
"Pa, pokoknya Nara tetap tidak mau dijodohkan, dengan anaknya teman Papa itu! Dan, kalau Papa terus memaksa, mending Nara pergi aja dari rumah ini!'' ancam Nara pada sang Papa, sambil berjalan menghampiri sang Papa yang sedang serius membaca Koran di Ruang Keluarga.
"Pasti rencana aku kali ini untuk pergi dari rumah akan berhasil, soalnya Papa kan sayang banget sama aku." ucap Nara dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
''Oh, jadi kamu nantangin, Papa? kamu mau pergi dari rumah ini? ya sudah, kalau begitu kamu pergi saja!'' ucap sang Papa dengan cuek, sambil melirik sekilas ke arah Puteri semata wayangnya itu.
''Ha, kok papa malah ngijinin aku pergi sih.'' ucap Nara dalam hati dengan raut wajah paniknya.
''Oh iya, Sayang, kalau kamu mau pergi dari rumah ini, tolong kamu kembalikan dulu ATM, dan kunci mobilmu, dan satu lagi pesan Papa, jangan pernah kembali sebelum kamu bisa mengumpulkan uang 100 juta dalam waktu 1 tahun!'' ucap Papa Nara menantang sang puteri dengan tegas.
''Papa bilang apa barusan? jangan bercanda, Pa, gak lucu!'' ucap Nara sambil terkekeh geli, Nara yakin itu hanyalah sebuah gertakan dari Sang Papa, karena dirinya tahu bahwa Papanya itu sangat menyayanginya dan tak akan bisa hidup tanpa dirinya.
''Emangnya, Papa pernah bercanda?'' tanya balik sang Papa, yang membuat Nara langsung melongok tidak percaya.
"Mampus aku, jangan bilang kalau Papa serius sama ucapannya barusan, haisshh, kenapa jadi rumit kayak gini sih, aku kan cuma bercanda bilang gitu supaya papa batalin perjodohan sialan itu, dan sekarang malah di suruh pergi beneran dari rumah!'' ucap Nara dalam hati sambil menepuk keningnya pelan.
Nara lupa jika sang Papa adalah orang yang sangat tegas, dan sang Papa juga tidak pernah main main dengan ucapannya.
Nara yang merasa terjebak dengan ancamannya sendiri, akhirnya memutuskan untuk pergi beneran dari rumah, tentunya setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dengan Sang Papa, karena pada awalnya dirinya hanyalah pura pura mengancam Sang Papa, namun dirinya tidak menyangka malah di suruh pergi beneran dari rumah mewahnya itu.
Beberapa jam kemudian...
Nara yang sudah berjalan cukup jauh dari rumahnya, langsung menghentikan langkahnya, dan kemudian duduk di kursi taman yang ada di pinggir jalan.
''Hah, sumpah gue capek banget, dari tadi muter muter gak ada tujuan, malah haus lagi!'' ucap Nara sambil memegangi tenggorokannya yang terasa sangat kering.
Nara yang tidak membawa dompet dan juga uang sepeser pun, hanya bisa memukul mukul pelan keningnya, sambil merutuki kebodohannya.
Tak lama kemudian, dirinya langsung teringat akan sesuatu, dan langsung merogoh saku celananya dengan cepat, karena seingatnya, dirinya pernah menyimpan uang didalam sana.
__ADS_1
''Yes, tuh kan bener ada uangnya!'' teriak Nara dengan senang, sambil mengeluarkan selembar uang dari dalam saku celananya.
Matanya langsung membulat sempurna, saat melihat uang yang baru saja di ambilnya dari dalam saku celananya.
''Yah, cuma goceng!! buat beli boba juga tidak cukup!'' ucap Nara dengan lirih sambil menatap uang gocengan yang ada di tangannya.
Dia terus memandang nanar ke arah selembar uang bergambar seorang wanita yang sedang menari Gambyong tersebut. Dan tanpa sengaja, matanya tidak sengaja melihat seorang penjual es keliling diseberang jalan.
Nara langsung tersenyum lebar dan kemudian langsung menghampiri sang penjual es keliling tersebut. ''Lumayan lah bisa ngilangin haus dikit dikit!'' ucap Nara dengan sedikit terkekeh,
Nara langsung beranjak dari duduknya, dan segera melangkahkan kakinya untuk segera menyeberang jalan, namun tiba tiba dari arah berlawanan, sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi, dan tanpa sengaja menyerempet Nara hingga dirinya terjatuh di jalanan.
Akkhh...!
''Woi, bisa nyetir gak sih?'' tanya Nara dengan nyolot.
Seorang pemuda tampan langsung keluar dari dalam mobilnya dengan panik, saat melihat seorang gadis yang terserempet mobilnya.
''Maaf, maaf, Aku tidak sengaja, kau tidak apa apa kan?'' Tanya pemuda tampan itu dengan raut wajah khawatir.
''Ah elah, lo gak lihat kaki gue luka seperti ini? kalok sampai di amputasi, gimana coba? terus ini kaki gue juga kayaknya terkilir deh!'' ucap Nara dengan lebaynya.
''Ha? di amputasi?'' Pemuda tampan itu bergumam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Astaga, ini orang lebay banget sih, luka seperti itu palingan di kasih obat biru juga sembuh!'' bathin sang pemuda itu sambil melihat luka lecet di kakinya.
''Heh, malah bengong lagi, tanggung jawab lo!'' ucap Nara dengan garang, membuat pria tampan itu langsung tersadar dari lamunannya.
''Oh iya, Aku pasti akan tanggung jawab, Ayo ku antar ke tukang urut sekarang!'' kata sang pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
''Mau ngapain ketukang urut?'' tanya Nara dengan wajah bingungnya.
"Bukannya, tadi kau bilang kakimu terkilir? ya sudah. Ayo, sekarang juga Aku antar ketukang urut, Aku lagi buru buru, mau balik lagi ke kantor!'' jelas pemuda tampan itu.
''Gue, gak mau!'' tolak Nara sambil membuang pandangannya ke arah lain.
''Kenapa?'' tanya pemuda itu sambil menautkan kedua alisnya. Namun Nara tetap bersikeras mengatakan tidak mau.
''Lalu Kau mau bagaimana?'' tanya sang pemuda itu lagi, sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya
''Yaaa, pokoknya gue gak mau dibawa ketukang urut titik!'' ucap Nara sambil merotasikan kedua bola matanya dengan kesal.
''Ya sudah, begini saja, kau ikut kerumahku sekarang, nanti pembantuku yang urus, soalnya Aku lagi buru buru ini!'' ucap si pemuda yang akhirnya mengalah, sambil terus melihat jam dipergelangan tangannya
''Haishh... gitu kek dari tadi, ya udah yuk.. let's go! gue uda haus banget ini!'' ucap Nara yang langsung masuk kedalam mobil membuat sang pemuda tampan itu langsung menggelengkan kepalanya.
''Bukannya tadi katanya kakinya terkilir yah? kok tiba tiba langsung bisa jalan?'' ucap sang pemuda itu dalam hati sambil berjalan menyusul Nara yang sudah anteng duduk di dalam mobilnya.
Setelah mereka selesai memakai safety belt nya, mobil mewah itu pun langsung melaju dan mulai bergabung dengan kendaraan lain di jalanan. Di dalam mobil keduanya hanya saling diam dengan fikiran masing masing.
🌺🌺🌺
Agam Lawrenz
Naraya Putri Arkhatama
__ADS_1