
''Kau yang mengidam, lalu kenapa harus aku yang mencarinya?'' protes Gavin sambil menatap ponselnya lagi dan melanjutkan bermain game kembali.
''Ck, ayolah Vin! Aku sungguh menginginkannya! Apa kau tidak kasihan denganku yang seperti ini?'' ujar Agam dengan wajah memelas.
''Enggak, enak saja, kau yang membuatnya, kenapa harus aku yang susah payah memenuhi ngidammu itu!'' ucap Gavin tanpa menoleh ke arahnya. Agam langsung melengos melihatnya.
''Ya sudah, kalau kau tidak mau mencarikan mangga muda untukku, sekarang juga kau boleh pergi dari rumahku! Enak saja kau, sudah tidak bayar uang sewa, tidak bayar token, dan sekarang malah rebahan sambil bermain ponsel!'' ungkap Agam dengan sinis, Gavin yang mendengar itu langsung duduk seketika, ''Baiklah, aku akan mencarikan mangga muda untukmu, puas?'' tanya Gavin sambil beranjak berdiri dari sofa, dan langsung berjalan ke arah pintu utama, Agam hanya tersenyum miring melihatnya, karena dia sudah berhasil mengancam sang sepupu, dan sekarang dia hanya perlu menunggu sebentar, untuk segera memakan mangga muda yang sangat di inginkannya itu,
Gavin yang baru keluar dari pintu utama, langsung kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah kembali, ''Ada apa?'' tanya Agam yang melihatnya berjalan menghampirinya kembali di sofa.
''Di mana aku harus mencari mangga muda, seperti yang kau inginkan itu?'' tanya Gavin dengan bingung.
''Mana aku tahu!'' ucap Agam dengan entengnya membuat Gavin langsung menarik tangannya dengan kasar, dan segera menggeretnya untuk ikut keluar rumah.
''Apaan sih, Vin?'' teriak Agam sambil berjalan mengikutnya karena Gavin terus menarik tangannya,
''Kau yang ingin memakannya, jadi kau juga harus ikut mencarinya! Enak saja kau, membiarkanku pusing sendirian!'' gerutu Gavin sambil melepaskan cekalan tangannya, setelah mereka sudah berada di depan teras.
Mereka berjalan berkeling komplek, sambil melihat ke kanan dan ke kiri, untuk mencari pohon mangga yang sedang berbuah, namun setelah jalan cukup jauh, mereka tetap tidak menemukan pohon mangga yang sedang berbuah, mereka duduk sebentar di pinggiran komplek sambil mengelap keringat yang menetes di dahinya.
''Hahh, capek juga ternyata ya, sudah jalan sejauh ini masih juga tidak menemukan pohon mangga!'' gerutu Gavin sambil menyelonjorkan kakinya yang terasa keram, karena dia tidak biasa berjalan jauh seperti ini. ''Tau gitu tadi kita bawa mobil saja!'' gerutunya kembali sambil memukul mukul pelan betisnya.
Agan hanya terdiam mendengarnya terus terusan menggerutu tidak jelas seperti itu.
''Lagian, kenapa sih ngidammu itu aneh aneh seperti ini? Kenapa kau tidak mengidam ingin makan lobster, atau apa gitu, yang sedikit berkelas!'' ujar Gavin yang langsung mendapat hadiah geplakan di belakang kepalanya, karena asal berbicara seperti itu. Gavin hanya meringis sambil mengelus ngelus kepalanya, yang tadi di geplak oleh sepupu yang tidak ada akhlaknya itu. ''Kenapa kau terlalu bar bar seperti mama Sarah, sih?'' sungut Gavin lagi sementara Agam hanya mengendikkan bahunya malas.
''Aku berharap, semoga bayimu kelak tidak mewarisi sifat bar bar kalian berdua!'' seru Gavin yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang sepupu, Gavin hanya nyengir saat melihatnya.
__ADS_1
''Ayo kita lanjutkan lagi!'' ajak Agam sambil beranjak berdiri dan segera berjalan lagi, untuk segera menemukan pohon mangga yang sedang berbuah, Gavin langsung berlari kecil dan segera menyusulnya juga, mereka terus berjalan dan akhirnya mereka menemukan sebuah pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat, Agam langsung tersenyum saat melihat mangga mangga tersebut seolah melambai lambai kepadanya, agar segera di makan, dia menelan susah salivanya saat membayangkan betapa nikmatnya saat memakan mangga muda tersebut.
''Kau yakin ingin mengambil mangga itu?'' tanya Gavin sambil bergidik ngeri saat melihat ke sekelilingnya, Agam langsung mengangguk mantap, dan segera menyuruh Gavin untuk segera memanjatnya.
''Aku tidak mau Gam, bagaimana jika yang punya nanti marah? Serem tauk!'' ujar Gavin sambil menatap Agam yang langsung mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan ucapan Gavin barusan.
''Emang siapa yang punya pohon mangga itu?'' tanya Agam karena dia tidak melihat satu rumah pun yang ada di sekitar pohon mangga tersebut, itu berarti pohon mangga tersebut tidak ada yang memiliki bukan?
''Kau tenang saja pohon mangga ini tidak ada yang punya!'' lanjut Agam lagi sambil menatap kembali ke arah Gavin.
''Siapa bilang pohon mangga ini tidak ada yang punya? Kau tidak lihat itu, sudah pasti mereka semua adalah pemilik pohon mangga ini!'' ujar Gavin sambil menunjuk pemakaman umum yang berada tidak jauh dari mereka.
''Ya sudah, kalau begitu kau minta izin saja pada mereka untuk mengambil mangga mangga itu!'' ujar Agam dengan enteng, Gavin langsung melotot ke arahnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya tanda tidak mau,
''Sudah, ayo cepat sana manjat!'' ucap Agam sambil mendorong bahu Gavin untuk segera mendekat ke pohon mangga tersebut.
''Udah buruan naik!'' perintah Agam sambil mendorong bahunya lagi.
''Gimana kalau mbak kukun sama mas ocong ada di atas sana, Gam?'' tanya Gavin yang langsung mengusap tengkuknya yang terasa dingin, apa lagi ini sudah mau petang, kan serem jika harus manjat dan ketemu sama pasangan yang selalu viral dari jaman ke jaman itu.
''Tidak usah banyak ngehalu, uda buruan naik!'' seru Agam lagi, yang sudah tidak sabar ingin segera memakan mangga mangga tersebut.
''Tapi, Gam..--'' ucapan Gavin langsung terpotong saat Agam langsung mendorongnya mendekat ke arah pohon mangga tersebut, dia langsung komat kamit untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum memanjat pohon tersebut.
''Minta izinnya ya mbah, sepupu saya lagi ngidam ingin makan mangga nya mbah,'' ujar Gavin yang langsung melotot karena mendengar jawaban Agam.
''Iya Cu!'' jawab Agam sambil tertawa terbahak bahak, karena melihat ekspresi Gavin yang menurutnya sangat lucu itu. Gavin langsung menggeplak kasar kepala Agam karena sudah membuatnya hampir spot jantung barusan, dikiranya tadi beneran si penghuni pohon yang menjawabnya ternyata malah sepupu tengilnya itu.
__ADS_1
Gavin melepaskan sandalnya, dan setelah itu langsung memanjat pohon mangga tersebut secara perlahan, sesampainya di atas dia langsung buru buru memetik beberapa mangga yang ada di hadapannya, setelah itu menyuruh Agam agar segera menangkapnya dari bawah, Agam langsung mengeluarkan kantung plastik hitam dari dalam sakunya yang tadi di ambilnya dari depan rumahnya. Setelah itu langsung memasukkan mangga mangga tersebut ke dalam plastik tersebut.
''Udah belum Gam?'' teriak Gavin dari atas pohon. Karena tengkuknya tiba tiba saja terasa dingin dan dia juga sedikit merinding.
''Sedikit lagi, Vin!'' seru Agam sambil terus memasukkan mangga mangga tersebut ke dalam plastik.
Gavin mencoba untuk terus fokus ke arah mangga mangga tersebut agar rasa merindingnya itu sedikit berkurang, saat sedang fokus tiba tiba dari arah belakangnya ada yang mencolek bahunya, ''Apa sih, ganggu fokus orang aja!'' ucap Gavin dengan kesal karena lagi lagi bahunya di colek colek, setelah memetik mangga yang ada di sampingnya dia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah mencolek colek bahunya dengan gemas.
Gavin langsung terpaku saat melihat seorang wanita yang selalu setia dengan daster lusuhnya itu sedang tersenyum mengerikan ke arahnya, wanita itu langsung mengibas ngibaskan rambut panjangnya kebelakang seolah olah sedang iklan shampoo seperti yang ada di Televisi televisi tersebut.
''Jangan lupa di bayar ya mangganya!'' seru wanita tersebut sambil terkikik, membuat Gavin langsung berteriak dan langsung terjatuh ke bawah menimpa Agam yang sedang menunduk sambil memasukkan mangga mangga tersebut ke dalam plastik,
''Aww... sakit tauk!'' seru Agam sambil mendorong tubuh Gavin yang menimpa punggungnya.
''I.. i..iituu adaa.. Emm..mbak.. Kukun..!'' ucap Gavin dengan terbata bata sambil memegangi bokongnya yang terasa sakit dan langsung menyingkir dari atas punggung Agam.
''Apaan sih, mbak kukun mbak kukun, mana?'' tanya Agam sambil mendongak melihat ke atas pohon namun tidak menemukan siapa pun di atas sana.
''Kau pasti ngehalu!'' ujar Agam lagi sambil menepuk nepuk bajunya yang kotor akibat rebahan di tanah tadi.
''Enggak Gam, tadi beneran ada mbak kukun di atas situ! Dia bilang suruh bayar mangga yang sudah kita ambil ini!'' ujar Gavin sambil mendongak ke atas pohon tapi tidak menemukan mbak kukun di atas pohon tersebut.
''Halahh,, sudah ayo, kita pulang sekarang!'' Ajak Agam setelah selesai memasukkan semua mangga mangganya.
''Tapi Gam, kita belum bayar!'' teriak Gavin yang langsung bangkit berdiri dan segera menyusul Agam,
''Ck, emang duitnya buat apaan sih, sama dia?'' tanya Agam dengan kesal.
__ADS_1
''Ya, kali aja dia mau ngebakso atau nyalon gitu kek, biar gak dekil dekil amat itu rambut sama wajahnya!'' jawab Gavin dengan entengnya, sementara agam hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja melihat tingkah dari sepupu ajaib nya itu.