
Setelah para penagih hutang itu pergi, papa Raiza langsung menatap Gavin.
''Kamu bukannya pemuda yang ada di pemakaman isteri saya itu?'' tanya papa Raiza sambil menelisik wajah Gavin. Dia langsung menganggukkan kepalanya.
''Terima kasih, karena sudah mau menolong saya!'' ucap papa Raiza dengan tulus, setelah itu langsung permisi untuk pergi, namun saat membalikkan badan, matanya tidak sengaja melihat Raiza yang sedang duduk di dalam mobilnya, papa Raiza terus memandang putrinya yang sedang melihat ke arah lain, tidak terasa air matanya langsung menetes tanpa permisi, bayangan masalalu langsung memenuhi isi kepalanya, tawa si kembar yang selalu membuatnya bahagia dan senyuman sang isteri yang meneduhkan hatinya dulu, namun sekarang semua telah berubah, tidak ada lagi senyum yang terukir di wajah kedua putrinya itu untuk dirinya, yang ada hanya tatapan benci dan amarah yang selalu mereka tunjukkan untuk dirinya. Dia mengusap air mata yang mulai mengalir deras, Gavin yang melihatnya langsung menepuk bahunya.
''Om tenang saja, semuanya akan baik baik saja, mereka butuh waktu untuk bisa memahami situasi ini'' ujar Gavin sambil tersenyum
Papa Raiza akhirnya melangkah pergi dari sana, dan Gavin langsung pergi menuju mobilnya, setelah itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu juga. di dalam mobil Raiza hanya diam sambil memandang ke arah luar jendela.
Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di sebuah kafe yang sangat terkenal di kota ini, mereka turun dari dalam mobil, Gavin langsung mengajak Raiza untuk masuk ke dalam, ternyata di dalam sudah ada beberapa teman Gavin yang sudah menunggu, Gavin langsung menarik kursi dan mempersilahkan Raiza untuk duduk,
''Ciee.. Romantis banget cih babang Gavin!'' goda salah seorang teman mereka dan membuat yang lain langsung tertawa. Raiza hanya tersenyum melihatnya.
''Iya dong, siapa dulu!'' ucap Gavin sambil menarik kera bajunya dengan sombong, yang lain hanya tertawa menanggapinya. Setelah mereka duduk, Gavin langsung memperkenalkan Raiza pada semua temannya, Mereka juga sangat senang menerima kehadiran Raiza,, Raiza juga terlihat asyik dengan semua teman teman Gavin,
Seorang pria tampan yang sedang duduk tak jauh dari mereka langsung menggenggam erat gelas yang sedang di pegangnya saat mendengar Raiza tertawa begitu lepas, seakan tidak punya beban sama sekali. Membuat pria tersebut terus mengumpat di dalam hatinya.
Raiza yang tiba tiba merasa mual langsung meminta izin kepada Gavin untuk pergi ke toilet, dia langsung berjalan terburu buru menuju toilet, pria yang dari tadi terus mengumpat Raiza langsung ikut beranjak dari kursinya dan segera pergi menuju toilet untuk menyusulnya. Pria tersebut menyenderkan punggugnya di dinding dekat pintu toilet, dengan tangan bersedekap dada dan kakinya menekuk sebelah ke dinding, dia terus menunggu Raiza keluar dari dalam toilet.
Raiza yang sudah memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya, langsung merasa lemas, tangannya bersender pada pinggiran westafel, setelah di rasa mualnya sudah mereda, dia langsung membasuh mulutnya, dan setelah itu langsung membenarkan make up dan penampilannya. Setelah selesai dia langsung membuka pintu toilet, dan matanya langsung membola dengan sempurna saat melihat seseorang yang sedang bersandar pada dinding toilet tersebut, Jantungnya berdegup dengan kencang saat mata pria tersebut tiba tiba langsung menatap tajam ke arahnya,
Pria itu terus berjalan mendekat ke arahnya yang sedang berdiri di ambang pintu toilet, kakinya spontan langsung mundur kebelakang saat pria tersebut semakin mendekat ke arahnya.
__ADS_1
''Mau apa kamu?'' tanya Raiza yang berusaha untuk tidak panik, pria itu tidak menjawabnya namun terus melangkah mendekat ke arahnya, Raiza semakin terpojok dan punggungnya langsung menempel pada dinding toilet. Pria tersebut langsung mengunci tubuhnya membuatnya langsung mendongak menatap mata tajam milik pria tersebut.
''Jadi, apa pria itu ayah dari anak yang ada di dalam perutmu ini?'' tanya pria tersebut sambil tersenyum miring.
Raiza hanya terdiam sambil memandang pria tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Ayo jawab..!" ucap pria tersebut dengan penuh emosi,
''Tutup mulut busukmu itu, Irvan! bajingan seperti dirimu yang tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengakui darah dagingmu, tidak pantas berbicara seperti itu!'' ucap Raiza sambil melepaskan tangan Irvan yang sedang mengunci dirinya di dinding.
Raiza langsung menghempaskan tangan Irvan begitu saja. Setelah itu langsung melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari dalam toilet, namun tiba tiba Irvan langsung menarik tangannya dengan kuat sampai Raiza menubruk dada bidangnya, setelah itu Irvan langsung mencium bibir Raiza dengan rakus, Raiza terus memberontak dan memukul mukul dada nya, namun Irvan tetap tidak melepaskan ciumannya, tangannya malah semakin kuat menekan tengkuk Raiza,
Setelah di rasa Raiza kehabisan nafas, Irvan langsung melepaskan tautan bibir mereka, Raiza langsung menghirup oksigen secara brutal, setelah itu langsung menampar pipi Irvan,
''Kenapa wajahmu menjadi kesal seperti itu, Za?'' tanya seorang wanita berambut panjang yang tadi duduk di sebelahnya. Namun Raiza hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian langsung duduk dan menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.
🌺🌺🌺
Kayla yang sedang menatap laptopnya menjadi tidak fokus saat fikirannya terus tertuju kepada sang pujaan hati, dia terus berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan sang pujaan hatinya itu, dia langsung menutup kasar laptopnya dan langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja, dia menjadi frustasi sendiri akibat rasa cintanya kepada sang pujaan hatinya itu.
Akhirnya dia memtuskan untuk pergi ke kantin dan berjalan ke arah lift, namun ternyata lift nya sedang di perbaiki, terpaksa dia berjalan ke arah tangga darurat untuk bisa turun ke lantai bawah, tak di sangka ternyata dia berpapasan dengan isteri dari pujaan hatinya itu,
Nara berpura pura tidak melihatnya, dia terus berjalan naik ke atas untuk menemui suaminya, namun saat sampai di atas tangga ucapan Kayla langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
''Heran ya, kenapa Agam bisa suka sama wanita keras kepala seperti dirimu!'' ujar Kayla tanpa menatap Nara, dia terus memainkan rambut panjangnya dan berhenti di tangga. Nara yang sudah sampai di atas langsung membalikkan badannya menghadap Kayla yang berada dua tangga di bawahnya.
''Maksud kamu, apa?'' tanya Nara sambil menatap Kayla yang sedang tersenyum ke arahnya.
''Kamu tahu, Agam itu tidak pantas untukmu, dia itu pantasnya sama aku, wanita yang lemah lembut dan juga dewasa!'' ucap Kayla sambil terus memainkan rambut panjangnya, dia berbicara seperti itu tanpa rasa takut.
''Oh ya? Tapi sayangnya, Agam itu cintanya cuma sama aku, gimana dong?'' ucap Nara dengan wajah meremehkan, Kayla yang mendengar nada bicara Nara seperti itu langsung merubah wajahnya yang tadi tersenyum menjadi langsung terlihat marah.
''Dasar wanita tidak tahu diri, Kita lihat saja nanti, siapa yang akan berdiri di samping Agam setelah ini! Aku atau kamu!'' ucap Kayla sambil menunjuk dirinya dan diri Nara bergantian.
Saat mereka sedang saling menatap satu sama lain, matanya tidak sengaja melihat Agam yang sedang berjalan ke arah mereka, Kayla tentu tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Dia langsung menarik tangan Nara seolah olah Nara telah mendorongnya dari atas tangga, Nara yang terkejut reflek menarik kembali tangannya dan Kayla langsung menjatuhkan tubuhnya sendiri dari atas tangga, Agam yang melihatnya langsung berteriak sambil berlari ke arah mereka,
Nara yang terkejut karena mendengar suara suaminya langsung menoleh ke belakang dan mendapati Agam sudah berdiri di belakangnya.
''Apa yang sudah kamu lakukan?'' tanya Agam dengan wajah memerah menahan amarah.
''Bu..bu..bukan aku, Gam!'' kata Nara terbata bata sambil menggelengkan kepalanya. Namun Agam hanya melewatinya begitu saja tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu, Agam langsung turun ke bawah dan menghampiri Kayla yang sudah terbaring tak sadarkan diri.
''Kay, ayo bangun Kay!'' ucap Agam sambil menepuk nepuk pipinya setelah itu langsung buru buru mengangkat tubuh Kayla dan segera membawanya ke rumah sakit,
Nara yang masih bingung dengan situasi tersebut, terus menatap ke arah Kayla terjatuh tadi, dia langsung memijat pelan pelipisnya.
''Apa yang sudah terjadi?'' tanya Nara dalam hatinya, sambil melangkah turun kebawah dan langsung pergi menyusul Agam dan Kayla ke rumah sakit.
__ADS_1