
Resepsi pernikahan akhirnya selesai, saat ini Ziva sedang berada di dalam lift bersama dengan suaminya dan juga seorang pegawai butik yang akan membantunya membuka gaun di kamar nanti.
Lift tersebut berhenti di lantai teratas dimana presidential suit room berada. Sepanjang berjalan Ander tak melepas genggaman tangannya sedikitpun. Pria itu menuntun wanitanya supaya tidak terjatuh akibat ulah gaun pernikahan yang amat sangat besar itu.
Tibalah mereka di sebuah kamar bernuansa putih yang terlihat sangat mewah dan elegan. Kamar itu tersedia beberapa ruangan, yaitu ruang tamu, ruang kamar beserta walk in closet, ruang gym dan tak lupa sebuah balkon yang memperlihatkan indahnya kota tersebut. Itu semua adalah aset milik keluarga Gif sendiri.
"Aku bersih-bersih dulu ya sayang"
"Baiklah An"
"Nona, kita buka gaunna disini saja ya" pinta pegawai butik itu. Padahal mereka baru saja sampai di ruang tamu tapi dia merasa sangat canggung berada di dalam kamar hotel semewah ini apalagi harus masuk ke kamar pengantin baru ini, ah rasanya dia juga ingin menikah saja.
"Di kamar saja ayo"
"Tidak nona, saya tidak kuat kalau harus masuk lebih dalam" ambigu memang.
Ziva dibuat tidak bisa berkata apa-apa "Ah, baiklah."
"An, bisa kau mengambilkan jubah mandi untukku?" teriak Ziva pada sang suami yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam bilik kamar mandi.
"Sebentar sayang" teriak Ander kembali.
Pria itu melenggang menuju ke ruang tamu dengan setengah telanjang karena tubuh bagian atasnya kini terekspos kemana-mana.
"Ini sayang"
__ADS_1
Sang pegawai butik langsung memalingkan wajah ketika melihat penampilan Ander seperti itu, Ziva juga tidak kalah terkejutnya. Bisa-bisanya Ander dengan sengaja memamerkan tubuhnya seperti itu di depan istrinya pula.
Bibir Ziva seketika memberengut kesal dia merebut jubah mandi yang berada di tangan Ander tanpa sepatah katapun. Membuat Ander heran dan tak sadar dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasakan hawa tidak enak dari Ziva.
"Aku mandi dulu ya" pamit Ander lagi. Ziva masih diam tak berniat menjawab apapun.
"Astaga ada apa lagi ini" batin Ander bertanya-tanya. Pria itu kembali melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Setelah pintu tertutup barulah Ziva mengeluarkan sumpah serapahnya "Dasar laki-laki kegatelan"
"Saya tidak melihatnya kok Nona" ucap pegawai itu takut-takut.
-
-
-
Seketika Ziva menelan ludah karena mau bagaimanapun suaminya itu memang terlihat sangat menggoda, tapi Ziva kembali menguasai dirinya sendiri. Wanita hamil itu berjalan lurus ke arah kamar mandi tanpa berniat menyapa suaminya yang berdiri di ambang pintu.
"Sayang"
Brak.
"Astaga" kaget Ander saat pintu kamar mandi tertutup dengan keras.
__ADS_1
Tidak ada niat memakai baju, seorang pengantin baru itu memang tidak membutuhkan baju bukan? Ah lupakan saja itu hanya pemikiran konyol seorang Anderson.
Sekarang Ander duduk di pinggiran ranjang menunggu sang ratu keluar dari kamar mandi. 15 menit berlalu barulah sang ratu nampak, rambut wanita itu dibungkus dengan handuk khusus.
"Sayang"
Hening tidak ada jawaban. Ziva melengos menuju walk in closet membuat Ander mau tidak mau mengikuti langkah kaki istrinya.
"Sayang"
Ziva membuka lemari tapi tidak satupun baju yang dia temukan selain beberapa potong saringan tahu yang sudah dihias sedemikian rupa membuat Ander menyeringai melihatnya. Tapi sepertinya Ziva tidak berniat untuk memakainya, wanita itu kembali menutup lemari membuat Ander cemberut.
"Sayang"
Ziva melengos keluar dan Ander masih setia mengekorinya. Karena sudah tidak tahan akhirnya Ander berdiri di depan istrinya, pria itu menatap lembut wanita yang baru saja menjadi istrinya beberapa jam lalu.
"Ziva sayang, lihat aku. Kau itu sebenarnya kenapa? Apa aku berbuat salah?"
Ziva yang sudah tidak tahan akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya "Tentu kau salah, dengan beraninya kau mengumbar tubuhmu itu di depan wanita lain dan parahnya lain di depan mataku sendiri. Rasanya aku muak melihat wajah tanpa dosamu itu"
Ander tertawa mendengar alasan istrinya merajuk kemudian kedua tangannya meraih pipi Ziva yang semakin hari semakin gembul karena efek dari kehamilannya.
"Jadi ratuku ini merajuk karena masalah itu?"
Ziva diam dia tidak berniat menjawab. Karena mau bagaimanapun Ander pasti tidak akan mengerti.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan saya ratu. Saya mengaku telah melakukan kesalahan jadi anda boleh menghukum saya" ucap Ander memperagakan seorang budak yang berhadapan dengan ratunya.
Melihat Ander yang sengaja tidak memakai baju, sebuah ide terlintas di kepalanya.