Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Semakin Gila


__ADS_3

Ander melajukan mobilnya dengan cepat menuju apartemen Rose yang berada di pinggir kota, membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai disana karena kebetulan suasana jalan yang sepi di malam hari.


Pria itu memasang masker untuk menutup wajah tampannya, berjaga-jaga supaya tidak ada yang melihat. Bukan apa-apa, hanya saja dia takut berita yang tidak-tidak terdengar di telinga istrinya sebelum dia sendiri yang memberitahunya.


Ander memencet bel apartemen karena dia tidak mempunyai akses untuk keluar masuk, dan ini adalah kunjungannya yang kedua setelah hari itu.


"Tuan"


"Dimana dia?"


"Masih di dalam kamarnya Tuan, sebelumnya aku sudah mendobrak pintu kamarnya dan membereskan beberapa barang yang berserakan"


"Panggil petugas kebersihan supaya membantumu untuk membereskan semua ini" tunjuk Ander pada keadaan apartemen yang terlihat kacau.


"Baik Tuan"


Ander mengayunkan kakinya menuju ke kamar yang ditunjukan Fani terdengar suara isakan seseorang dari dalam sana. Ander menghela nafas sebelum benar-benar memasuki kamar tersebut.


Pria itu kemudian melangkah dengan tenang dan tampaklah seorang wanita yang sedang meringkuk di samping ranjang lengkap dengan isakan yang terdengar memilukan.


Tapi jujur, Ander tidak merasa iba sama sekali.


Mendengar derap langkah yang kian mendekat membuat Rose menghentikan air mata palsunya dan mendongakkan kepalanya. Wajahnya memang terlihat menyedihkan tapi jauh di lubuk hatinya dia sedang tertawa karena aktingnya berhasil membuat Ander datang padanya.


"Kau disini Der?"

__ADS_1


"Ada apa ini? Apa yang kau lakukan?"


"Ma-maaf aku hanya ingin bertemu denganmu. Kau tidak pernah mengunjungiku lagi"


"Kau tahu betul kalau saat ini aku sudah memiliki keluarga dan tentu saja prioritasku adalah istri dan calon anakku"


"Tapi bukankah ini juga adalah calon anakmu? kau ingin lepas tanggung jawab Der?"


"Dengan menugaskan Fani disini itu adalah bentuk tanggung jawabku!"


"Tapi aku tidak membutuhkan Fani, aku membutuhkanmu!"


"Sebaiknya kau sadar atas batasanmu Rose! Kau bukan siapa-siapa, kita hanya terikat anak yang kau kandung!" (itu juga jika memang benar dia anakku) lanjut Ander dalam hati.


"Setidaknya kau juga memperhatikan anak yang aku kandung ini. Dia juga anakmu!"


"Selagi kau tidak kekurangan apapun aku yakin kandunganmu itu pasti akan baik-baik saja. Kau masih ingat dengan ucapanku sebelumnya bukan? Dan jangan harap kau bisa membuka mulut tentang semua ini. Kau tahu betul siapa aku Rose!" ucap Ander bernada mengancam.


"Aku hanya menginginkan status yang sah untuk anakku Der. Aku telah menepati janji agar tidak merusak rencana pernikahanmu, maka dari itu aku ingin kau menikahiku juga!"


"Jaga ucapanmu Rose!"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan padaku hah? Kau menginginkan anak ini lalu membuangku begitu? Lebih baik aku pergi dari sekarang. Dan dapat aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan anakmu ini" Ya, Rose sedang mencoba menekan Ander.


"Kumohon diam, sebelum aku sendiri yang akan membuatmu diam selamanya"

__ADS_1


Rose berdiri lalu berlari kearah Ander dan memeluk pria itu dengan kuat.


Bruk.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau pergi Der. Aku sangat mencintaimu, aku juga tidak ingin anak kita kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Aku mohon jangan tinggalkan aku"


Ander tidak membalas sama sekali, dia hanya diam mematung disaat Rose memeluk tubuhnya. Tiba-tiba bayangan Ziva mulai berputar di kepalanya. Wajah tenang Ziva dikala tertidur disaat dia tinggal beberapa menit yang lalu mulai terlihat.


"Lepas!"


Wanita itu melepaskan dekapannya lalu menatap wajah tampan milik suami orang yang sebentar lagi akan dia rebut itu "Kenapa?"


"Situasinya sudah berbeda Rose. Ku mohon ingat batasanmu. Aku pergi!"


Tak ingin terus dihantui rasa bersalah terhadap sang istri, Ander memilih untuk pergi dari sana.


Sementara Rose kembali merasa kesal karena gagal membawa Ander untuk naik ke atas ranjangnya lagi. Sepertinya pria itu benar-benar sudah membangun benteng pertahanannya.


"Tuan" panggil Fani setelah melihat majikannya yang berjalan menuju pintu keluar.


"Cari cara untuk membuat ponselnya rusak, aku tidak ingin dia berbuat lebih"


"Baik Tuan"


"Satu lagi, jika dia menggila lagi kau hubungi saja rumah sakit jiwa. Biarkan dokter memberinya obat penenang tapi pastikan juga jika dosisnya aman untuk ibu hamil"

__ADS_1


Fani mengangguk mengerti. Setelah Tuannya menghilang barulah Fani melepaskan tawanya.


"Sudah aku bilang kan, semakin hari wanita itu semakin gila saja"


__ADS_2