Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Obat


__ADS_3

Semalaman Ander tidak bisa tidur,dia juga tidak pergi ke club lagi. Pria itu terus memikirkan ucapan demi ucapan Cate sebelumnya. Ibunya itu seperti sedang mengutuk dirinya untuk hidup seperti bajingan selamanya.


"Arrgghh.. seharusnya dari semalam aku pergi ke club" rutuknya sembari memukul pintu kamar mandi. Ini sudah pagi dan dia harus pergi ke kantor.


Setelah beberapa tahun lamanya, untuk pertama kalinya dia terbangun kembali di kamar miliknya sedari kecil.


Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuknya bersiap-siap. Beruntung semua perlengkapannya selama ini masih tertata dengan rapi disana.


Pria bertubuh tegap itu mengedarkan pandangannya ke dalam seisi mansion. Dan pandangannya berhenti pada pintu kamar yang ada di paling ujung.


Terlihat beberapa pelayan mendorong sebuah troli makanan dari sana. Kakinya mengayun untuk mendekati pintu tersebut.


Tanpa menghiraukan sapaan hormat para pelayannya dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pria itu secepat kilat masuk ke dalamnya. Dia ingin memastikan sesuatu, lagi.


"Boy.." panggil Cate setelah melihat anaknya yang berdiri di ambang pintu. Saat ini dia sedang sarapan di ruang santai, beruntungnya sebelum Ander datang, Cate merengek ingin disuapi oleh Bram. Dan jarum infus juga masih setia menempel di punggung tangannya. Jadi aktingnya tidak berantakan.


"Ah sial, sepertinya mommy benar-benar sakit"


"Sudah dad, biar anakku saja yang menyuapiku"

__ADS_1


"Memangnya dia mau?" ujar Bram melirik remeh anaknya.


"Aku harus pergi ke kantor" tak banyak bicara lagi Ander segera keluar dari kamar kedua orang tuanya.


"Ck, anak itu. Ingin sekali aku melempari wajahnya dengan sendok yang ada di tanganmu!"


"Kalau kau ingin aku akan melemparkannya untukmu" ujar Bram bersemangat. Dia juga sangat jengkel pada anaknya itu.


"Eh.. jangan!" cegah Cate saat Bram hampir sampai di ambang pintu.


"Kau ini plin-plan sekali, coba kau dengar. Sendok ini sedang menggerutu karena tidak jadi berlabuh di muka anak kesayanganmu itu!"


"Bi"


"Iya non?"


"Bibi duduk dulu deh, aku mau tanya"


Bi Sumi akhirnya menghentikan aktifitasnya, kakinya mengayun mendekati wanit hamil yang sedang asik memakan pisang.

__ADS_1


"Non, jangan banyak-banyak makan pisangnya"


"Hanya buah ini yang bisa mengurangi mualku bi"


"Jadi non mau tanya apa?"


"Em mengenai Tuan dan Nyonya Gif kemarin.." Ziva akhirnya menceritakan semua obrolannya dengan Cate dan Bram sebelumnya.


"Jadi.. menurut bibi apa keputusanku benar?"


Bi Sumi tersenyum tipis, memang ini yang dia inginkan. Dia menginginkan Ziva mendapatkan tanggung jawab dari Ander. Bukan hanya sekedar materi saja. Tapi juga status.


Meskipun dirinya sangat tau bahwa pertemuan keduanya adalah salah tapi ini memang yang terbaik untuk Ziva dan bayinya.


Bukannya tidak belajar dari yang sudah-sudah. Sama halnya dengan Cate, Bi Sumi juga sangat yakin jika Ziva akan merubah kepribadian Ander yang sudah terlampau keterlaluan.


"Bibi tidak bisa menjawab benar atau tidak. Bibi hanya bisa berharap semoga keputusan non saat ini itulah yang terbaik untuk semuanya termasuk junior" telapak tangan yang mulai keriput itu mengusap perut buncit Ziva dengan pelan.


"Bukan satu atau dua tahun bibi mengenalnya. Karena mereka adalah sahabat baiknya majikan bibi, ibunya Tuan Rey. Setahu bibi, Tuan Ander adalah pria yang baik dan penyayang tapi karena suatu kejadian yang bibi sendiri tidak tahu apa dia menjadi seperti itu. Dan bibi yakin, nona dan junior adalah obatnya"

__ADS_1


__ADS_2