
Karena Ander dan Mike malah terlihat cekcok sampai hampir adu jotos. Akhirnya petugas sipir membawa tahanan mereka untuk masuk sementara Ander sedang ditenangkan oleh Ziva. Saat sipir mengajak Tara untuk masuk kembali ke dalam sel. Wanita itu menyempatkan diri untuk menatap Ziva.
Ziva yang mengerti dengan arti tatapan Tara akhirnya menghampiri wanita itu, sejenak mereka saling pandang. Sampai Tara memutuskan pandangan keduanya.
"Aku tidak pernah tahu apa kesalahanku padamu selama ini, kau benar-benar merubah hidupku sampai sejauh ini. Tapi yang jelas kali ini aku tahu kalau kau melakukan semua ini hanya karena cinta"
Tara mulai menangis, air mata yang sedari tadi dia bendung akhirnya luruh juga. Wanita itu bersimpuh di kaki Ziva penuh rasa sesal "Ziva kumohon maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku, maaf telah mengganggumu lagi. A-aku tahu ini salah aku mohon maafkan aku Ziva, bebaskan aku dari sini aku sudah lelah"
Ziva gelagapan karena Tara tiba-tiba bersimpuh di kakinya, dia meminta sipir untuk membangunkan Tara tapi Tara tetap tidak bergerak dari posisinya.
"Aku sudah memaafkanmu Tara. Tapi aku tidak bisa membantu banyak, semuanya sudah menjadi keputusan suamiku" jawab Ziva kemudian membuat Tara menghentikan tangisnya. Wanita itu mendongak untuk menatap wajah Ziva dengan tatapan memohon.
"Maafkan aku Tara, suatu hari nanti aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu"
Ziva tak tahan melihat Tara hancur seperti itu, sebesar apapun kekecewaannya terhadap sikap Tara. Tapi tetap saja Ziva sangat menyayangi. Apalagi hanya Tara lah yang selama ini menemaninya.
"Ayo kita pulang An"
"Ku rasa semuanya sudah cukup Zi, biar mereka merenungi kesalahannya"
__ADS_1
Ziva mengangguk, dia mengikuti langkah suaminya yang saat ini menggenggam erat tangannya. Sementara Tara hanya menatap sayu kepergian Ziva, memang semua ini adalah salahnya. Jika saja dia tidak menuruti keinginan Mike, semuanya tidak akan seperti ini.
-
-
-
Saat sampai di mansion, rupanya Cate dan Bram sudah ada disana. Mereka sangat terkejut dengan kabar yang tersebar jika Nona Muda Gif menjadi korban penculikan. Padahal Ander sudah menutup rapat berita ini tapi tetap saja bocor.
"Ya ampun Sayang, kau tidak apa-apa kan nak?" tanya Cate khawatir.
"Aku baik-baik saja Mom"
"Benar Dad, tapi untungnya aku bergerak cepat hanya 3 jam saja Ziva diculik"
"3 detik 3 menit 3 jam penculikan ya tetap penculikan, itu tindak kriminal Der" balas Cate geram
"Aku sudah membereskannya Mom"
__ADS_1
"Siapa yang sudah berani melakukan itu pada menantuku?"
"Orang-orang yang aku kenal di masa lalu ku Mom"
"Hah, bagaimana bisa? Apa kau punya masalah dengan mereka sebelumnya Zia?" sahut Marina.
"Jelas tidak bi, mereka yang mencari masalah dengan istriku"
"Ya sudah sudah, tidak apa-apa yang terpenting sekarang Ziva sudah baik-baik saja dan mereka juga sudah ditangkap. Kau pasti lelah kan Sayang? Beristirahatlah"
"Terima kasih Mom. Bi, Dad, Mom aku pamit ke atas dulu"
Semua orang yang berada di depan pintu itu mengangguk. Ander dengan setia mengekor istrinya, pria itu merangkul bokong istrinya yang semakin hari semakin besar saja.
"Apa benar kau lelah?" tanya Ander saat memasuki lift.
"Memangnya kenapa?" balas Ziva seraya mengerlingkan matanya.
"Rupanya istriku sudah mulai nakal ya"
__ADS_1
"An, turunkan aku" protes Ziva saat Ander menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar mewah mereka.
"I want you" bisik Ander di ceruk leher istrinya membuat Ziva mendesis geli.