
"Jadi kau bertengkar dengannya? Kau itu bodoh sekali! Jika seperti ini maka perusahaanku akan begitu-begitu saja!"
"Aku selalu berusaha untuk mendekati pria itu pa, kusangka dia sudah terjebak dengan pesonaku. Tapi ternyata tidak"
"Kau harus melakukan sesuatu, buat dia terikat denganmu. Cari kesalahannya lalu buat itu menjadi kesempatan"
-
-
-
Setelah merasa puas berenang di sore hari ini, Ziva akhirnya naik ke permukaan. Wanita hamil itu meraih jubah mandinya.
Dia berjalan dengan hati-hati karena area sekitar kolam sangat licin.
"Bi Sumi belum pulang?" tanya Ziva pada si botak di pintu lift.
"Belum non" sahut Jack.
"Ya sudah tidak apa-apa"
Ziva berjalan santai di lantai 3. Wanita itu membuka salah satu pintu kamar yang menjadi kamarnya selama ini. Dia segera membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
Setelah selesai, Ziva mengambil baju piyamanya selama di mansion wanita itu lebih nyaman memakai piyama.
Karena merasa lapar, Ziva pun keluar bermaksud untuk mencari makanan di dapur karena bi Sumi belum juga pulang dari rumah anaknya.
Ya, bi Sumi hari ini ijin tidak bekerja karena harus menjenguk cucunya yang sedang sakit.
Saat membuka pintu bersamaan dengan itu pula pintu disamping kamarnya terbuka dari dalam dan memperlihatkan seorang pria yang sangat tidak ingin Ziva lihat keberadaannya.
Seketika itu suasana menjadi canggung, tidak ada pergerakan dan percakapan dari keduanya. Mereka sama-sama terkejut.
"Ekhem" Ander berdehem pelan.
"Sudah selesai berenangnya?"
Ziva bergeming. Wanita itu sedang menahan hatinya supaya tidak terusik lagi. Jujur saja setiap melihat Ander disaat itu pula dia melihat kelakuan bejatnya.
"Sejak kau berenang tadi"
"Kau datang ke kolam renang?"
"Ti-tidak, aku mengetahuinya dari Dark"
"Dark?" Ziva mengernyit heran karena merasa tidak kenal dengan orang bernama Dark.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan ganggu aku" ucap Ziva kemudian. Dia tidak ingin egois, dia jelas tau kalau Ander mempunyai hak tinggal disini.
"Apa anakku baik-baik saja?"
Ucapan itu berhasil menghentikan langkah Ziva. Dia merasakan gelenyar aneh dalam hatinya setelah mendengar Ander berucap 'anakku'.
"Ya, dia baik-baik saja. Terima kasih sudah memberi tempat tinggal yang nyaman untuknya" Ziva cukup sadar diri akan itu.
"Tidak masalah, aku hanya ingin anakku baik-baik saja"
"Oke"
Setelah mengatakan itu Ziva benar-benar pergi dari hadapan Ander. Wanita itu buru-buru menutup pintu lift karena takut Ander juga akan turun dan akan berada di satu lift yang sama dengannya.
Ziva membuang nafasnya lega wanita itu benar-benar gugup berhadapan dengan Ander. Dia takut hal itu terjadi lagi.
"Bantu mommy ya nak" ucapnya lembut pada sang buah hati.
"Kurasa aku harus menghubungi bi Sumi agar cepat pulang" Ziva merogoh saku piyamanya. Dia mengeluarkan benda pipih pemberian Ander waktu itu.
Setelah menghubungi bi Sumi, Ziva duduk termenung di ruang makan ditemani dengan beberapa buah pisang. Entah berapa buah yang sudah dia makan. Yang jelas kulit pisang itu sudah menumpuk di hadapannya.
"Apa tidak apa anakku kau beri makan pisang sebanyak itu?" tanya Ander yang entah sejak kapan duduk di hadapan Ziva.
__ADS_1
Ziva tentu terkejut tapi wanita itu sangat pandai menutupi keterkejutannya.
"Tidak" sahutnya seraya bangkit dari kursi yang dia duduki. Sebisa mungkin dia akan menghindari pria ini.