
Mereka akhirnya sampai di rumah mewah milik Abidzar, Abi langsung mengajak Nara untuk turun, seorang pelayan yang melihat kedatanhan mereka langsung membukakan pintu utama untuk mereka, Nara menatap takjub ke seluruh penjuru rumah Abi, rumahnya benar benar sangat mewah dan juga sangat nyaman, banyak pelayan yang berseliweran di setiap penjuru rumah tersebut, semua pelayan langsung menunduk hormat saat Abi melewati mereka semua, Abi mengajak Nara untuk duduk di atas sofa, beberapa orang pelayan langsung membawakan mereka minuman dan juga makanan ringan.
''Jadi, bisakah kau jelaskan sedikit tentang dirimu?'' tanya Abi membuka percakapan antara mereka berdua, Nara yang sedang memperhatikan beberapa orang pelayan langsung terkesiap saat mendengar pertanyaan dari Abi.
''Apa yang harus ku jelaskan padamu? Bukannya tadi aku sudah mengatakannya padamu, bahwa aku ke sini untuk mengunjungi Family ku, yang alamatnya ada di dalam ponselku yang hilang itu,'' ujar Nara menjelaskan kenapa dirinya bisa sampai terdampar di Negara Kincir Angin tersebut.
''Bukan itu maksudku, tapi ya sudahlah!'' ucap Abidzar sambil meminum minumannya,
''Silahkan diminum!'' lanjut Abidzar yang mempersilahkan Nara untuk meminum minuman yang sudah di siapkan oleh pelayannya,
''Kau yakin masih membutuhkan seorang pelayan lagi?'' tanya Nara sambil meletakkan minuman yang baru diminumnya,
''Em, maksudku bukankah di rumahmu sudah terlalu banyak pelayan?'' lanjut Nara lagi sambil menatap Abi.
''Aku membutuhkan seorang pelayan pribadi, untuk mengerjakan semua keperluanku, dan mereka semua itu hanyalah pelayan rumah tangga saja.'' jawab Abi seadanya.
Nara langsung mengangguk nganggukkan kepalanya tanda mengerti,
''Baiklah, kalau begitu nanti akan ada orang yang datang menemuimu untuk memberitahumu apa saja yang harus kau lakukan saat menjadi pelayan pribadiku, sekarang kau bisa langsung istirahat di kamar tamu, kau pasti sangat lelah karena baru melakukan perjalanan jauh kan? Aku akan pergi dulu, karena ada urusan yang harus aku selesaikan!'' kata Abi sambil menyuruh seorang pelayan untuk mengantar Nara ke dalam kamar dan setelah itu langsung pergi keluar rumah.
Pelayan tersebut langsung membawa Nara ke kamar tamu seperti yang di perintahkan oleh majikannya itu, dia langsung membukakan pintu kamar untuk Nara.
''Baiklah nona, jika Anda membutuhkan sesuatu, panggil saja saya!'' ucap pelayan tersebut dengan sangat sopan, Nara hanya mengangguk setelah itu pelayan tersebut langsung pamit untuk ke dapur, namun tiba tiba Nara langsung menghentikan langkahnya.
''Oh ya tunggu dulu, apakah aku boleh meminta sedikit makanan? Soalnya perutku terasa sangat lapar!'' ucap Nara sambil meringis malu.
__ADS_1
''Tentu saja boleh, nona! Kalau begitu tunggulah sebentar di sini, saya akan mengambilkan nona makanan di dapur!'' kata pelayan tersebut sambil berjalan ke arah dapur.
Setelah Nara selesai menyantap makanannya, dia langsung membuka kopernya dan menyusun pakaiannya ke dalam lemari yang ada di kamar tersebut, setelah itu langsung pergi ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
🌺🌺🌺
Agam terus menghubungi ponsel Nara, namun tidak aktif sejak tadi, Agam yang merasa kesal langsung membanting ponselnya ke atas ranjang, Gavin yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
''Kemana sih dia? Kenapa ponselnya tidak aktif dari tadi!'' gerutu Agam sambil menjambak rambutnya frustasi.
''Gimana kalau kita ke rumah orang tuanya Nara saja, Gam!'' usul Gavin membuat Agam langsung menoleh ke arahnya,
''Kenapa tidak bilang dari tadi sih?'' kesal Agam sambil melangkah keluar kamar dengan terburu buru.
''Salah lagi!'' ucap Gavin dengan lirih sambil berlari mengejar Agam keluar.
Seorang wanita paruh baya langsung membukakan pintu untuknya.
''Eh, mas Agam! Silahkan masuk mas!'' perintah pelayan tersebut sambil mempersilahkan kedua pemuda tampan itu untuk masuk.
''Nara nya ada bik?'' tanya Agam kepada sang pelayan,
Papa Tama yang baru turun dari lantai atas langsung menatap heran ke arah menantunya itu, karena mendengar Agam menanyakan isterinya kepada sang pelayan yang ada di rumahnya tersebut.
''Agam..!'' panggil Papa Tama yang langsung berjalan mendekat ke arah Agam dan Gavin.
__ADS_1
''Papa, apakah Nara ada di sini, Pa?'' tanya Agam ragu ragu kepada sang mertua.
''Maksud kamu gimana, Gam? Kenapa kamu malah menanyakan keberadaan Nara di sini? apakah terjadi sesuatu kepada Nara?'' tanya sang mertua dengan wajah mulai tidak bersahabat.
''Ma..maaf Pa, Nara tadi pergi dari rumah dan membawa semua pakainnya, Agam kira dia ada di sini Pa!'' ucap Agam yang merasa was was saat menatap mata tajam milik sang mertua.
''Apa yang sudah terjadi?'' tanya sang mertua dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Agam dan Gavin yang melihatnya langsung menelan salivanya dengan susah payah,
''Jawab..!'' bentak sang mertua membuat Gavin langsung terlonjak kaget karena mendengar suara Papa Nara yang meninggi, tangannya langsung berkeringat dingin. ''matilah Agam di tangan mertuanya itu, saat tahu puteri kesayangannya kabur dari rumah karena ulahnya!'' ucap Gavin sambil menatap prihatin ke arah sang sepupu.
Agam yang di bentak seperti itu akhirnya menjelaskan semua kejadiannya kepada sang mertua, sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Mertuanya langsung mengantam wajahnya dengan sangat kuat, Agam langsung tersungkur ke bawah, karena dia tidak siap menerima hantaman dari sang mertua yang sangat mendadak tersebut,
''Bangun, brengsek!!'' Teriak sang mertua sambil menarik kasar kera kemejanya, Papa Tama terus menghajar wajahnya berulang kali tanpa ampun, Gavin yang tidak tega melihat sepupunya babak belur langsung menghentikan perbuatan papa Nara yang sangat brutal tersebut.
''Cukup, Om!'' seru Gavin sambil memegangi tangan papanya Nara yang akan kembali melayangkan tinjunya ke wajah Agam. sontak papanya Nara itu langsung menatap tajam ke arah Gavin yang sedang memegangi tangannya, Gavin yang di tatap seperti itu langsung merasa ciut dan kemudian langsung melepaskan tangannya secara perlahan yang tadi sempat memegangi tangannya Papa Nara tersebut.
''Kalau sampai terjadi sesuatu kepada puteriku, aku akan langsung membunuhmu!'' ancam sang mertua kepada Agam, dan setelah itu langsung meninju perut Agam dengan sangat kuat, membuat Agam langsung muntah darah sambil meringis dan memegangi perutnya yang terasa ngilu. Gavin yang melihatnya langsung menolong Agam yang tersungkur tidak berdaya di atas lantai. Sementara sang mertua langsung naik ke lantai atas untuk menghubungi anak buahnya.
Gavin langsung membawa Agam untuk ke rumah sakit, dia sungguh khawatir dengan keadaan sang sepupu yang sangat miris tersebut. ''Gila ya, aku tidak menyangka jika papanya Nara masih sekuat itu untuk membuat sang menantu babak belur sepe**rti ini!'' ucap Gavin sambil memandang wajah Agam yang sudah tidak berbentuk lagi.
Papa Tama langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan sang puteri secepatnya, dia merasa sangat khawatir dengan puterinya itu,
''Saya tidak mau tahu, kerahkan semua anak buahmu untuk mencari keberadaan puteri saya, saya tunggu secepatnya!'' ucap Papa Tama yang memerintahkan anak buahnya dan setelah itu langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia langsung meletakkan ponselnya secara kasar di atas meja kerjanya, setelah itu langsung memukul kuat meja tersebut untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
''Lihat saja, Gam! Jika terjadi sesuatu kepada puteri kesayanganku, aku pasti akan membuatmu hancur!'' ucap papa Tama sambil meremat kuat pinggiran meja tersebut dengan nafas yang mulai naik turun tidak beraturan.