
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tidak terasa sudah sebulan Nara bekerja sebagai pelayan pribadi dari seorang Abidzar Rafendra. Dia sungguh sangat menikmati pekerjaannya saat ini, dan lagian Abi juga memperlakukannya dengan sangat baik, Nara juga sudah menganggapnya sebagai seorang sahabat, mereka juga terlihat sangat akrab, di mana ada Nara maka di situ juga pasti ada Abi. jika orang yang melihat keakraban mereka pasti akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih.
''Aaaaaa...!'' teriak Nara dengan sangat kencang membuat seluruh penghuni yang ada di rumah Abi langsung berlari terburu buru ke arahnya, termasuk Abi yang akan sarapan langsung berlari kencang ke arahnya,
''Ada apa?'' tanya Abi dengan panik sambil menatap Nara yang tadi berteriak dengan sangat histeris.
''Apakah timbanganmu ini sedang rusak?'' tanya Nara dengan wajah polosnya sambil menunjuk timbangan yang ada di bawah kakinya, mata Abi langsung mengikuti arah telunjuk nya, dan terdiam sejenak saat melihat angka yang tertera di timbangan tersebut.
''Sepertinya timbangan itu benar!'' ujar Abi sambil menatap kembali matanya.
''Apa?'' teriak Nara dengan histeris lagi,
''Sepertinya aku harus segera diet!'' ujar Nara bersungguh sungguh sambil menatap Abi yang sedang melongok ke arahnya.
''Jadi kau berteriak, hanya karena timbangan ini?'' tanya Abi dengan wajah cengoknya. Dan Nara langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, membuat para pelayan yang ada di depan pintu sontak langsung saling pandang antara yang satu dengan yang lainnya.
Abi langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru di ucapkan oleh Nara.
''Aku sungguh tidak percaya ini, kau membuat keributan di pagi hari hanya karena timbanganmu yang naik!'' ujar Abi sambil menarik tangannya untuk segera turun dari atas timbangan tersebut.
''Ayo kita segera sarapan!'' pinta Abi dan langsung menyuruh para pelayan untuk segera bekerja kembali, Nara langsung mengikutinya menuju meja makan untuk sarapan bersama dengan Abi,
Nara duduk di depan Abi sambil terus menopang dagunya, dengan pandangan yang terus menuju ke arah steak daging yang sangat menggoda lidahnya itu.
__ADS_1
''Ya Tuhan, kenapa daging itu terus melambai ke arahku, apakah dia tidak tahu jika aku sedang program diet?'' ucap Nara dalam hati sambil menelan salivanya dengan susah payah.
Abi yang melihatnya hanya diam sambil memandangi semua menu makanan yang ada di atas meja, langsung berhenti mengunyah.
''Kenapa kau tidak sarapan?'' tanya Abi sambil meraih gelas yang ada di hadapannya.
''Jangan bilang, kau sedang diet!'' tebak Abi setelah selesai minum air putih miliknya.
Nara hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah tanpa menatap lawan bicaranya, Abi yang melihatnya seperti itu langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya.
''Jangan bercanda, diet itu bisa membunuhmu, ayo, sekarang cepat sarapan! Aku tidak mau melihatmu diet diet lagi!'' ucap Abi sambil mengambilkan beberapa potong daging, juga sayur dan langsung meletakkannya di atas piring Nara.
''Ihhh.. Abi, apa kau sengaja ingin membuatku bertambah gendut?'' ujar Nara sambil melihat isi piringnya yang penuh dengan daging dan juga sayur. Abi hanya tertawa melihat Nara yang kesal seperti itu, Nara tampak begitu imut dengan wajah seperti itu.
''Siapa yang mengatakan bahwa kau itu gendut? Kau tahu, kau itu sangat sexy!'' ucap Abi sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat Nara langsung melotot ke arahnya sambil melemparkan tisu yang ada di atas meja ke arah Abi.
''Ayo, segera di makan, Tuan Puteri!'' pinta Abi sambil meraih sendoknya lagi dan melanjutkan sarapannya kembali.
''Gagal diet lagi deh!'' ucap Nara dengan lirih sambil mengiris daging yang ada di piringnya dan setelah itu langsung memasukkannya ke dalam mulutnya, Abi hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala melihat tingkahnya itu,
🌺🌺🌺
Agam langsung membanting kasar ponselnya saat mendengar bahwa anak buahnya tidak bisa menemukan keberadaan sang isteri hingga sebulan lamanya. Dia langsung menarik kasar dasinya dan langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa, Gavin yang melihatnya langsung mendekat ke arahnya.
__ADS_1
''Apa mereka masih belum bisa menemukan keberadaan Nara?'' tanya Gavin
''Sepertinya ada orang yang sengaja menutup semua aksesnya, agar anak buahku tidak bisa melacak keberadaannya.'' ujar Agam sambil menengadahkan kepalanya di atas senderan sofa.
''Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan papanya Nara?'' tanya Gavin lagi dan Agam hanya mengendikkan bahunya saja.
Sudah sebulan ini Agam hampir stres karena tidak dapat menemukan sang isteri, dia sangat merindukan isteri cantiknya itu, dia terus memikirkan sang isteri yang saat ini tidak tahu ada di mana, berulang kali dia datang ke rumah sang mertua untuk menanyakan isterinya, namun berulang kali juga dia tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan sang mertua, dia yang merasa hampir gila karena terus memikirkan sang isteri akhirnya sengaja mengalihkannya dengan cara bekerja keras dan sering lembur di kantornya, sehingga membuatnya akhir akhir ini merasa kurang sehat. Dia selalu mual di pagi hari dan juga sering pusing, Gavin selalu melarangnya untuk tidak memaksakan kehendaknya saat bekerja, namun Agam terus menolaknya dengan alasan bekerja dapat membuatnya lupa sejenak kepada sang iateri yang tidak tahu dimana keberadaannya.
Pagi ini, setelah mendapat kabar dari anak buahnya bahwa mereka masih belum bisa untuk melacak keberadaan sang isteri, Agam menjadi tambah pusing dan tiba tiba perutnya terasa sangat mual seperti sedang di aduk aduk, dia langsung berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi yang ada di dalam perutnya, Gavin yang melihatnya langsung mengikutinya dan memijat pelan tengkuknya.
''Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, Gam! kau pasti masuk angin karena sering lembur beberapa waktu ini!'' ujar Gavin yang terus membujuk sang sepupu berulang kali agar mau periksa ke dokter, dia sungguh tidak tega saat melihat Agam mual dan juga muntah muntah sampai lemas seperti itu,
Agam hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Gavin yang terus memintanya agar segera periksa ke rumah sakit, dia langsung membasuh mulutnya dan setelah itu langsung di papah oleh Gavin untuk kembali ke sofa, karena dia sungguh sangat lemas dan tidak bisa berjalan. Gavin mendudukkannya di atas sofa sambil memberikan minyak kayu putih aroma therapy untuknya, mualnya merasa sedikit berkurang saat dia menghirup aroma minyak kayu putih aroma therapy tersebut.
Saat sedang menghirup aromanya dengan mata terpejam, tiba tiba pintu ruangan langsung di ketuk oleh seseorang. Gavin langsung mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
''Kenapa dia?'' tanya Raka yang baru masuk dan langsung menunjuk kearah Agam dengan dagunya.
''Biasalah, masuk angin!'' jawab Gavin seadanya.
''Sudah berobat?'' tanya Raka lagi dan Gavin hanya menggelengkan kepalanya saja.
''Mending sekarang bawa Agam pulang deh, Vin! Kasian tuh anak mukanya pucat banget!'' perintah Raka sambil mendekat ke arah Agam yang sedang memejamkan matanya. Setelah di bujuk oleh Gavin dan Raka akhirnya Agam mau juga untuk di bawa pulang ke rumah agar bisa istirahat dengan tenang. Raka yang akan menghandle urusan di kantornya, sementara Gavin yang akan merawatnya di rumah.
__ADS_1
jangan lupa mampir ya kaka ke novel ke dua ku