
Satu minggu berlalu sejak Ander menyatakan perasaannya. Kini pria itu semakin gencar menunjukkan rasa sayangnya. Seperti sore ini, dia pulang lebih cepat dari biasanya dengan membawa sebuah paperbag berisi makanan yang Ziva pesan.
"Zi, aku pulang" panggilnya.
Saat itu Ziva sedang duduk di pinggir kolam renang seperti biasa.
"Mana pesananku?"
Ander menyodorkan paperbag yang sedari tadi dia jinjing. Di dalamnya ada sebuah spaggethi. Makanan yang sama saat dulu Ziva mengidam pertama kali, tapi saat itu Dark yang memakannya.
"Ini baru jam 5 sore, tumben sekali kau pulang cepat"
"Ya, karena aku akan mengajakmu kencan"
"Kencan?"
"Kenapa? Apa kau akan menolak?"
"Baiklah, sepertinya tidak buruk" ucap Ziva setuju.
"Setelah selesai, bersiaplah. Jam 7 kita berangkat"
Ziva mengangguk sebagai jawaban karena saat ini mulutnya sudah penuh dengan spaggethi.
-
__ADS_1
-
-
"Loh, kalian mau kemana?" tanya Cate yang baru saja turun dari mobil mewahnya. Langkahnya terhenti setelah melihat anak dan juga calon menantunya sepertinya akan pergi. Terlihat dari penampilan keduanya yang sudah rapi.
"Apa kabar mom, dad?" sapa Ziva seraya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Cate.
"Kami baik-baik saja sayang. Maaf baru mengunjungimu, beberapa minggu ini kami ada urusan di luar negeri"
"Iya mom, aku mengerti"
"Apa anak ini berbuat ulah lagi?" tunjuk Bram pada anak semata wayangnya.
"Tidak dad, selama ini dia menjadi anak yang baik" ledek Ziva. Yang mana membuat Ander melotot ke arahnya. Lalu mereka tertawa bersama.
"Kami mau kencan mom" jawab Ander apa adanya.
"Kencan? Mommy tidak salah dengar kan?"
"Ya selama telinga mommy tidak bermasalah mana mungkin mommy salah dengar" balas Ander cuek.
Cate mendelik mendengarnya.
"Daddy dengar? Mereka akan berkencan. Wah sepertinya kita akan segera menggelar pesta pernikahan dad. Astaga ini berita yang bagu, mommy akan mengurusnya dari sekarang" ujar Cate antusias.
__ADS_1
"Mom.." baru saja Ander ingin mengeluarkan suaranya. Tapi Ziva segera menghentikannya hanya dengan sebuah gelengan kepala.
Dia tidak ingin Ander membantah tentang apa yang Cate pikirkan, karena dia cukup senang melihat Cate bahagia karena wanita paru baya itu sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Ayo, kita pergi" ajak Ziva kemudian.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Jaga Junior dengan baik" pesan Cate sebelum keduanya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kau tidak membantah ucapan Mommy? Itu bahaya Zi, bisa-bisa mommy menyiapkan semuanya dalam waktu sesingkat mungkin. Bukannya kau belum memberiku jawaban?"
"Aku hanya senang melihat mommy bahagia An, dia sudah kuanggap ibu kandungku sendiri."
"Tapi Zi, mommy tidak pernah main-main dengan ucapannya"
Ya, benar. Cate tidak pernah main-main dengan ucapannya, mengambil keputusam di depannya harus dengan pikiran matang.
Ziva termenung di sepanjang perjalanan, hingga usapan di tangan membuyarkan lamunannya. Tangan kekar Ander kini sudah mengenggam tangan kurusnya.
"Kita sudah sampai, maaf kalau perjalananmu menjadi tidak menyenangkan. Kita jangan bahas itu oke?"
Bukannya menjawab Ziva malah mengedarkan pandangannya ke segala arah, keningnya berkerut menunjukkan rasa penasaran.
"Kenapa kau membawaku kesini An?"
"Ayo turun, aku akan menunjukkan sesuatu padamu"
__ADS_1
Jelas Ziva heran, Ander mengajaknya berkencan bukan? Tapi kenapa pria itu justru malah membawanya ke kantor GG. Sungguh aneh.