
Kayla langsung masuk ke dalam ruang kerja Agam, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya, dia berjalan mendekat ke arah meja kerja Agam, dia tidak gentar sedikit pun saat menatap mata tajam milik Agam,
''Apa kabar, Gam?'' tanya Kayla sambil menarik kursi untuk di dudukinya.
''Bisa kau jelaskan apa maksudnya ini?'' tanya balik Agam sambil meletakkan beberapa foto dengan kasar di atas meja dengan wajah datarnya. Kayla hanya melirik sekilas foto tersebut sambil bersedekap dada,
''Jangan bilang, kau sudah melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita saat itu?'' tanya balik Kayla dengan wajah cukup tenangnya.
Agam langsung mengusap kasar hidung mancungnya, sambil menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya.
''Jangan omong kosong Kay, aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti ini padamu!'' ujar Agam dengan sinis
''Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi yang jelas kita sudah melakukannya, dan sekarang aku sedang mengandung bayimu! Jadi kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu!'' ucap Kayla sambil menatap tajam mata Agam.
''Kalau aku tidak mau?'' tanya balik Agam sambil terus mengetuk ngetukkan jari tangannya di pinggiran kursi yang sedang dudukinya.
''Apa maksudmu? Kau harus bertanggung jawab, karena bayi ini butuh seorang ayah!'' jawab Kayla dengan suara meninggi.
''Turunkan nada suaramu! Memangnya kau siapa berani sekali berbicara seperti itu padaku!'' ujar Agam dengan wajah datarnya.
''Maaf, karena aku terbawa suasana!'' lirih Kayla sambil menunduk dan segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
''Ini foto USG bayi kita!'' lanjut Kayla sambil meletakkan selembar foto USG di atas meja, Agam hanya meliriknya sekilas tanpa berniat untuk mengambil dan melihatnya.
__ADS_1
''Aku tidak bisa bertanggung jawab, sebaiknya kau gugurkan saja bayimu itu!'' perintah Agam yang membuat Kayla langsung melebarkan matanya dengan sempurna karena tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Agam,
''Apa kau gila? Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang barusan kau katakan! Kau sungguh keterlaluan, Gam! bayi ini adalah darah dagingmu dan kau tega menyuruhku untuk membunuhnya? Kau sungguh tidak punya hati!'' ujar Kayla dengan mata yang mulai berkaca kaca. Agam hanya menarik kasar nafasnya sambil membuang pandangannya ke arah lain.
''Kau yang sudah memaksaku untuk melakukan hal terlarang itu, kau selalu mengira bahwa aku adalah isterimu, dan kau terus memaksaku walaupun aku terus menolakmu dan berusaha menyadarkanmu bahwa aku bukanlah Nara.'' ujar Kayla dengan menangis tersedu sedu membuat Agam langsung meraup wajahnya dengan kasar.
''Cukup, Kay! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu,'' ucap Agam dengan suara sedikit meninggi.
''Lalu, aku harus bagaimana, Gam? Perutku akan semakin membesar dan semua orang pasti akan langsung membicarakanku!'' ucap Kayla lagi sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
''Baiklah, beri aku waktu untuk memikirkannya! Sekarang kau bisa pergi!'' ucap Agam pada akhirnya, karena dia sungguh tidak tega ketika melihat seorang wanita menangis di hadapannya. Hatinya mulai goyah saat menatap Kayla dengan wajah yang penuh dengan air mata.
Kayla langsung berdiri dari duduknya, dan segera berjalan keluar dari ruang kerja Agam, dia langsung bersorak senang dalam hatinya karena sebentar lagi dia akan segera menjadi Nyonya Lawrenz, apa lagi sekarang dia sudah berhasil menyingkirkan Nara dari hidup Agam.
''Bagaimana?'' tanya Gavin sambil menarik kursi dan segera menjatuhkan bokongnya di sana.
Agam hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawabnya, Gavin langsung meraih foto USG yang ada di atas meja sebelah kepala Agam,
''Apaan nih?'' tanya Gavin sambil menautkan kedua alisnya saat melihat gambar tersebut, dia melihatnya dengan seksama dan segera membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
''Jadi si Markonah beneran hamil?'' tanya Gavin sambil menatap Agam yang masih setia menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Agam langsung mendongakkan kepalanya dan langsung menatap ke arah Gavin, ''Markonah siapa?'' tanya Agam sambil mengerutkan dahinya.
__ADS_1
''Markonah yang barusan bertemu denganmu!'' jawab Gavin dengan cuek.
''Sejak kapan dia ganti nama menjadi Markonah? Dan kenapa aku baru mengetahuinya!'' ujar Agam dengan wajah begoknya, Gavin langsung melongok menatapnya sambil memukul kepalanya dengan kertas USG yang tadi di pegangnya.
''Ck, apaan sih!'' gerutu Agam sambil mengelus kepalanya yang tadi di pukul kertas oleh sang sepupu.
''Makanya, jadi orang itu jangan lemot!'' ucap Gavin sambil melengos. Sementara Agam hanya menatapnya dengan malas.
''Jadi, gimana?'' tanya Gavin kemudian
''Apakah menurutmu, aku mengalami Couvade Syndrome karena kehamilannya ini?'' tanya balik Agam dengan wajah seriusnya,
''Bisa jadi sih,'' jawabnya dengan singkat, kemudian mereka berdua saling pandang dengan fikiran masing masing.
''Lalu, apa yang harus aku lakukan?'' tanya Agam dengan suara parau nya, dia sungguh tidak ingin menikah dengan Kayla, namun jika benar yang ada di perut Kayla adalah bayinya, bukankah dia akan menjadi ayah yang sangat kejam karena tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri? lalu bagaimana jika isterinya itu mengetahui hal ini, sudah bisa di pastikan dia akan segera bersilahturahmi ke Pengadilan Negeri, belum lagi jika orang tuanya juga mengetahui hal ini, sudah bisa di pastikan dia bakal di coret dari surat wasiat, dan mertuanya juga pasti tidak akan tinggal diam, sudah pasti mertuanya itu akan membuat hidupnya berada seperti di neraka, mending kalau dia langsung bertemu dengan malaikat Izrail, tapi jika dia hanya terus mengalami sakaratul maut terus terusan, bagaimana? hanya membayangkan hal itu saja, sudah bisa membuatnya langsung panas dingin, apa lagi jika dia sampai mengalaminya, dan hal itu sukses membuatnya langsung bergidik ngeri,
Gavin yang dari tadi terus mengamatinya langsung menarik sudut bibirnya, ''Apa kau sedang membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupmu, jika isteri, orang tua dan mertuamu bersatu untuk memberimu sebuah hadiah saat kau menikahi si Markonah?'' tanya Gavin sambil tertawa terbahak bahak.
Agam langsung memukul kepalanya dengan kertas yang tadi di gunakan Gavin untuk memukul kepalanya.
''Jika kau berani tertawa lagi, maka aku akan membuatmu tidak bisa melihat wanita cantik dan sexy lagi!'' ancam Agam dengan senyum miringnya, dan ancaman Agam barusan berhasil membuat Gavin langsung berhenti tertawa.
''Baiklah, baiklah, aku tidak akan menertawakan hidupmu yang tragis itu lagi! Tapi sungguh, aku sangat senang sekali saat menertawakanmu!'' ucap Gavin sambil berdiri dan segera berlari dari ruang kerja Agam sambil tertawa terbahak bahak sambil membayangkan wajah kesal Agam.
__ADS_1