Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Permen Kapas


__ADS_3

Ziva benar-benar kembali ceria sejak saat itu. Usia kehamilan Ziva sudah memasuki bulan keempat. Wanita itu menjalani hidupnya dengan tenang meskipun dia tau bahwa dia sedang hidup di lingkungan Ander, pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya.


Ander pasti merasa tanggung jawab pada darah dagingnya sendiri, oleh karena itu dia dibiarkan tinggal disini dengan segala fasilitas yang ada. Ziva tentu senang, karena anaknyq bisa tumbuh dengan baik dan layak. Karena itu memang hak anaknya, pikirnya.


Yang terpenting tidak ada ikatan apapun antara dia dan Ander karena Ziva benar-benar tidak sudi jika hal itu terjadi.


"Nona, senang?" tanya bi Sumi pada Ziva yang sedang tersenyum-senyum memegang kertas USG di tangannya.


"Tentu aku senang bi, aku baru saja melihat anakku. Lihatlah dia tersenyum" ucapnya sambil menunjukan kertas USG tersebut.


"Itu berarti Junior senang mempunyai ibu seperti nona"


"Aku harap begitu. Aku janji akan selalu menjaga dan menyayanginya"


Ziva tersenyum lebar, hari ke hari wanita itu semakin cantik. Aura ibu hamilnya benar-benar keluar. Badannya yang semula kurus, kini terlihat sangat berisi.


Tanpa sengaja Ziva melihat penjual permen kapas di pinggir jalan, membuatnya memberhentikan mobil secara mendadak.


"Botak, stop!!"


Ckiiitt..


Jeduk.


"Awww"


"Kau ini bisa nyetir gak sih" maki Ziva pada si botak.


"Ya bisa non, tapikan nona yang nyuruh saya berhenti mendadak" bela si botak.

__ADS_1


"Diamlah, sudah salah kau malah melawan!" beginilah mood ibu hamil kadang dia marah-marah tidak jelas kadang dia menangis tiba-tiba.


"Cepat keluar, belikan aku permen kapas yang ada diseberang jalan itu!"


"Baik nona, tunggu sebentar"


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya bi Sumi yang khawatir terjadi benturan pada Ziva saat mengerem mendadak.


"Aku baik-baik saja bi"


Tak lama kemudian si botak kembali dengan satu permen kapas di tangannya. "Ini permen kapasnya nona" bukannya senang tapi Ziva malah menangis.


Si botak menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa heran kenapa majikannya menangis.


"Siapa yang menyuruhmu membelinya satu hah?"


"Tidak ada non. Nona tidak bilang.."


"Ya sudah ini satu dulu nona. Saya tinggal beli 4 permen lagi"


"Aku tidak mau! Aku mau 5 permen kapas yang dibelinya barengan!"


Bi Sumi bergeleng pelan melihat Ziva menangis sesegukan karena sebuah permen kapas. Dia sudah terbiasa melihat Ziva seperti itu.


"Ya sudah sana beli lagi" ucap bi Sumi pada si botak.


Si botak keluar dari mobil masih dengan satu permen kapas di tangannya. Dia memberikan permen kapas itu pada seorang anak yang hendak membeli. Lalu membeli lagi 5 permen kapas yang dibeli bersamaan.


"Ini permen kapasnya nona"

__ADS_1


"Aku mau satu bi" bi Sumi mengambil semua permen kapas itu dari si botak dan memberikannya satu pada Ziva.


"Jangan banyak-banyak non"


"Aku cuma mau satu bi, sisanya aku ingin memberikannya pada si botak satu lagi di rumah"


"Dasar ibu hamil" gerutu si botak yang sedang menyetir mobil 🤣


-


-


-


"Jadi informasi apa yang kamu dapat?" tanya Cate pada seorang mata-mata yang dia bayar untuk memperhatikan gerak-gerik Ander.


"Tuan Ander sedang dekat dengan salah satu putri rekan bisnisnya Nyonya. Bahkan Tuan Ander sering keluar masuk apartemen wanita itu. Tapi menurut informasi yang saya dengar, Tuan Ander juga memberikan perlindungan pada seorang wanita lain. Bahkan wanita itu dibiarkan tinggal di mansion pribadi Tuan Ander"


"A-pa? Siapa wanita itu?"


"Saya juga tidak tau nyonya, saya belum menyelidikinya sampai sejauh itu"


"Cepat cari tau informasi tentang wanita itu, aku memberimu waktu 24 jam dari sekarang"


"Baik Nyonya, saya permisi"


Orang itu akhirnya pergi meninggalkan Cate dengan segala pemikirannya.


"Apa ini caramu untuk memberiku cucu tanpa menikah boy? Apa kau sedang merusak kehidupan seseorang?"

__ADS_1


Biasanya feeling seorang ibu selalu benar.


__ADS_2