
Ziva kembali sadar dari alam mimpinya yang menenangkan. Indera penglihatannya mengedar, kembali dia tersadar di ruangan yang berbeda.
Semerbak wangi maskulin mulai menyentuh indera penciumannya.
"Aku dimana" lirihnya pelan.
Keping-keping ingatan sebelum dirinya tidak sadarkan diri mulai berputar di kepalanya.
Ziva mengusap perutnya dengan lembut, lalu tersenyum tipis. Dia tentu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, tapi dia juga bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ibu. Meskipun dengan cara yang salah.
Tes.
Air matanya luruh. Dia sempat ingin mengakhiri hidupnya beberapa waktu lalu. Tanpa tahu bahwa di dalam dirinya sedang tumbuh kehidupan yang baru. Sungguh berdosa jika dia harus mengorbankan janin yang tidak bersalah.
Ziva mengusap air matanya dan tersenyum lebar, dia mencoba berkomunikasi dengan sang buah hati "Hallo, anak mommy. Apa kamu baik-baik saja disana? Maafkan mommy ya nak. Setelah ini mommy janji akan menjadi mommy yang kuat untukmu"
Ceklek.
Ziva melongok ke arah pintu yang terbuka dari luar. Rupanya seseorang berusaha masuk itu adalah bi Sumi.
"Nona, anda sudah bangun?"
"Sudah bi"
"Ada yang sakit?"
"Tidak bi, aku lebih enakan sekarang"
Arah pandang bi Sumi seketika turun melihat Ziva yang sedang mengusap perutnya lembut.
"Nona harus kuat ya, kasihan Junior"
__ADS_1
"Junior?"
"Iya, bibi akan memanggilnya Junior sampai lahir"
"Bagus sih bi. Oh iya, ini dimana bi?"
Bi Sumi sedikit ragu untuk menjawab, dia takut mental Ziva kembali terguncang jika menyinggung tentang Ander. Ziva menatap bi Sumi dengan tatapan yang menuntut jawaban.
"Ini..di mansion Tuan Ander nona"
"Oh, iya bi" ucap Ziva seraya menundukan kepalanya.
"Nona tidak apa-apa?" tanya bi Sumi panik.
"Aku baik-baik aja bi. Apapun yang terjadi aku tidak akan merasa terbebani lagi, yang penting itu tidak membahayakan aku dan anakku. Bukankah aku harus kuat untuk Junior?" ucap Ziva berlapang dada.
"Bibi akan selalu ada di samping nona"
kruyukk kruyukk..
"Ya ampun non, maaf bibi sampai lupa kalau nona belum makan"
"Tidak apa bi. Ahh aku sampai tidak sadar beberapa waktu lalu porsi makanku tidak seperti biasanya dan banyak sekali yang aku inginkan"
Bi Sumi tersenyum lembut sembari mengusap tangan Ziva dengan pelan "Ayo kita turun, pelayan sudah menyiapkan makanan untuk nona"
Akhirnya kedua wanita berbeda usia itu keluar menuju lantai dasar dengan menggunakan lift yang tersedia di mansion super megah ini.
Mansion berlantai tiga itu terasa sangat sepi atau bahkan sebelumnya memang tidak berpenghuni. Entahlah Ziva belum mengetahuinya.
"Biasanya aku naik lift di mall atau di kantor bi, bukan di rumah"
"Biasakan lewat lift ya non, jangan lewat tangga. Biar nona tidak kelelahan"
__ADS_1
Di pintu lift bawah ternyata dijaga oleh si kembar botak. Membuat Ziva seketika berbinar melihatnya.
"Hai botak!"
"Selamat malam nona" ucap mereka serempak.
"Setelah ini aku akan banyak mengidam, jadi persiapkan mental kalian ya!" ucap Ziva kegirangan.
Sementara si botak menelan ludahnya kasar. Mengingat beberapa waktu lalu mereka disiksa Ziva akibat ngidam yang tidak disadari.
Bi Sumi hanya menggelengkan matanya dengan tersenyum geli melihat ekspresi si kembar botak.
"Syukurlah nona Ziva kembali ceria lagi" gumamnya dalam hati.
-
-
-
Sementara di tempat lain, Ander dan Rey tidak henti-hentinya bersitegang. Rey masih tidak terima ketika Ander membawa pulang Ziva dengan paksa ke mansionnya.
"Aku tidak yakin kau bisa merawatnya!"
"Memang bukan aku yang akan merawatnya. Aku terlalu sibuk untuk mengurusi satu wanita itu"
"Oleh karena itu, biarkan Ziva bersamaku. Itu jauh lebih baik dan aman"
"Kau pikir aku akan menyiksanya?"
"Jelas, kau menyiksa mental gadis polos itu. Kau sudah merusaknya!"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan Rey?"
__ADS_1