
Sudah satu hari satu malam, tapi Ziva belum menunjukan tanda-tanda akan melahirkan. Saat ini mereka sedang berada di taman sekitar rumah sakit, Ander mendorong kursi roda istrinya dengan hati-hati.
"Kau pasti lelah, kita duduk disana dulu" pinta Ziva.
"Baiklah"
Ander mendorong kursi rodanya ke arah kursi taman yang kosong. Dia memasang rem supaya kursi rodanya tidak bergerak. Badannya kian menunduk mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit istrinya.
"Cepatlah keluar boy, apa kau tidak ingin cepat-cepat melihat kami?" tegur Ander.
"Tanggal yang ditentukan dokter masih 2 hari lagi An, mungkin baby ingin keluar sesuai jadwal" jawab Ziva tersenyum.
"Apa kau ingin melahirkan dengan operasi saja supaya cepat?"
"Tidak An, aku ingin melahirkan secara normal"
"Dengar boy, Mommymu tetap tidak mau melahirkan secara operasi. Jadi bersahabatlah dengan Mommy oke?"
"Oke Daddy" jawab Ziva menirukan suara anak kecil.
Ziva memang tidak ingin melahirkan secara operasi, dia ingin melahirkan dengan normal. Apalagi posisi bayi dan juga kondisinya sangat memungkinkan untuk persalinan normal. Banyak orang ingin melahirkan secara operasi supaya lebih cepat, tapi berbeda dengan ibu hamil yang satu ini.
"Ah"
__ADS_1
"Zi, kau kenapa?"
"Perutku sakit An"
"Kita kembali ke kamar ya" ajaknya kemudian.
"Sepertinya aku mengompol An" celetuk Ziva membuat Ander terbengong-bengong.
"Bagaimana bisa?" Ander mempercepat dorongannya menuju ke dalam lift supaya cepat sampai ke ruang rawat. Bersamaan dengan itu pula sakit di perut Ziva semakin menjadi, wanita hamil itu meringis dengan keringat yang bercucuran dari keningnya.
Sampai di ruang rawat, rupanya Cate sudah ada disana. Dia terkejut mendapati anaknya yang terlihat ngos-ngosan dan Ziva yang terlihat sedang menahan sakit.
"Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
"Mengompol?" Cate menyingkap dress yang dipakai Ziva untuk memastikan cairan apa yang keluar.
"Ziva bukan mengompol, ini air ketubannya yang pecah. Cepat bawa Ziva ke ruang persalinan!"
"What?" pekik Ander terkejut.
"Ayo cepat, lihatlah menantuku sudah sangat kesakitan"
Tak membuang waktu lama lagi Ander segera mengangkat tubuh istrinya karena memang lebih cepat menggunakan langkah lebarnya daripada menggunakan kursi roda.
__ADS_1
"Kau masih kuat kan Zi?"
Ziva mengangguk walaupun sakitnya terasa sangat menyiksa dan semakin menjadi-jadi. Lebih sakit dari apa yang ia rasakan saat kontraksi palsu. Seluruh tulang-tulangnya berasa di remukan secara bersamaan.
Saat sampai di depan ruang persalinan Ander segera berteriak untuk memanggil perawat dan juga Dokter Merry. Dia sampai lupa kalau ini adalah rumah sakit, yang di larang untuk membuat kegaduhan.
"Dokter!! Suster!!"
"Ada apa Tuan?" tanya seorang Suster yang berjaga.
"Istriku akan melahirkan, tolong bantu dia"
Ander membaringkan tubuh istrinya di atas brankar kosong, tak lupa tangannya yang selalu menggenggam istrinya.
"Saya panggilkan Dokter Mery dulu Tuan, beliau sedang memeriksa pasien"
"Ck, Kenapa kau malah laporan padaku. Cepat sana panggil Dokternya, apa kau tidak lihat istriku ini kesakitan?" kesal Ander.
Perawat itu berlari secepat mungkin sebelum singa itu semakin mengamuk.
"Zi, kau mendengar aku? Kumohon bersabarlah kau pasti kuat sayang"
Ziva mengangguk dia berusaha untuk berbicara ditengah rasa sakit yang mendera "Usahakan untuk tidak marah-marah An, nanti anakmu ketakutan dan tidak mau keluar"
__ADS_1