
Hari ini Ander menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Pria tampan dan gagah itu melangkah lebar menuju ke arah basemen, tidak ada yang tahu tujuannya kemana kali ini.
"Tuan.."
Langkahnya terhenti karena panggilan dari seseorang yang sangat dia kenali, Ander berbalik lalu menaikkan sebelah alisnya seolah sedang menjawab panggilan tersebut.
"Saya hanya ingin mengingatkan jadwal untuk lusa tuan. Saya berharap anda bersiap- siap dari sekarang" ucapnya yang tak lain adalah Rey.
"Ya, aku ingat"
Rey menatap kepergian mobil Tuan sekaligus sahabatnya yang meninggalkan area basemen. Hubungan keduanya semenjak kejadian yang menimpa Ziva memang sedikit renggang.
Tapi antara Ander maupun Rey keduanya bodo amat akan hal itu.
Dan di sore yang cerah ini Rey berencana untuk menemui sang ibu hamil. Sejauh ini Ander memang tidak pernah melarang Rey untuk bertemu dengan Ziva.
Pria setengah bule itu melangkah pasti menuju mobil sport miliknya. Di perjalanan Rey membelokkan mobilnya ke salah satu toko kue langganannya.
Dia masuk ke dalam toko tersebut dan keluar dengan totebag berisi sebuah kotak kue.
Tanpa ingin pulang terlebih dahulu, mobilnya melesat menuju ke arah pemukiman mansion milik Ander.
Ziva yang saat itu sedang membantu bi Sumi menyiram tanaman di halaman depan menoleh ke asal suara mobil yang melaju mendekatinya. Wanita hamil itu tersenyum lebar melihatnya.
__ADS_1
"Hai bumil"
"Hai. Astaga kemana saja kau? Ini sudah hampir satu minggu dan kau baru mengunjungiku?"
"Oke oke maaf. Kemarin aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dan sebagai gantinya aku membawa cake kesukaanmu"
"Red Velvet? thank you" Ziva merebut paperbag yang disodorkan oleh Rey dan membawanya masuk. Membuat Rey bergeleng kepala dibuatnya.
Ya, sedekat itulah mereka saat ini. Akibat Rey yang sering mengunjungi Ziva dan mengajak Ziva untuk berteman. Maka Ziva bisa seakrab itu dengannya. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Rey berharap lebih.
"Makan secukupnya" peringat Rey setelah melihat Ziva memotong semua bagian cakenya.
"Ish kau ini, suka-sukaku lah daripada Junior kelaparan" sahut Ziva skakmat. Membuat Rey mati kutu. Jika membahas junior dia sudah pasti kalah.
"Selamat datang Tuan" sapa Dark yang kebetulan sedang lewat di halaman depan.
"Hm, dimana kedua anak manusia itu?" tanya Ander to the point.
Untung saja Dark peka maksud dari Ander itu adalah Ziva dan Rey "Mereka ada di ruang tv Tuan"
"Oke"
"Sudah kubilang jangan makan banyak-banyak"
__ADS_1
"Diamlah, kau semakin menambah sakitku!"
"Aku bingung harus bagaimana.."
"..aku coba usap mau?"
"Ya, cobalah mungkin Junior akan sedikit tenang"
Ander mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar percakapan kedua anak manusia itu, entah kenapa dia tidak suka dengan kedekatan mereka.
Rey bahkan dengan mudah bisa mengusap anaknya, sementara dia? Oh tidak ini tidak bisa dibiarkan. Seharusnya dia yang sedang berinteraksi dengan anaknya bukan Rey!
"Kau benar-benar lancang"
Rey yang tengah asik mengusap perut buncit Ziva pun menghentikan gerakannya. Dan menatap Ander yang sepertinya sedang emosi. Sementara Ziva hanya menatap pria itu datar.
"Jauhkan tanganmu dari anakku!"
-
-
-
__ADS_1
Maaf Readers aku baru up lagi, dikarenakan beberapa hari ini ada urusan yang tidak bisa aku jelaskan. Semoga kalian tetap stay baca ya 🤗