
Papa Tama yang menyadari kesedihan di raut wajah Puterinya itu, langsung menggenggam jemarinya, Nara langsung menoleh ke arah Papanya dengan senyum yang di paksakan, ''Jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja!'' ujar Papa Tama sambil meraihnya ke dalam pelukkannya. Nara hanya menganggukkan kepalanya sambil menelusupkan kepalanya di dalam pelukan sang Papa, pelukan yang selalu di rindukannya beberapa bulan terakhir ini, dia sangat bersyukur memiliki seorang Papa yang sangat menyayanginya, baginya Papa adalah cinta pertama dan cinta terakhirnya, tidak ada yang bisa menggantikan posisi sang Papa di dalam hatinya. Karena hanya Papanya lah yang sangat mengerti dan memahami keinginannya,
Papa Tama langsung menciumi pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang, Papa Tama merasa menyesal karena sudah menjodohkan sang Puteri dengan lelaki pilihannya, andai saja waktu itu dia tidak bersikeras untuk menikahkan Nara dengan Agam, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Ini semua adalah salahnya, penderitaan Nara selama beberapa bulan ini adalah karena kelalaiannya yang sudah salah memilihkan suami untuknya. Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. ''Maafkan Papa, my sweet heart!'' ujar Papa Tama dengan suara seraknya, Nara lanhsung mendongak menatap sang Papa yang ternyata matanya mulai berkaca kaca, Nata langsung menghapus air mata di wajah sang Papa dengan ibu jarinya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ''Ini semua bukan salah Papa, jadi jangan terus terusan meminta maaf sama Nara, Pa!'' ujar Nara sambil tersenyum tulus, Papa Tama langsung meraih tangannya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang,
Papa Bara yang sejak tadi melihat interaksi antara menantu dengan besannya itu, langsung menghampiri keduanya yang berada di atas ranjang pasien, ''Papa minta maaf untuk semuanya, Sayang!'' ucap Papa Bara sambil mengelus rambut hitam Sang Menantu,
''Ini bukan salah Papa, jadi jangan merasa bersalah seperti itu, Pa!'' ucap Nara sambil tersenyum ke arah mertuanya itu.
__ADS_1
''Oh iya, bagaimana jika kau ikut pulang bersama kami ke Indonesia, Sayang?'' tanya Papa Tama yang berusaha mencairkan suasana haru di antara mereka.
Abi yang sedang bermain dengan Arisha, langsung menoleh ke arah Papanya Nara itu.
''Nara masih ingin di sini, Pa!'' jawab Nara sambil menoleh ke arah sang Papa yang terlihat kecewa.
''Baiklah kalau seperti itu, nanti Papa akan sering sering mengunjungi kalian berdua di sini!'' kata Papa Tama pada akhirnya.
__ADS_1
''Hallo Arisha, Uncle Bi pergi dulu ya!'' pamit Abi pada bayi mungil itu, setelah dirinya selesai menerima telepon dari sang sekretaris bahwa hari ini ada meeting dadakan dengan para pemegang saham. Setelah itu Abi langsung pamit kepada semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
''Cepat sehat ya, biar bisa marah marah lagi!'' ucap Abi kepada Nara sambil terkekeh, membuat Nara langsung berdecak kesal dan merotasikan bola matanya dengan malas.
''Aku hanya bercanda!'' ujar Abi lagi sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Mereka semua hanya tertawa melihatnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Jangan lupa kasih like ya kaka kaka cantik😇
__ADS_1