
Ander duduk di samping ibunya dengan punggung yang tegak layaknya seorang tentara yang sedang baris berbaris membuat Cate memutar bola matanya malas.
Anaknya ini benar-benar tidak ada sisi-sisi pedulinya, padahal di hadapannya ibunya sedang terbaring lemah. Meskipun hanya rekayasa.
"Apa kabarmu boy?"
"Aku baik" suaranya datarrr sekali.
"Kenapa tidak pernah menjenguk mommy? Apa kau sibuk membuatkanku cucu?"
"Sesuai yang aku janjikan aku akan memberimu cucu, jadi cepatlah sembuh"
"Berbicara memang mudah kan?" Cate meraih tangan anak semata wayangnya.
"Apa wanita itu dengan sukarela mengandung cucuku? Apa dia terima jika kau mengambil anak yang dia kandung nanti dan kau menggantinya dengan uang?"
Ander tersentak darimana ibunya mengentahui rencananya, apa ibunya juga tau kalau dia sedang menyembunyikan seorang wanita yang sedang mengandung anaknya?
"Mommy ibumu, mommy tau arah pembicaraannmu yang dengan mudahnya berbicara akan memberiku cucu tanpa ingin menikah. Mommy memang membebaskanmu boy, tapi untuk berbuat sejauh itu mommy tidak mengijinkannya"
__ADS_1
"Kau menjadi semena-mena karena banyak uang boy" ucap Cate dengan suara lemahnya, wanita itu terbatuk-batuk setelah berbicara panjang lebar pada anaknya.
"Bagaimana lagi cara mommy untuk menebus kesalahan di masa lalu? bagaimana lagi cara mommy untuk bisa mengembalikanmu menjadi Ander yang penuh sayang?" air matanya luruh, ini bukan rekayasa.
Ander bergeming dia hanya menatap datar pada setiap tetes air mata ibunya.
Air mata Cate perlahan berhenti, wanita paru baya itu mengusap pipi basahnya. Tapi Ander sama sekali tidak terusik.
"Lupakan tentang mommy yang memintamu memberikanku cucu, mommy tidak ingin kau melukai seorang wanita yang telah susah payah mengandung anakmu lalu dengan mudahnya kau akan mengambil setelah lahir. Mommy tidak ingin hal itu terjadi"
"Pergilah, mommy ingin sendiri. Terima kasih sudah menjenguk mommy. Maaf telah banyak menuntutmu. Mommy menyayangimu boy, terlepas dari bagaimanapun kamu membenci mommy. Kau adalah anakku satu-satunya. Berbahagialah"
Pintu kamar diketuk dari luar memperlihatkan seorang dokter yang sangat Ander kenali dan seorang perawat yang masuk dengan membawa semangkuk bubur dan air hangat.
"Hai" sapa dokter cantik itu.
"Aku tunggu diluar" ujar Ander datar.
Ya, dia adalah Dokter Lucy. Cate melibatkan banyak orang dalam misinya kali ini. Seharusnya Lucy tidak terlibat karena ini adalah suatu kebohongan dan bertentangan dengan profesinya.
__ADS_1
Lucy tidak tahu apa-apa, dia hanya diberitahu kalau misi ini untuk mencoba menyadarkan Ander saja. Dan Dokter muda itu tentu sangat senang mendengarnya, dia berharap semoga Ander bisa berubah dan melihat ke arahnya.
Lucy mengangguk setelah mendengar perintah Ander.
"Nyonya, apa ada yang masih sakit?" Lucy langsung melancarkan aktingnya. Karena Ander yang masih berada di dalam area kamar.
Setelah memastikan Ander benar-benar keluar. Ketiga wanita berbeda generasi itu menghembuskan nafasnya lega.
"Aktingmu sungguh meyakinkan Dokter Lucy"
"Terima Kasih Nyonya, saya sangat berharap Tuan Ander dapat berubah setelah ini" dokter muda itu tersenyum penuh arti, dan Cate bisa merasakan sesuatu dari senyuman tersebut.
"Nyonya, ini bubur yang anda minta" ujar seseorang berpakaian suster.
"Bumbu lengkap?"
"Tentu saja"
Cate menyambar mangkuk berisi bubur itu dia memakannya dengan lahap.
__ADS_1
15 menit berlalu dan ini adalah waktunya Lucy untuk keluar, gadis manis itu meminta ijin untuk keluar dan akan menemui Ander. Cate tentu mengijinkannya.