
"Jadi, apa benar mommyku itu sakit?"
"Seperti yang kau lihat"
"Awalnya aku ragu akan keadaan mommy ku, tapi setelah melihatmu disini. Aku yakin semua ini bukan rekayasa"
Lucy tersenyum manis sekali "Berubahlah, sebelum kau menyesal di kemudian hari"
Ander bergeming. Dia hanya menatap Lucy datar. Pria itu pergi tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Lucy yang berharap Ander menjawab ucapannya.
"Kuharap kau bisa berubah"
-
-
-
Ander tidak pulang. Pria itu pergi ke kamar pribadinya yang berada di mansion utama. Pria itu membanting tubuhnya di ranjang empuk berukuran king size.
"Kau menjadi semena-mena karena banyak uang boy"
__ADS_1
"Lupakan tentang mommy yang memintamu memberikanku cucu, mommy tidak ingin kau melukai seorang wanita yang telah susah payah mengandung anakmu lalu dengan mudahnya kau akan mengambil setelah lahir. Mommy tidak ingin hal itu terjadi"
"Apa benar wanita itu nanti akan terluka?"
"Apa aku benar-benar keterlaluan mempunyai rencana seperti itu?"
Ander bergelut dengan pikirannya sendiri. Apa selama ini kelakuannya adalah salah? Bukankah adil? Dulu juga begitu mudahnya dia dihancurkan oleh seorang mahluk bernama wanita.
Lalu dimana letak kesalahannya?
Sebut saja Ander bodoh, usianya bahkan sudah menginjak 30 tahun tapi pikirannya seperti anak remaja. Yang seharusnya dia hancurkan adalah wanita itu, bukan wanita lain.
flashback on
Cate bilang dia akan berusaha sebisa mungkin supaya Ander mau menikahi Ziva. Ziva tentu menolak dia tidak ingin mempunyai ikatan dengan pria brengsek itu.
Tapi Cate bilang "secara tidak sadar kalian berdua memiliki ikatan, yaitu anak ini. Cucuku. Dan aku tidak ingin saat dia lahir nanti dia kekurangan kasih sayang dari ibu dan ayahnya"
Ziva yang dasarnya keras kepala terus menolak permintaan Cate. Membuat Cate harus memutar otak supaya Ziva mau meski belum tentu juga Ander setuju. Dia yakin, sekeras-kerasnya Ander pasti anak itu akan luluh juga.
Mau tidak mau Cate pun terpaksa mengeluarkan cara terakhirnya "Jika kau masih tidak mau, lebih baik gugurkan kandungannya dari sekarang. Bukankah keras kepalamu ini terjadi karena kehadirannya adalah sebuah kesalahan?"
__ADS_1
Ziva menunduk dalam, wanita hamil itu mengusap perutnya pelan. Dia sudah sangat menyayangi kandungannya. Meski memang benar kehadirannya adalah sebuah kesalahan.
Tapi untuk melenyapkannya, tentu Ziva tidak mau. Dia menginginkan anak ini.
"Baiklah aku mau. Tapi.."
Cate yang tau arah pembicaraan Ziva langsung merespon "Aku. Aku yang akan menjamin anakku sendiri. Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji akan hal itu"
Ziva mengangguk sebagai jawaban. Membuat Cate senang.
"Sekarang panggil aku mommy dan panggil suamiku daddy, ayo"
"I-iya mom"
Cate tersenyum bangga. Dia akan segera mempunyai cucu dan menantu. Cate tidak marah karena dilihat dari segimanapun Ziva adalah wanita yang baik. Wanita itu sangat sopan, pertama kali melihatnya Cate langsung menyukainya.
Ziva tidak seperti wanita kebanyakan yang akan mencari-cari perhatiannya agar dijadikan menantu. Ziva justru malah menolak saat ditawarkan secara cuma-cuma.
Wanita paru baya itu benar-benar berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan membujuk Ander bagaimanapun caranya, dia akan menebus kesalahan anaknya pada wanita yang tengah mengandung cucunya ini.
flashback off
__ADS_1