Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Misi


__ADS_3

Kriing.. kriing..


"Ck, ada apa lagi mereka menghubungiku"


Panggilan pertama Ander mengabaikannya. Hingga ponselnya kembali berdering untuk yang kedua kalinya pria itu masih menulikan pendengarannya.


Tapi rupanya sang penelepon tidak jera. Dia masih berusaha untuk menghubungi Ander.


"Ck, mengganggu saja!"


"Hallo!"


"Hallo boy" diseberang sana terdengar suara wanita paru baya yang sedang merintih kesakitan.


"Ada apa lagi mommy menghubungiku?" tanya Ander ketus.


"Mommy sakit. Apa kamu tidak ingin menjenguk mommy boy?"


"Sudah ada daddy disana!"


"Tapi mommy juga ingin ada kamu disini" ujar Cate dengan suara lemahnya. "Mommy hanya ingin bertemu denganmu, mungkin ini yang terakhir kalinya"


"Ini akal-akalan mommy saja kan? Jangan harap aku akan tertipu!"


"Baiklah, terserahmu boy. Mommy hanya berharap kau tidak menyesal di kemudian hari"


tut..tut..

__ADS_1


Cate menutup teleponnya sepihak.


"Bagaimana?" tanya Bram penasaran.


"Seperti biasa, anakmu yang satu itu susah sekali dibodohi"


"Hei, memangnya anakku ada berapa?"


Cate mengendikkan bahunya kesal. Dia takut rencananya akan gagal.


Wanita paru baya itu turun dari ranjang dengan mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya. Tentu saja itu hanya rekayasa semata.


-


-


-


-


Mobil sport keluaran terbaru yang berbandrol harga tinggi dan berstatus limited edition itu mulai menyusuri jalanan kota yang masih sedikit lenggang karena jam pulang kantor masih beberapa menit lagi.


Butuh waktu sekitar 25 menit dari GG menuju ke mansion utama, mobil yang ditumpangi Ander kini sudah memasuki gerbang otomatis di depan sana.


Gerbang itu akan menscan plat nomor mobil yang datang, karena plat nomor Ander sudah terdaftar. Maka gerbangnya menjadi terbuka otomatis.


Satpam yang berjaga di pos mansion depan langsung menghubungi rumah utama melaporkan bahwa sang Tuan Muda sedang dalam perjalanan menuju kesana.

__ADS_1


Siapapun yang masuk ke dalam sini, akan mengira jika itu adalah istana karena banyaknya bangunan di dalam sana.


Para pelayan di mansion langsung riuh karena awalnya mereka semua di intruksi Cate untuk ikut andil dalam misinya.


Pak Roky-kepala pelayan. Yang mendapat laporan dari pos satpam depan segera berlari menuju lift menuju ke lantai 3 dimana kamar Tuan dan Nyonya besarnya berada.


"Pak Roky, ada apa?" tanya Cate heran setelah melihat banyak keringat di dahi pria tua yang sudah bekerja padanya selama bertahun-tahun itu.


"Tuan Muda hampir datang nyonya" lapornya.


"Apa?"


"Tak kusangka anak itu akan terjebak juga" ujar Cate kesenangan dengan bertepuk tangan.


"Nyonya, Tuan Muda akan sampai kurang dari 5 menit lagi!"


"Ah iya aku sampai lupa" Cate berlari menuju kamarnya, dia memanggil seseorang berpakaian suster untuk membantunya melancarkan misi.


"Cepatlah!"


"Iya Nyonya, sebentar lagi" ujar sang suster. Wanita itu bukan suster sungguhan dia hanya seseorang yang dibayar untuk menjadi suster figuran.


"Sudah Nyonya"


"Make up ku bagaimana? Masih terlihat pucat kan?"


Bram yang baru saja masuk ke dalam kamar dari arah balkon hanya bergeleng kepala melihat tingkah laku istrinya yang memang sedari dulu ingin sekali menjadi aktris. Oleh karena itu Cate sangat antusias.

__ADS_1


"Kalau bukan karena cucuku, mana mau aku menyuruhmu berakting seperti ini"


"Ck, diamlah dad. Aku hanya berharap semoga anak itu mendadak bodoh. Saat melihatku seperti ini"


__ADS_2