
Hari pernikahan Ander dan Ziva akhirnya tiba, sebuah pernikahan fenomenal yang diselenggarakan dengan sangat mewah.
Untuk hari ini keduanya menjadi raja dan ratu sehari. Ander yang tampan dan gagah dengan tuxedo berwarna cream dan Ziva yang memakai gaun pernikahan panjang menjuntai berwarna putih. Perpaduan warna yang sangat pas.
Para investor dan rekan-rekan bisnis GG berbondong-bondong untuk menghadiri pesta, sekadar untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang mereka sebut diam-diam menghanyutkan.
Siapa yang tidak tau tentang seorang Ander, sang cassanova kelas kakap yang hobinya bergonta-ganti lobang. Tapi saat ini mereka justru disuguhkan pemandangan yang sangat langka yaitu kebucinan seorang Anderson Gif yang selalu menatap pengantinnya penuh cinta.
Bahkan tak jarang beberapa orang sampai mengucek matanya karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Satu persatu tamu undangan datang dan tibalah disaat salah satu tamu yang sangat Ziva kenali mendatangi mereka di atas pelaminan. Ya, dia adalah bibinya Ziva.
Ziva mematung ditempatnya karena terkejut dengan kedatangannya, Cate yang sedang berbincang dengan beberapa istri rekan bisnis suaminya langsung mendekat ke arah Ziva. Dia memeluk Ziva dengan sayang.
"Maafkan mommy karena tidak memberitahumu terlebih dahulu. Tapi biar bagaimanapun dia adalah satu-satunya keluargamu yang masih ada bukan?"
__ADS_1
Ziva menatap Cate dengan tatapan yang sulit diartikan lalu tatapannya beralih pada seorang wanita paru baya berpenampilan sederhana yang sedang menunduk. Ander yang juga tidak tau menahu tentang semua itu hanya menatap mommynya dengan bingung.
"Dia adalah bibinya Ziva, mommy yang mengundang dia kesini" seakan mengerti dengan tatapan sang anak yang penuh dengan tanda tanya.
"Zia" panggil Marina pada keponakannya yang sudah beberapa tahun ini kabur dari rumah dan saat ini tiba-tiba menikah.
"Maafkan bibi nak" lirihnya kemudian.
Terlepas dari semua perlakuan buruk mereka di masa lalu, jauh di lubuk hatinya Ziva sangat menyayangi paman dan bibinya. Bukan apa-apa, karena hanya mereka keluarga Ziva yang masih ada.
Tanpa tendeng alih-alih Ziva langsung memeluk bibinya dengan erat "Maafkah aku juga bibi"
"Perkenalkan, dia suamiku Anderson" terang Ziva. Saat namanya dipanggil ada rasa bangga apalagi Ziva menyebutnya suami.
"Halo bibi, perkenalkan saya Ander"
__ADS_1
Wanita paru baya itu tersenyum tipis lalu membalas uluran tangan Ander "Anak yang sangat tampan. Kau pintar memilih pasangan Zia. Kau sangat beruntung" pujinya kemudian.
"Tidak bi, justru aku yang sangat beruntung karena bisa memiliki wanita sebaik dan sesempurna Ziva"
"Aku akan selalu mengharapkan kebahagiaan untuk kalian berdua"
"Terima kasih bibi, oh iya kenapa bibi datang sendiri? Dimana paman?"
Seketika tatapan Marina berubah sendu dan itu tak luput dari pandangan Ander,Ziva, dan Cate "Pamanmu sudah tidak ada Zia, tepat satu tahun kamu kabur dari rumah pamanmu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia"
"Dia terlalu stress memikirkan hutang hingga mengabaikanmu yang pergi entah kemana, dan lama kelamaan dia juga mengabaikanku"
Ziva menatap Marina dengan iba, tapi karena waktu yang terbatas Ziva akhirnya menyuruh bibinya untuk menikmati hidangan sementara mereka melanjutkan acara yang sempat tertunda.
"Mari Nyonya, temani saya untuk menyambut tamu undangan" ajak Cate.
__ADS_1
"Tidak Nyonya, saya malu" tolak Marina yang sadar akan penampilannya.
"Tidak perlu sungkan, sekarang kita ini adalah besan dan kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami" ucap Cate mengingatkan.