
Satu minggu berlalu, hari ini adalah jadwal periksa kandungan untuk Ziva. Wanita hamil itu sedang menggerutu kesal karena menunggu suaminya tak kunjung datang. Padahal Ander sudah berjanji bahwa sore ini akan mengantarnya.
"Ck, sebenarnya dia kemana" tangannya terus saja memeriksa ponsel melihat panggilannya dijawab atau tidak tapi tetap saja ujung-ujungnya hanya operator yang menjawab.
"Coba aku hubungi Rey saja" gumamnya. Tangannya gesit mencari kontak asisten sekaligus sekretaris suaminya di kantor.
Rey memeriksa ponsel yang berdering di dalam sakunya, setelah melihat siapa sang penelepon, Rey memasukkan ponselnya kembali.
"Selamat sore" sapanya pada seorang wanita yang sedang menanti kedatangan seseorang tapi bukan dirinya.
"Pantas saja kau tidak menjawab panggilanku. Rupanya kau ada disini"
"Tentu saja, aku membawa oleh-oleh untukmu Nona" ucapnya seraya menyodorkan paperbag yang dibawanya.
Ziva menerimanya dengan senang tapi sedetik kemudian wanita itu mendelik tidak suka mendengar Rey memanggilnya seperti itu "Kau tau aku tidak suka dipanggil seperti itu"
"Aku hanya takut Ander marah jika melihatmu terlalu akrab denganku" Rey memelankan suaranya dia berbicara dengan nada berbisik.
"Kenapa harus marah? Kau ini sudah ku anggap kakak ku sendiri"
"Ya, tapi kau tentu tau kalau Ander mode cemburu itu terlihat lebih menyeramkan"
"Iya, dia terlihat seperti monster" cebik Ziva yang memang sedang kesal pada suaminya "Lalu dimana bosmu itu?"
"Maksudmu Ander?"
"Tentu saja, siapa lagi"
"Loh, bukannya Ander sudah pulang?"
"Sudah pulang? Tidak ada. Sedari tadi aku menunggunya"
"Dia bahkan pulang lebih cepat 30 menit dariku"
"Lalu kemana perginya dia?"
__ADS_1
"Sudah kau hubungi dia?"
"Sudah, tapi tidak ada jawaban"
"Sebentar" Rey mengeluarkan ponselnya, dia akan mencoba menghubungi Ander sendiri. Tapi benar, tidak ada jawaban.
"Suamiku baik-baik saja kan Rey?"
"Pasti baik-baik saja. Mungkin dia sedang ada urusan lain"
"Tapi tidak biasanya seperti ini"
"Aku akan mencarinya"
"Aku ikut"
"Kau disini saja, saat Ander kembali hubungi aku"
"Tidak, aku ingin ikut denganmu"
"Aku mohon Rey" jelas. Rey melihat kekhawatiran di wajah cantik wanita itu.
Rey akhirnya mengajak Ziva bersamanya, sebelum itu dia memberi tahu bi Sumi supaya menghubunginya kalau Ander datang.
"Menurutmu Ander ada dimana?"
"Em, apa Mommy Cate sudah kembali?"
"Belum, Mommy baru akan kembali besok lusa"
Rey melajukan mobilnya tak tentu arah, dia sudah memeriksa cafe favorit Ander tapi yang dicari tidak ada disana, Rey juga sudah menghubungi Pak Roki kepala pelayan di mansion utama tapi Pak Roki menjawab hal yang sama.
"Sebelumnya kau menunggu Ander bukan? Sebenarnya kau akan pergi kemana?"
Wanita hamil yang sedari tadi terlihat gusar itu menoleh kesamping saat Rey bertanya "Hari ini jadwalku untuk memeriksa kandungan"
__ADS_1
"Baiklah, kita periksa saja dulu baru nanti kita cari Ander lagi. Bagaimana? kau pasti sudah mengambil nomor antrian kan?"
"Tidak perlu, aku ingin mencari suamiku"
"Ya siapa tau Ander ada disana" celetuk Rey tak sadar. Membuat Ziva semakin khawatir.
"Kau benar, baiklah ayo ke rumah sakit"
"Em tentang itu aku.."
"Cepatlah Rey"
"Ah baiklah" Rey merasa bersalah. Pasti sekarang Ziva sedang berpikiran yang tidak-tidak.
Tiba di basemen rumah sakit, pandangan Ziva mengedar dia sedang memastikan mobil milik sang suami ada disana atau tidak.
"Itu mobil suamiku!"
"Iya, itu mobil Ander"
"Ayo kita masuk"
Ziva berlari secepat kilat menuju Unit Gawat Darurat membawa perutnya yang besar, mengabaikan teriakan Rey yang melarangnya berlari seperti itu.
Ziva mengecek satu persatu tirai yang menjadi penyekat ruang IGD itu, tapi tak mendapati sang suami.
"Zi, kau disini?"
"An, astaga apa kau baik-baik saja?" Ziva menghembuskan nafasnya lega saat Ander tiba-tiba muncul dibelakangnya dengan kondisi yang terlihat baik.
"Aku tidak apa-apa Zi"
"Kau membuatku khawatir An. Kenapa panggilanku tidak dijawab?"
"Ah, itu ponselku tertinggal di mobil. Maafkan aku"
__ADS_1
"Baiklah. Lalu apa yang sedang kau lalukan disini?"