Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Naluri Seorang Ayah


__ADS_3

Ander saat ini sedang termenung di meja kebesarannya. Menghitung hari sepertinya saat ini usia kehamilan Ziva sudah memasuki bulan ke empat. Selama itu pula dia tidak pernah menjenguk Ziva di mansionnya.


Di setiap malam dia selalu bermimpi menggendong seorang bayi laki-laki tampan dipelukannya. Rasanya sangat bahagia sekali.


Secercah rindu mulai tumbuh di hatinya, bukan! bukan rindu pada ibunya tapi rindu pada sang buah hati. Bisa dikatakan bahwa naluri seorang ayah kini sudah singgah pada dirinya.


Mulanya dia ragu dengan kehadiran bayi itu, tapi mengingat kala dia melakukannya Ziva masih suci. Membuka mata hatinya bahwa anak itu sungguh darah dagingnya.


Suatu keputusan yang tepat melindungi wanita yang sedang mengandung anaknya saat ini, setelah anaknya lahir Ander pastikan wanita itu harus angkat kaki dari kehidupannya.


Tok..tok..


Lamunannya buyar, fokusnya kini teralihkan pada pintu yang diketuk dari luar. Ander meraih remote untuk membuka pintu.


"Darling, kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?" ucap seorang wanita seksi dengan wajah merajuknya.


"Aku sedang sibuk Rose"


"Sibuk? Tapi disini tidak ada berkas apapun. Laptopmu juga tertutup" tanya Rose dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Cukup Rose, ada apa kau datang kesini?"


"Aku ingin memberitahumu bahwa papa ku mengundangmu untuk makan malam di mansionku. Kau bisa datang kan?"


Ander tersenyum miring mendengar ucapan Rose "Untuk apa aku kesana?"


"Oh ayolah sayang, ini papa ku yang mengundang"


"Ku rasa tidak ada alasan untuk aku pergi kesana"


"Kenapa begitu? Kau tidak menyayangiku?"


"Sepertinya kau salah paham pada hubungan kita selama ini Rose"


"Ya, kau salah mengartikan hubungan kita yang sebenarnya"


"Aku sadar, sangat sadar bahwa aku adalah wanita yang spesial untukmu. Kau sampai meninggalkan para ja-lang ja-langmu demi aku!"


"Siapa bilang?" tany Ander sinis.

__ADS_1


"Buktinya setiap malam kau datang padaku." ucapnya percaya diri.


"Dan siang harinya aku bermain dengan wanita lain"


Lidah Rose kelu rasanya, benar. Ander adalah seorang cassanova. Entah siang entah malam pria itu pasti akan melakukannya jika ingin. Rose sampai tidak berpikir sejauh itu. Padahal sebelumnya dia sudah besar kepala karena selama 4 bulan ini Ander selalu datang padanya hampir setiap malam.


"Kau terlalu bodoh jika mengira aku akan cukup dengan satu wanita."


"Kau jahat!" Rose pergi dengan segala kekecewaannya.


Ander hanya mengedikkan bahunya cuek, tidak peduli dengan wanita satu itu toh banyak wanita yang mengantri ingin naik ke atas ranjangnya.


Merasa tidak ada pekerjaan lain, Ander pun bergegas pergi. Kali ini dia memiliki rencana lain. Untuk pertama kalinya dia akan mengunjungi sang anak yang masih berada di dalam perut wanita bernama Ziva.


"Aku akan pulang sekarang, kau urus saja pekerjaan yang masih tersisa"


"Baik Tuan" sahut Rey.


Rey mengernyit heran dia bisa melihat bahwa wajah Ander berbinar bahagia. Padahal sebelumnya dia melihat wanita bernama Rose keluar dari ruangan Ander dengan bercucuran air mata.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan terus mempermainkan wanita Der. Jika kau berniat berubah dan menyadari kesalahanmu pada Ziva, maka aku dengan senang hati akan merelakannya untuk mu. Tapi jika tidak maka aku akan semakin percaya diri untuk memikat hatinya" batin Rey dalam hati.


Matanya menatap punggung kekar Ander yang menghilang dibalik pintu lift.


__ADS_2