
"Apa maksudmu Der? Aku tidak mengerti semua ini!" Rose tentu berpura-pura bodoh. Obsesinya membutakannya sehingga dia lupa kalau saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa.
Ander memberi tepukan tangan sebagai isyarat dan muncul lah Fani dengan beberapa berkas di tangannya. Mulai dari hasil tes DNA janin yang Ander lakukan secara diam-diam, data pembukaan alat kontrasepsi dan juga potret yang didapat detektif rahasia bayarannya tempo hari.
Pria itu melemparkan semua berkas itu diatas meja tepat di depan Rose berdiri. Dengan tangan gemetar Rose memungut semuanya dan mulai membaca.
Matanya membulat karena tidak menduga kalau sandiwaranya akan terkuak secepat ini.
"Ini semua palsu Der, kau pasti sengaja memalsukan semuanya supaya tidak perlu bertanggung jawab kan?" Rose mengelak.
"Oh, palsu? Coba kau tanyakan pada kekasihmu itu" Ander mengangkat dagunya menunjuk.
Jhon yang sedari tadi diam sebagai penonton akhirnya mendapat bagian untuk berbicara. Pria itu mulai berbicara tanpa peduli dengan tatapan Rose yang menyorotnya tajam.
"Itu benar darling, baby yang ada di perutmu itu bukan miliknya tapi milikku"
Ander tersenyum penuh kemenangan. Sementara Rose mematung di tempatnya karena Jhon telah mengingkari kesepakatan sebelumnya.
"Tidak Der, lelaki ini berbohong. Dia itu dari dulu sangat terobsesi padaku"
"Kurasa bukan dia yang terobsesi padamu. Tapi kau yang terobsesi padaku!" ucap Ander penuh penekanan.
"Ti-tidak Der, ini semua tidak benar. Anak ini adalah benihmu"
__ADS_1
Ander menggebrak meja, membuat suara yang cukup gaduh. Tapi untung saja ruang itu sudah disetting menjadi kedap suara.
"Dengarkan aku baik-baik wanita menjijikan, mulai detik ini jangan pernah mengusik hidupku lagi. Jika kau kembali muncul di hadapanku lagi maka aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkanmu!"
"Fani, bereskan dia!"
"Baik Tuan"
Setelah memberi perintah, Ander meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan teriakan wanita gila dibelakang sana.
"Semua ini gara-gara kau! Rencana kita sebelumnya jadi hancur!" Rose murka. Tapi Jhon sama sekali tidak peduli.
"Sayangnya aku tidak peduli, jadi selamat tinggal darling"
Sementara Rose sedang dibereskan oleh Fani.
"Baiklah Nona Rose yang terhormat, karena Tuan Ander memberiku wewenang untuk membereskanmu maka aku akan dengan senang hati melakukannya"
"Jangan macam-macam! Kau belum tahu siapa aku!"
"Tentu aku tahu. Bukankah kau adalah wanita berjuta obsesi yang hampir gila karena menginginkan tahta seorang Nona Muda di keluarga Gif?"
"Tutup mulutmu itu, dasar pelayan rendahan!!"
__ADS_1
"Oh God, sebenarnya dari kemarin-kemarin aku ingin melakukan semua ini padamu. Tapi karena aku ditugaskan untuk bersandiwara jadi aku mencoba bersabar tapi rasanya sekarang aku sudah tidak kuat lagi"
Byurrr.
Jus mangga yang semula berada di dalam gelas dan tentunya tidak berdosa itu kini sudah membasahi wajah mulus Rose, si wanita gila. Dan pelakunya adalah Fani.
"Itu untukmu yang selalu membentak dan menyuruhku!"
"Beraninya kau.."
Trek. trek. trek.
Tiga telur busuk yang Fani simpan di saku celananya setelah siapkan sedari apartemen kini sudah menghiasi rambut indah Rose. Membuat penampilan wanita itu semakin kacau.
"Sh*itt"
"Itu untukmu yang mempunyai niatan busuk terhadap Nona Ziva dan keluarganya"
Rose tidak tinggal diam wanita itu berjalan dengan penuh emosi untuk menampar Fani. Tapi sebelum itu terjadi Fani sudah menangkap tangannya terlebih dahulu lalu memelintirnya yang membuat Rose berteriak kesakitan.
"Arrrgghhh brengsek"
Fani tersenyum smirk "Dasar wanita licik!"
__ADS_1