Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Apa yang terjadi? Sini sayang, sama Papa!'' Abi yang baru saja menghampiri mereka langsung meraih Arisha ke dalam gendongannya, namun Arisha terus saja memberontak, jika biasanya Arisha selalu tersenyum saat di gendong olehnya, kali ini Arisha terus menangis dengan kencang, membuat Nara menjadi panik, dia takut terjadi sesuatu kepada puteri semata wayangnya itu.


''Kenapa dia tidak mau berhenti menangis? Tanya Nara dengan raut wajah khawatir,


''Lebih baik kita bawa dia pulang!'' jawab Abi sambil mengajaknya untuk berjalan menuju mobilnya, sementara Agam yang melihat mereka dari tadi hanya diam dengan dada yang semakin sesak,


Nara dan Abi langsung masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan kepada Agam yang hanya menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan, ''Tenangkan dirimu!'' kata Gavin yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya sambil mengelus pelan pundaknya.

__ADS_1


''Kenapa isteriku lebih memilih pergi dengan lelaki lain?'' tanya Agam dengan suara seraknya, tiba tiba matanya langsung berembun saat melihat mobil Abi yang semakin menjauh dari tempat itu.


''Arisha itu sebenarnya puterimu bersama Nara, atau puteri Nara bersama Abi?'' tanya Gavin penasaran, sementara Agam hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Setelah itu Gavin langsung mengajak Agam untuk pulang, namun Agam memintanya untuk mengikuti kemana mobil Abi pergi membawa isterinya itu.


Dan di sinilah mereka berdua berada, di pinggir jalan di depan sebuah rumah yang sangat mewah dengan pagar yang menjulang tinggi. Agam mengajaknya untuk turun, namun Gavin tidak mau, alasannya tentu saja karena masih trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, dimana saat itu Papa Tama memukuli Agam secara brutal, hingga sampai harus di rawat beberapa hari di Rumah Sakit karena mengalami pendarahan pada perutnya yang terus terusan di pukul oleh Papa Tama. Jadilah mereka hanya duduk berdua saja di dalam mobil sambil terus memandangi rumah Isterinya itu, jika pun Agam turun sendurian sudah bisa di pastikan dia tidak akan di izinkan masuk oleh mertuanya itu.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Ceklek...


Agam langsung mengerutkan keningnya saat melihat seorang kurir berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar, ''Dengan Mas Agam?''


Agam langsung mengangguk, ''Ngapain pula kang paket ini pagi pagi sudah kelayapan di rumah orang!'' bathin Agam


''Ini ada titipan untuk Mas Agam!'' ucap kang kurir sambil menyerahkan sebuah map ke arahnya, Agam langsung menerimanya, setelah kang kurir pergi dari rumahnya, Agam langsung masuk dan membawa map tersebut ke dalam untuk segera membukanya,

__ADS_1


''Apaan tuh?'' tanya Gavin yang baru keluar dari kamarnya, dan langsung menghampirinya yang sedang duduk di atas sofa ruang tamunya.


Dahinya langsung berkerut saat melihat selembar kertas yang ada di dalam map tersebut, dia membaca kertas tersebut dengan wajah penuh amarah dan gigi saling bergemelatuk, Gavin yang menyadari perubahan aneh dari raut wajahnya langsung mendekat ke arahnya dan ikut membaca isi dari kertas tersebut. Matanya langsung membulat sempurna saat membaca isinya yang menyatakan bahwa Nara ingin menggugat cerai Agam.


__ADS_2