Malam ini Rose memakai dress ketat yang membuat lekukan tubuhnya tercetak jelas, lengkap dengan perutnya yang mulai sedikit membuncit.
Wanita itu berdandan mewah seperti biasa karena Fani mengatakan kalau Ander mengajaknya dinner malam ini. Rose tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia harus berhasil memikat hati seorang Anderson lagi.
"Dimana Ander?" tanya Rose karena tidak mendapati mobil mewah yang selalu dipakai lelaki itu.
"Mungkin Tuan masih di perjalanan Nona, sebaiknya kita tunggu di dalam"
"Oke"
Rose berjalan anggun, dia mulai memamerkan keseksian tubuhnya pada semua pengunjung cafe. Perut buncitnya membuat kesan seksinya bertambah. Tapi tidak bagi seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan, dia malah merasa jijik.
__ADS_1
Wanita itu mengangkat dagunya untuk memperlihatkan wajah cantiknya yang tidak terlalu cantik itu.
"Akulah Nona Muda keluarga Gif yang sesungguhnya" batinnya percaya diri.
Fani menggiringnya ke salah satu ruang private yang sudah dibooking dan dihias sedemikian rupa khas dinner romantis.
"Indah sekali" pujinya dengan hati yang berbunga-bunga tentunya.
"Silahkan masuk Nona, saya permisi ke toilet"
"Baiklah"
Rose duduk dengan tenang, wanita itu mulai memainkan ponselnya lalu mengetik sesuatu di kolom chat Ander.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dari luar, Rose melebarkan senyumnya karena ia kira itu adalah Ander. Tapi ternyata orang lain.
"Jhon" lirihnya kaget.
"Rose, hei how are you?"
Belum sempat Jhon merengkuhnya tapi Rose sudah mengangkat tangannya "Stop it, where are you doing here?"
Pria itu mengendikan bahunya "Aku hanya diundang seseorang kesini"
__ADS_1
"Di undang seseorang?"
"Ya, ada seseorang yang mengajakku bertemu disini"
"Siapa?"
"Aku tidak tahu, aku juga tidak mengenalnya tapi dia bilang kalau ini adalah urusan penting. Jadi aku datang"
Rose mulai menerka-nerka semuanya, tentang Ander yang tiba-tiba mengajaknya bertemu dan munculnya Jhon, sang ayah kandung dari bayi yang ada di dalam perutnya.
"Jangan-jangan.." belum selesai dengan segala dugaan di kepalanya. Pintu ruangan kembali terbuka dari luar dan memperlihatkan seorang pria yang kini sedang menyorotnya dengan tatapan tajam.
Tapi Rose segera memasang wajah setenang mungkin "Der, kau baru datang? Kemarilah. Perkenalkan dia adalah temanku, Jhon. Dan Jhon perkenalkan dia adalah kekasihku, Anders.."
"Diam!"
"Der.."
"Kau memang wanita yang menjijikan, kau menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkanku!"
"Apa maksudmu Der?"
Ander tersenyum miring terlihat sangat menyeramkan, lelaki itu tak melepaskan tatapan tajamnya walau hanya sedetik saja.
__ADS_1
"Aku ku beri satu kesempatan. Kau ingin mengakuinya sendiri lalu aku ampuni atau kau ingin aku membongkar semuanya tapi kupastikan kau akan hidup terlunta-lunta di luar sana!"