Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Rindu


__ADS_3

Nara yang baru selesai membersihkan tubuhnya, langsung naik ke atas ranjang untuk segera beristirahat, tak butuh waktu lama dirinya langsung terlelap menuju alam mimpi, baru beberapa menit memejamkan mata, dia langsung terbangun dengan keringat yang mengucur deras dari dahinya, nafasnya langsung ngos ngossan saat dia terbangun dari tidurnya, Dia bermimpi sangat buruk sekali, seolah olah mimpinya itu terasa sangat nyata, Dia bermimpi melihat suaminya yang di tarik oleh Kayla untuk masuk ke dalam jurang yang sangat dalam, Dia langsung histeris dan berlari ke arah sang suami untuk menolongnya, namun naas suaminya malah tergelincir sampai ke dasar jurang, kemudian dia melihat Kayla yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.


''Astaga, kenapa aku bisa bermimpi buruk seperti itu? mungkin karena aku lupa untuk membaca doa sebelum tidur!'' ucap Nara pada dirinya sendiri.


Nara yang tidak bisa memejamkan matanya kembali, langsung beranjak dari ranjang dan segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar yang saat ini di tempatinya, dia terus berjalan menyusuri rumah Abi, namun dia tidak menemukan satu orang pelayan dimana pun,


''Kemana semua pelayan yang ada di rumah ini?'' tanya nya pada dirinya sendiri.


Nara terus berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, setelah itu dia langsung duduk di kursi makan sambil menatap seluruh dapur milik Abi,


''Apa yang sedang kau lakukan di sini?'' tanya seseorang yang membuat Nara terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara, dia melihat Abi yang sedang berdiri di pintu dapur dengan pakaian santainya,


Abi terus berjalan masuk ke dapur dan langsung membuka pintu kulkas untuk mengambil minuman dingin, dia langsung membuka tutupnya dan segera meminumnya,


''Kenapa dari tadi aku tidak melihat isterimu?'' tanya Nara yang membuat Abi langsung menyemburkan minuman dingin yang ada di mulutnya. Dia langsung terbatuk batuk karena tersedak,


''Kau membuatku tersedak karena ucapanmu barusan!'' gerutu Abi sambil meraih tisu yang ada di hadapan Nara.


''Apa ucapanku ada yang salah?'' tanya Nara sambil mengerutkan kedua alisnya.


''Aku belum menikah,'' jawab Abi singkat dan Nara hanya mangut mangut tanda mengerti.


Mereka duduk berdua di kursi makan sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa cemilan, mereka terlihat sangat akrab, mereka membicarakan banyak hal, hingga tidak terasa waktu sudah mulai larut, akhirnya Nara pamit untuk tidur terlebih dahulu, karena esok hari dia sudah mulai bekerja sebagai pelayan pribadi dari seorang Abidzar Rafendra.


Sebelum tidur Nara membaca doa terlebih dahulu, karena dia tidak ingin jika harus bermimpi buruk kembali, apalagi harus melihat wajah Kayla di dalam mimpinya lagi, rasa rasanya dia ingin sekali menyakar nyakar wajah sinis Kayla itu hingga tidak berbentuk lagi.


''Semoga esok hari lebih indah dari hari hari sebelumnya!'' ucap Nara sebelum dia memejamkan matanya, namun saat dia mulai memejamkan matanya, bayangan wajah Agam langsung memenuhi isi kepalanya, dia sungguh sangat merindukan suami tampannya itu, dia rindu akan senyuman manis suaminya itu, dia rindu akan celotehannya sebelum mereka beranjak tidur, dia sungguh merindukan semua yang ada pada diri suaminya itu, tak terasa air matanya langsung menetes tanpa permisi. Dia langsung buru buru untuk segera menyeka air matanya.

__ADS_1


''Aku merindukanmu, Gam!'' ucap Nara sambil memejamkan matanya kembali dan langsung tertidur dengan sangat nyenyak.


Pagi hari yang sangat cerah, semua pelayan yang baru datang langsung bersiap siap untuk melakukan tugasnya masing masing, Abi dan Nara yang baru selesai sarapan langsung pergi dari rumah mewah milik Abi untuk segera pergi menemui kliennya di suatu tempat, mereka bertemu di sebuah kafe untuk membicarakan suatu kerja sama antar perusahaan keduanya, Nara hanya menyimak pembicaraan mereka dan setelah itu mencatat beberapa poin di dalam note yang di bawanya, setelah selesai membicarakan bisnis, Abi mengajak Nara untuk kembali ke kantor, saat mereka berdua berjalan menuju parkiran, suara seseorang yang sangat familiar langsung membuat Nara menghentikan langkahnya seketika.


''Naraya...!'' panggil seseorang itu dan Nara langsung membalikkan badannya untuk melihatnya, dia terlonjak kaget saat melihat sang papa ada di belakangnya, Nara langsung menoleh ke arah Abi yang sejak tadi juga menatapnya,


''Kau mengenalnya?'' tanya Abi kemudian, dan Nara langsung menganggukkan kepalanya dan meminta izin untuk berbicara sebentar kepada pria paru baya tersebut.


''Baiklah, setelah selesai bicara dengannya kau bisa langsung kembali ke rumah, aku akan pergi ke kantor sekarang!'' ucap Abi sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat melihat pria paru baya tersebut, setelah mobil Abi pergi menjauh, Nara langsung berlari dan memeluk erat papanya tersebut, setelah puas memeluknya, Nara langsung mengajak sang papa untuk duduk di kursi taman pinggir kafe tersebut.


''Papa sangat merindukanmu, sayang!'' ujar papa Tama sambil mengelus rambut sang puteri, setelah itu langsung mencium pucuk kepalanya, mata Nara langsung berkaca kaca,


''Kenapa papa bisa tahu Nara ada di sini?'' tanya Nara penasaran sambil menyeka matanya yang mulai basah.


''Papa yang seharusnya bertanya, kenapa puteri kecil Papa bisa sampai di sini?'' tanya balik papa Tama, dan Nara hanya tertawa menanggapinya.


''Ayo, ceritakan semuanya kepada papa, apa yang sudah terjadi?'' tanya papa Tama lagi.


Nara akhirnya menceritakan semuanya kepada sang papa, Nara juga menceritakan apa yang sudah di lakukan Agam dan Kayla, air matanya terus mengalir deras, papa Tama langsung meraihnya ke dalam pelukan, dan menepuk nepuk pelan punggungnya untuk menenangkan puteri tercintanya itu.


''Maafkan Papa, sayang! Ini semua salah Papa, Papa kira setelah kamu menikah dengan lelaki pilihan Papa, kamu akan hidup bahagia, jika Papa tahu akan seperti ini jadinya, Papa pasti tidak akan menikahkanmu dengan pria brengsek itu, maafkan Papa, sayang!'' ucap Papa Tama sambil menangis, dia sungguh sangat menyesal karena sudah memberikan puteri kesayangannya kepada lelaki brengsrk seperti Agam Lawrenz.


''Sudah, Pa! Jangan terus menyalahkan diri Papa sendiri!'' ucap Nara sambil menyeka air mata sang papa.


''Sekarang, kamu pulang ya sayang sama papa?'' ajak sang papa kepadanya, namun Nara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


''Nara masih mau di sini, Pa! Nara akan tinggal di sini untuk sementara waktu!'' ujar Nara

__ADS_1


''Lagian Nara juga sudah terikat kontrak kerja dengan Abidzar! Nara tidak bisa membatalkannya begitu saja!'' lanjut Nara lagi


''Apakah Abidzar adalah pria yang bersamamu tadi?'' tanya papa Tama, dan Nara langsung mengangguk lagi.


''Papa tidak bisa membiarkanmu sendirian di negara orang, sayang!'' ucap papa Tama yang terus membujuk sang puteri untuk ikut pulang bersamanya ke Indonesia. Namun Nara tetap menolak ajakan sang papa, dia mengatakan bahwa dirinya baik baik saja di sini, akhirnya sang papa mengalah dan mengizinkannya untuk tinggal disini dengan satu syarat, yaitu menyiapkan beberapa Bodyguard untuk menjaganya di sini.


''Apakah itu tidak terlalu berlebihan, Pa?'' tanya Nara yang merasa tidak nyaman jika harus di awasi oleh para Bodyguard yang akan di tugaskan sang papa untuk menjaganya.


''Dijaga Bodyguard atau ikut papa pulang ke Indonesia sekarang?'' tanya papa Tama yang memberikan pilihan kepada Nara.


''Baiklah, tapi mereka harus menjaga Nara dari kejauhan, karena Nara tidak mau jika Abi sampai curiga dengan Nara!'' ucap Nara pada akhirnya dan papa Tama langsung mengangguk sambil tersenyum,


''Lalu bagaimana dengan Agam, sayang? Bagaimana jika dia bisa menemukanmu di sini? Kamu tahu kan, bahwa Agam itu bukanlah orang sembarangan?''


''Bukankah papa lebih hebat dari seorang Agam Lawrenz?'' tanya balik Nara sambil menaikkan sebelah alisnya.


Papa Tama langsung tersenyum menatap sang puteri. ''Baiklah, papa akan menutup semua akses tentang dirimu, supaya dia tidak bisa menemukanmu di manapun!'' kata sang papa dan Nara langsung tertawa sambil memeluk erat papanya kembali.


''Hubungi papa jika terjadi sesuatu padamu, my sweet heart!'' ucap Papa Tama sambil mengecup puncak kepalanya dengan cukup lama.


''Papa akan segera mengurus lelaki brengsek itu secepatnya!'' ucap papa Tama sebelum pergi dari hadapan sang puteri.


''Papa juga akan menghubungi mertuamu agar bisa ikut menjagamu juga di sini!'' lanjut Papa Tama lagi dan Nara langsung menganggukkan kepalanya.



Jangan lupa baca juga karya ke dua ku ya akak🙏

__ADS_1


__ADS_2