
Ander memutuskan untuk segera kembali, dia yakin bahwa saat ini dia sudah benar-benar melupakan Clara.
Sudah waktunya dia fokus terhadap sang anak yang masih berada di dalam kandungan. Pagi ini Ander sudah dalam perjalanan. Dia mendapat kabar dari Rey kalau Ziva sedang berlibur ke salah satu pantai di pinggir kota.
Ander akhirnya memutuskan untuk langsung menyusul kesana. Butuh waktu sekitar 3 jam lagi.
"Tuan, sudah sampai" ucap sang supir.
Ander mengangguk sebagai jawaban, pria tampan itu akhirnya turun dari mobil mewahnya.
Matanya memindai tempat penginapan yang Rey sewa untuk Ziva selama berlibur. Sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari bambu namun masih tampak elegan.
Penjaga penginapan memang sudah tahu kalau Ander akan datang, pria paru baya itu menghampiri Ander yang masih belum beranjak dari tempatnya, seperti sedang mencari seseorang karena keadaan penginapan sangat sepi.
"Selamat datang di tempat kami Tuan"
Ander hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Mari saya antar menuju kamar anda Tuan, anda pasti sangat lelah di perjalanan"
Pria paru baya itu mulai berjalan dengan Ander yang mengekor di belakangnya.
"Ini kamarnya Tuan"
"Ya, terima kasih"
Penjaga penginapan itu hanya tersenyum tipis "Nona muda sedang berada di pinggir pantai Tuan, dia sangat senang dengan suasana di sini" ucapnya seakan mengerti dengan arti mata Ander yang sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
"Oke"
Ander akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dia menjadi malu sendiri ketika ketahuan sedang mencari Ziva. Padahal dia sedang mencari anaknya bukan Ziva nya. Lalu kenapa harus malu?
Ander menggeleng, dia akan membersihkan diri terlebih dahulu lalu menyusul Ziva di pinggir pantai.
Selang beberapa menit Ander sudah siap dengan setelan pantainya. Celana pendek, kaos putih dan kemeja surfing sangat pas di tubuh kekarnya. Tidak lupa dia juga mengambil kacamata hitam dari dalam tas miliknya.
Pria tampan itu berjalan dengan gagah, matanya mengedar mencari sang wanita. Dan ternyata yang dicari sedang asik membuat istana pasir.
"Mau aku bantu?" ah suara maskulin yang terdengar sangat seksi. Tapi tidak untuk Ziva, moodnya hancur seketika setelah mendengar suara itu. Tentu dia sangat kenal kepada si pemilik suara.
"Tidak perlu" jawab Ziva ketus.
Ander hanya tersenyum tipis mendengar ucapan ketus dari Ziva.
"Kenapa sendiri? Dimana bi Sumi?"
Keduanya kembali diam. Karena Ander yang bingung harus membuka pembicaraan darimana.
Sementara Ziva sedang sibuk mengumpulkan pasir sambil memikirkan sesuatu "Kenapa pria ini jadi banyak bicara?"
"Tuan" keduanya menoleh ke asal suara dimana bi Sumi sedang berdiri dengan skop pasir di tangannya.
"Kapan Tuan datang? Maaf bibi tidak menyambut, bibi tidak tahu Tuan akan menyusul kesini" omong kosong. Ini hanya akal-akalan Ander saja supaya Ziva tidak tahu dengan kedatangannya yang sengaja.
Sebelumnya Rey sudah mengabari bi Sumi bahwa Ander akan menyusul oleh karena itu bi Sumi memerintahkan penjaga penginapan untuk menyiapkan satu kamar lagi.
__ADS_1
"Tidak apa. Aku baru saja datang"
"Baiklah. Nona ini sekop nya"
"Terima kasih bi"
Wanita itu benar-benar mengabaikan Ander. Dia sibuk dengan istana pasir buatannya.
Ander tak mempermasalahkan itu, dia lebih memilih untuk duduk dan bersantai di kursi yang sudah tersedia disana. Jika dipikir-pikir sudah lama juga dia tidak berlibur ke pantai.
Tanpa melepas kacamata hitamnya Ander terus memantau Ziva dari sana. Wanita itu terlihat sangat cantik memakai baju dan celana pendek yang dibalut kardigan panjang berwarna putih.
Ziva duduk diatas pasir dengan tangan yang sibuk mengisi cetakan-cetakan yang tersedia untuk membentuk istana pasir.
30 menit berlalu, selama itu pula Ander tidak mengalihkan pandangannya. Istana pasir yang Ziva buat sudah jadi.
Saat ini Ziva sedang meminta bi Sumi untuk memotretnya di samping istana pasir buatannya.
"Ponsel bibi ada di penginapan Nona "
"Ambil dulu bi aku ingin berfoto dengan istana pasirku"
"Ah, baiklah"
"Pakai ponselku saja" tawar Ander.
"Tidak perlu, biar bi Sumi mengambil ponselnya saja" tolak Ziva.
__ADS_1
"Pakai saja bi" ucap Ander tanpa menghiraukan penolakan Ziva.
"Dasar pemaksa!" gerutu Ziva.