
Pagi hari menjelang, Ziva dan Ander harus mendatangi kantor polisi lagi hari ini. Karena semalam mereka memutuskan untuk pulang karena Ziva mengalami kram di perutnya.
"Kau yakin akan ke kantor polisi sekarang Zi?"
"Aku yakin An"
"Aku takut kau kram lagi, kita undur besok saja ya"
"Aku baik-baik saja An, sungguh"
"Ya sudah baiklah. Ayo kita berangkat"
Saat sampai di kantor polisi, yang Ziva cari pertama kali adalah tersangka dari penculikannya. Matanya terus mencari-cari keberadaan mereka disana.
"An, apa boleh aku menemui mereka dulu?"
"Polisi akan meminta kesaksianmu dulu Sayang"
"Ya sudah, tapi ijinkan aku bertemu dengan mereka setelah ini"
"Tentu, aku akan menemanimu"
__ADS_1
Ziva memberi kesaksiannya kepada pihak kepolisian, wanita itu menjelaskan semua yang terjadi dari awal dengan sedetail mungkin.
"Terima kasih atas informasinya Nona Gif"
"Sama-sama Sir. Apa kami boleh bertemu dengan mereka sekarang?"
"Silahkan, kalian akan diantar sipir" Petugas kepolisian itu memanggil salah satu sipir untuk mengantar Ander dan Ziva menuju ke ruang tahanan.
"Mari Tuan, Nona"
Ziva mengangguk, wanita itu berjalan tepat di belakang sipir tersebut dan Ander dengan setia menggandeng wanitanya.
"Aku ingin bertemu dengan mereka berdua sekaligus"
"Kenapa kalian melakukan semua ini padaku?" tanya Ziva lirih.
Disaat Tara hanya diam tak berani menjawab, suara Mike disebelahnya menarik perhatian semua orang yang duduk di meja panjang itu "Karena aku mencintaimu"
"Tutup mulutmu itu!" geram Ander tak suka.
"Bukankah Zivaku bertanya? Tidak salah kan kalau aku menjawabnya?"
__ADS_1
"Kau.."
"An, kumohon diam dulu" Ander segera mengunci mulutnya. Walau sebenarnya dia sangat-sangat ingin menghadiahkan bogem mentah di wajah yang sudah babak belur itu. Jangan tanya ulah siapa, sudah jelas itu ulah Rey.
"Tara, apa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?"
"Ma-maaf" jawab Tara yang masih setia menunduk.
Ziva menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya pelan. Matanya beralih menatap Mike. "Apa kau tahu kalau aku sudah bersuami?"
Mike tertawa meremehkan "Suami terpaksa? Jika kau bersedia menikah denganku. Aku pasti akan dengan senang hati menerima kehamilanmu Ziva. Terlepas dari siapapun ayah kandungnya"
Ander meradang mendengar jawaban dari Mike "Kurasa percuma bicara padanya Zi, dia ini orang gila!"
"An" Ander kembali mengunci mulutnya menahan rasa kesal.
"Mike dengarkan aku. Seperti yang kau ketahui, aku ini sudah menikah dengan Ander. Dia adalah suamiku, ayah dari anak yang sedang aku kandung. Dan perlu kau tahu, dia bukan suami terpaksa. Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Ku tegaskan kalau kami ini saling mencintai dan aku sangat bahagia bersamanya. Kumohon lupakan perasaanmu itu karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Bukalah matamu, aku yakin akan ada seorang wanita yang mencintaimu setulus hatinya, tapi yang jelas itu bukan aku"
"Tapi yang aku inginkan itu cuma kamu Ziva"
"Sudahlah Zi. Kau lihat bukan? Pria ini gila, sekeras apapun kau berbicara padanya. Dia tidak akan pernah mengerti" ucap Ander jengah sendiri.
__ADS_1
"Diamlah, kau tidak tahu apa-apa tentang kami" balas Mike sengit.
"Tentu aku tahu karena istriku menceritakan banyak hal tentang kalian padaku. Kau berlagak seperti orang tidak laku saja. Kau ini bodoh atau bagaimana? lihatlah wanita yang berada disebelahmu, dia itu mencintaimu!"